oleh Harry Hassan Santosa

“Masya Allah, ya tentu saja kita tidak boleh membenci negara sayaang”, saya menenangkan emosi anak perempuan saya yang berusia 12 tahun itu.

Sambil membereskan tas travel, saya melanjutkan, “Hanya saja, para pengambil kebijakan di negara ini masih berfikir untuk meniru negara lain, bukan mensyukuri kehebatan yang Indonesia miliki. Itulah mengapa persekolahan diseragamkan demi ambisi menjadi seperti negara lain”.

“Bayangkan bila kamu, kakak dan adik diseragamkan, ga mau kan?, saya menatapnya dengan sepenuh rasa sayang seorang ayah. “Coba ingat, selera makan, selera pakaian, gaya belajar kamu saja beda dengan yang lain. Bahkan dalam bidang yang sama sekalipun, misalnya menari”.

Tiba-tiba adiknya, perempuan berusia 10 tahun, nimbrung,”Iya. kakak itu kalau merancang tarian, bikin gerakan atau koreo (maksudnya koreografi) bagus banget. Tapi kalau detil gerakan aku lebih bagus ya Bi hehehe..”.

“Iya hahaha…., nah kalau sudah “kenal diri”, kemudian apa…?”, kataku.

Mereka serempak berseru,”Tahu diriiiiiii…”. sambil tertawa tergelak-gelak.

Tentang “tahu diri” itu, mengapa mereka tergelak2, ada ceritanya. Suatu saat saya akan ceritakan InsyaAllah. Saya melanjutkan diskusi, “Nah, begitupula negara, tidak boleh menyeragamkan sistem persekolahannya, baik kepada individu maupun kepada desa-desa. Masing-masing punya keunikan dan itu mesti disyukuri dan dihebatkan secara shabar agar memberi keberkahan dan Allah tambah nikmatnya”.

“Abi pernah cerita kan tentang anak nelayan. Kasihan mereka, kalau melaut tidak bisa bersekolah, kalau bersekolah tidak bisa melaut. Kenapa melaut tidak menjadi kurikulum anak nelayan saja. Teramat banyak yang bisa dipelajari di laut. Belajar budidaya ikan, menangkap ikan, perbintangan dan navigasi, membuat kapal, konservasi pantai dan hutan mangrove, energi terbarukan dari gelombag, ganggang dsbnya.”

Anak yang besar bertanya penasaran, “Guru2nya siapa Bi?”

“Lho, ya seperti kalian. Belajar kan bisa sama siapa saja, yang penting memiliki keteladanan, bukan hanya teori. Bukankah kalian selama ini juga begitu, belajar sama siapa saja?”

“Heee… iya ya… Aku juga lebih nyaman belajar dan bertanya sama temen-temen aku yang sudah mahasiswa”, anakku membenarkan.

Saya melanjutkan, “Jadi sederhana saja, guru-gurunya bisa nelayan teladan, pengusaha perikanan dan kelautan teladan dsbnya. Dulu Nabi Muhammad saw belajar dagang dengan cara magang bersama pamannya, ga tanggung2, magangnya ke Syams, sekaranga Syiria”

“Waaaahhh enak bener ya, belajarnya ke LN. Mauuuu dong…”, kata mereka bersahut2an.

Saya bilang, “Ya InsyaAllah kalau kalian menikah segera di usia 17 tahun, Abi izinkan ke LN bersama suami”

Mereka serentak protes,”Whooooooo….., masih kecil kali Abi!!!” Saya bilang, “Lhoo..Bener kaan? ke LN itu kan harus sama muhrim kalau perempuan. A’a Azzam, kan laki2 jadi boleh kuliah ke LN sendiri”. Lalu kita tertawa bersama.

“Terus Bi, anak nelayan itu sebenarnya enak banget juga ya. Belajarnya kan di pantai, kita aja jarang2 belajar ke pantai ya?”, tanya seorang dari mereka.

“Hehehe..bener bangeet, tapi ga cuma di pantai, belajarnya bisa di atas kapal di tengah laut, di pasar ikan, di masjid, di hutan Bakau, bahkan di dalam air dsbnya. Pemerintah tidak perlu repot2, hanya memfasilitasi saja apa yang perlu dibantu, misalnya pakar perikanan dan kelautan, teknologi tepat guna yang mendukung dstnya”, jelas saya.

“Keren banget tuh. Kalau belajar disini (di Jakarta) aja sih Kudet!”, kata anakku yang besar.

