Eri-sudewoMembaca buku yang berisi kumpulan Esai Pak Erie Sudewo ini rasanya merinding, marah, dan ingin mengamuk. Realitas kemiskinan yang terus menerus menjadi tradisi tahunan bangsa Indonesia saat ini semakin kental jika dikaitkan dengan tulisan beliau yang sudah pernah bergema di Republika sejak awal tahun 1994 lalu.

Kumpulan Esai yang pernah diterbitkan di harian Republika ini, dipilih beberapa judul dan dikemas menjadi sebuah buku yang judulnya mengerikan, “Keresahan Pemulung Zakat”. Yah, menjadi amil zakat rasanya seperti menjadi pemulung di negeri yang mayoritas muslim seperti Indonesia ini.  Sebuah ironi yang sangat aneh bagaimana bisa zakat sangat tidak populer di tengah masyarakat yang katanya mayoritas muslim terbesar di dunia. Problematikan kemiskinan hari ini masih belum bisa dipecahkan (atau memang sengaja tidak ingin dipecahkan) oleh negara yang notabene adalah lembaga nirlaba raksasa yang bertugas menghidupi 200-an juta lebih masyarakat Indonesia.

Apalagi kemelut undang-undang zakat hari ini yang justru akan menyingkirkan peran lembaga-lembaga pengelola zakat professional seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan yang lainnya yang telah memiliki banyak kreatifitas dalam mengentaskan problematika kemiskinan, dengan diganti pada pengelolaan Baznas yang masih dipertanyakan profesionalitasnya. Haruskan undang-undang itu diberlakukan untuk kembali menambah ruang korupsi bagi uang-uang para muzakki yang telah percaya kepada para pengelola zakat professional itu?

Buku ini menjadi refleksi bagaimana kita juga harus memandang Indonesia dari sudut pandang masyarakat bawah. Sebuah jerit masyarakat yang harus hidup dalam payung negara tanpa visi. Negara yang gagal menjadikan rakyatnya sebagai penguasa atas tanah airnya sendiri. Sampai-sampai Erie membuat alinea penutup pada Esai “Negara Tanpa Visi” dengan kalimat, Indonesia adalah contoh paling baik dari negara yang paling tidak bisa dicontoh. Potret negara gagal, itulah negeri yang kita cintai ini.

Jika kita membaca buku tersebut dalam bayang pesimisme tentu buku itu akan menjadi mimpi buruk bagi kita. Namun jika buku itu kita baca dalam suasana hati yang tegar, kita tahu bahwa perjuangan ke depan masih panjang. Kita pasti akan berhadapan dengan berbagai kekuatan yang terus memporak-porandakan bangsa ini agar mereka dapat terus mengeruk kekayaan kita dengan menjadikan rakyat korbannya. Mereka semakin miskin, miskin dan lebih miskin lagi.

Kemiskinan kita hari ini sudah akut, khususnya kemiskinan para pejabatnya. Jiwa mereka miskin, kehormatan mereka miskin, bahkan mental mereka miskin. Korupsi dan berbagai kekacauan yang ada di negeri kita saat ini adalah buah dari kemiskinan kompleks itu. Dan satu kata saja, hari ini kita masih butuh orang-orang yang idealis dalam memandang hidup dan bertahan menghadapi berbagai tekanan di masa-masa sulit.

Buku ini, kata editornya adalah buku yang menjadi suara sang tonggak kukuh di barisan orang-orang kalah. Sebuah suara tegas nan mengerikan yang memanggil telinga-telinga yang masih peka untuk mendengar dan melihat potret kemiskinan negeri ini. Kemiskinan yang tersistem menjadi pemiskinan jangka panjang. Sebuah mimpi buruk anak-anak negeri yang dipasung dalam bayang-bayang keterbelakangan dan penindasan pola pikir.

Jika Anda siap untuk membaca, segera hadirkan diri Anda dalam perjuangan ini. Buku tersebut sudah tidak dicetak lagi, dan mungkin dilarang diedarkan oleh pemerintah, karena dosisnya sangat tinggi. Tapi itu buku yang jujur untuk membedah isi negeri kita yang hari ini tertutupi dengan manisnya pencitraan politik yang busuk dan memuakkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.