Terpanar aku pada sentuhan keramatmu

Mengheret aku mentafsir memori silammu

Dulu ku ragu apa terbungkam dibenakmu

Kini ku tahu apa yang terbuku di hatimu

 

Surut dedarku pada usapan manteramu

Tunduk ungkalku pada ketegasan dirimu

Terpasak semangat pada keyakinan tekadmu

Keakuranku pada tunjuk dan titah arahanmu

Hemm, tak asing ngedengerin lagu itu. Ya itu lagunya Inteam yang bertajuk “Sentuhanmu”. Sebuah pengingat akan jasa ayah yang luar biasa (Lha ibunya kapan? Nanti lah ada waktunya). But, kali ini aku ga akan bercerita masalah-masalah bagaimana berbakti atau yang lain. Lagu itu sekedar untuk mengawali saja.

Masa-Masa Sulit

To the point aja ya, waktu buka sore aku asyik mengobrol dengan kakek dari ibu dan ayahku. Bermula dari obrolan masalah adikku cewek yang sedang rewel gara-gara flu, akhirnya aku bertanya tentang perjalanan kakek yang dulu menjadi mantri kesehatan untuk menangani penyakit malaria didaerahku. Maka tak heran kalo beliau lebih dikenal dengan Pak Malaria dari pada Pak Harto Rakimin. Ha ha

Hemm, jadilah beliau bercerita tentang perjuangan beliau di masa lalu bagaimana mulai dari sekolah di sekolah rakyat, kemudian berjuang terus hingga akhirnya bekerja sebagai mantri keliling di kawasan kecamatan Ngawen. Beliau bercerita bagaimana di masa kecil serba terbatas dan hanya makan seadanya. Karena masa itu memang sedang “larang pangan”. Banyak yang terkena busung lapar.

Aku kemudian teringat pada cerita beliau sebelum itu tentang masa-masa sulit waktu akhir masa perang kemerdekaan hingga ulah PKI yang benar-benar mencengkeramkan kekuasaannya. Sehingga di daerahku sampai sekarang pemahaman Islam masyarakatnya masih cenderung rendah. Kalo sampai satu dusun ada yang sadar sholat 5 waktu aja, itu udah sesuatu banget. Dah bikin sujud syukur. Dan Alhamdulillah kakekku udah terbiasa melakukan shalat, meski belum berjamaah. Ya Allah, jagalah ia dalam kebaikan sampai nanti saatnya Kau panggil kembali.

Tak mau kalah, ayah kemudian juga bercerita tentang perjuangannya agar bisa sekolah hingga akhirnya menjadi guru seperti sekarang. Seorang dari 7 bersaudara yang hidup dalam keterbatasan ekonomi namun mendapatkan pendidikan hidup yang luar biasa. Jika beliau lebih memilih berhenti sekolah karena malu sering ditagih pembayaran SPP-nya mungkin hari ini aku tidak pernah menjumpai sosok beliau yang menjadi penyemangat hidupku hingga kini. Dan tentu ayah tidak akan mampu menyunting ibu, gadis tercantik di dusunku ketika itu. Beliau bercerita tentang bagaimana Biyung Atmo (nenekku dari ayah) mengajari ayah untuk bersabar dan tekun sekolah. Demikian juga Pak Tuwek (kakek dari ayah) yang dengan kreatifnya mengolah beras yang hanya secemung dikombinasi dengan berbagai umbi-umbian yang masih tersebar banyak waktu itu dan sayur2an yang enak dimakan sehingga terhidanglah makanan yang mengenyangkan untuk keluarga. (maklum karena biyung itu bakulan hasil pertanian, jadi yang pintar memasak justru pak Tuwek). Dan berbekal ketahanan itulah akhirnya aku begitu kagum dengan ayahku yang berjiwa pejuang dan menjadikan profesinya ini sebagai panggilan jiwa. Duhai ayah engkau menjadi inspirator hidupku. Dan mungkin syair lagu tadi sebaiknya ku selesaikan di sini

Oh ayah,

Tak pernah ku tanya

Kemana tumpahnya keringatmu

Oh ayah,

Tak pernah ku hitung

Berapa banyak kerutan di dahimu

Yang ku pinta hanyalah kemahuan hatiku

Yang sedaya ayah laksanakan

 

Kau pendorong bukanlah pendesak

apalagi memaksa diriku

Aku terlorong bukan terdesak

apalagi rasa terdera

 

Tak terkuis dugaan menduga

Apalagi takdir yang menerpa

Aku mengharap bukan menolak

Apalagi cuba melupa

 

Lestari kasihmu tanpa batasan

Sempadan waktu yang memisahkan

Abadi hingga ke hujung usia akhiran masa

Sentuhanmu amat bermakna..

Hikmah Hidup

Mungkin pembicaraan di atas hanya tentang sebuah pengisahan di masa lalu. Namun aku mendapatkan berbagai pelajaran berharga, di antaranya

Pertama, kesederhanaan hidup. Orang dulu ternyata justru tetap hidup meski dalam kondisi terbatas. Dan keterbatasan itu justru membuat orang lebih struggle dan tahan banting. Bahasa kerennya Adversity Quotient –nya bagus. Kedua, bahwa sebenarnya masyarakat kita ternyata telah terbiasa hidup dengan kesederhanaan, justru tatanan modern sekarang yang tidak disikapi dengan arif telah mengacaukan kedamaian ini. Berbagai faktor mulai dari gengsi sampai menjaga harga diri telah menggerogoti masyarakat sehingga tidak hanya melemahkan secara ekonomi tetapi juga merusak moral. Karena berbagai tindakan baru yang merusak justru muncul di tengah semangat menggapai kesejahteraan. Luar biasa mengerikan.

Dan di sini, aku ucapkan terima kasih kepada ayah dan kakekku yang telah menjadi guru kehidupanku selama ini. Dan tentunya ibuku yang begitu sayang padaku. Ibu, Ayah, Kakek, zamanku sekarang telah berbeda, namun ada hal yang tidak akan pernah berubah, yakni bagaiamana bertahan untuk berjuang. Jika dulu kesulitan ekonomi adalah permasalahan utama. Maka hari ini krisis idealisme adalah hal yang menjadi masalah mendasar sehingga generasi muda Indonesia mengalami degradasi kualitas. Pemahaman yang terdistorsi, keahlian yang terpragmatisasi, dan berbagai hal yang tidak bermanfaat bertebaran mengancam anak-anak negeri.

Dari sini, aku ingin berkata:

Lebih baik hidup susah seperti di zaman Soekarno, asal kekayaan alam kita tidak dicuri, uang negara kita tidak dikorupsi. Tetapi apalah gunanya merutuki itu semua, kekayaan kita telah dicuri dan mata kita pun terbelalak tahu itu semua, uang negara kita apalagi, habis dibagi rata di Senayan sana. Tapi mari kita sadar, bahwa rakyat kecil yang tinggal di desa ini lah yang sebenarnya lebih hebat dari penjahat-penjahat berdasi itu. Mereka masih tetap hidup sampai sekarang dalam syukur dan kedamaian kendati orang-orang kota sesekali datang mengusik dan membuat kekacauan. Selamatkan desa dan hidupkan tradisi desa kita. 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.