Hari ini alhamdulillah dapat kesempatan untuk membersamai para pembicara dalam seminar nasional yang digelar oleh adik-adik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UNS dan IMAKIPSI. Seminar yang mengetengahkan soal pendidikan karakter ini menghadirkan pembicara Dekan FKIP sekaligus pakar pendidikan karakter, Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd, Budayawan Solo Gusti Dipo, dan Wadan Korem esk-Karesidenan Surakarta, Sukamdi.

Pemaparan dimulai tentang wawasan pendidikan karakter oleh Prof. Furqon. Banyak hal-hal yang beliau ungkap, terutama sebuah harapan perbaikan untuk pendidikan. Terlebih dengan hadirnya kurikulum 2013 diharapkan menjadi peluang para guru untuk lebih mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik. Yang lebih menekankan pada pembentukan sikap ketimbang kognitif semata. Menarik dan menurutku ini yang paling inspiratif.

Berikutnya adalah pandangan budayawan terkait peran sejarah dan budaya dalam mendukung pendidikan berkarakter. Beliau lebih menekankan hal-hal yang sifatnya nilai-nilai kesejarahan untuk diangkat dalam rangka menumbuhkan karakter para siswa dalam rangka menemukan jati dirinya. Dan paparan berikutnya adalah pandangan nasionalisme yang disampaikan oleh perwakilan tentara dalam melengkapi model pendidikan karakter.

Para peserta terutama perwakilan IMAKIPSI dari berbagai penjuru tanah air pun tampak begitu antusias mengikuti materi dari pembicara. Hal itu terlihat banyaknya yang mengangkat tangan ketika diminta bertanya. Namun karena waktu yang terbatas kupersilakan tiga mahasiswa masing-masing dari Lombok, Kalimatan, dan Aceh. Dengan gaya khas aktivis mahasiswa tentu saja mereka mulai dengan retorika dan berujung pada pertanyaan. Cukup kritis dan membuat para pembicara harus memberikan jawaban yang cukup panjang. Alhamdulillah seminar pun berjalan lancar.

Ada satu quote yang mengakhiri seminar yang dihadiri para aktivis BEM Kampus Pendidikan itu. Memperluas makna advokasi hari ini menjadi penting. Karena banyaknya perusahaan asing atau swasta yang menancapkan kukunya di Indonesia, tentu demo sekeras apa pun tak mampu membuat mereka pergi. Tetapi kita masih bisa menuntut mereka berbagi untuk negeri ini. Maka inilah tugas para mahasiswa untuk memperlebar sayap pendidikan seperti yang telah digagas oleh Pak Anies Baswedan lewat Indonesia mengajarnya, Dompet Dhuafa melalui pendampingan sekolah beranda dan lembaga lainnya yang telah lebih dulu memulai. Sanggupkah mahasiswa melakukan advokasi kreatif ini sehingga perusahaan-perusahaan tersebut mau mengucurkan uangnya untuk mendanai program bakti mahasiswa ke depan?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.