“Kudet? Apan tuh?”, saya bingung. “Kuraaaang update!”, mereka tertawa. “Abi tuh contohnya. hahaha…”. Saya juga ikut tertawa.

Saya melanjutkan,”Imajinasikan deh, sekarang kampung2 dan desa2 nelayan menjadi sepi dengan kemiskinan yang melilit. Nelayan terjerat hutang solar dan batu es. Ada juga yang kapalnya pinjaman. Padahal kan laut kita luas, kebutuhan akan ikan juga besar. Banyak pedagang, pengusaha bahkan birokrat lebih senang impor daripada memberdayakan nelayan”

“Coba ingat-ingat deh, sejak Indonesia merdeka, mana ada Kota baru tumbuh dari desa nelayan? Tidak ada kan? Pantai dan laut Indonesia yang luas, kan tidak selalu harus dijaga dengan kapal perang, tetapi nelayan dan desa2 nelayan yang sejahtera adalah bentuk perlindungan dan pertahanan terbaik”.

Anak-anak saya nampak serius mendengarkan. Wajah mereka nampak ingin menanyakan banyak hal. Saya hentikan sebentar agar mereka bisa mencerna. “Nah sekarang kira-kira apa ide solusinya?”

Mereka berebut mengajukan solusi. Ada ide untuk mengganti presidennya. Ada ide memindahkan istana presiden ke desa nelayan agar pesidennya cinta sama laut. Ada ide melarang impor. Ada ide mengirim mahasiswa sebanyak-banyak ke negara yang sukses kelautannya dsbnya. Saya bilang semua idea baik, namun saya mencoba menanamkan ke mereka bahwa perubahan itu tidak serta merta, memerlukan jalan dan cara yang benar serta mengakar.

“Kalian pernah membaca perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW kan? Coba ingat-ingat, apa yang Rasulullah SAW lakukan untuk membangun peradaban Islam di masyarakat Arab Jahiliyah hingga bisa ke seluruh dunia?”, pancing saya.

Anak saya menjawab, “Ngajiii kan Bi?”.

“Alhamdulillah anak Abi hebat. “Ngajii” itu maksudnya, adalah memperbaiki mentalitas dan cara berfikir bangsa Arab ketika itu. Panduannya alQur’an. Tidak hanya itu, Nabi juga memberi keteladanan bahkan sebelum menjadi Nabi, sehingga diberi gelar, ….hmm apa ayo?”

“Al Amin kan? Itu mah tahu aku Abi”, jawab seorang dari anakku.

“Nah itu artinya, kalau bangsa mau hebat maka manusianya harus hebat. “Ngaji” itu artinya memberi pendidikan yang terbaik bagi manusianya. Guru-gurunya bukan sekedar mengajar, namun menjadi keteladanan dalam akhlak dan bakat tertentu”

“Coba bayangkan, anggaran pendidikan nasional mencapai 400Triliun, hanya memicu peningkatan urbanisasi dan pengangguran, sementara penyeragaman kurikulum itu sebenarnya melemahkan potensi individu dan potensi keunggulan desa. Belum lagi banyak kearifan2 dan tradisi yang baik menjadi hilang. Bukankah setiap makhluk baik bernama manusia, alam, desa, bangsa dll masing-masing ada tugas penciptaannya kan?”.

Saya meneruskan, “Jadi baik level desa, maupun level individu, masing-masing memerlukan pendidikan yang bisa menghebatkan karunia unik yang Allah berikan. Banyak yang tidak nyambung kuliah dengan profesinya. Misalnya secara individu, jangankan pak Sopir, abi juga termasuk korban persekolahan. Kalian tahu kan, cita2 abi apa?” Mereka menjawab, “Ahli sejarah yang menjelajahi dan meneliti situs-situs purbakala”.

Saya bertanya, “Benerr banget, trus sekarang jadinya apa?”.

“Ahli IT”, sahut mereka.

“Nah, ga nyambungkan?. Bisa aja sih disambung2in agar nyambung, tapi intinya tidak nyambung”, tegas saya sambil tersenyum.

Mereka bertanya, “Memang Abi nyaman begitu? Ga pengen mewujudkan cita2 Abi yang dulu?”.

Saya terharu, menatap mereka dengan bangga dan sayang yang mendalam, “Sayaaang, sekarang masa hidup Abi untuk menemani kalian menemukan jatidiri kalian, agar kalian tumbuh menjadi bunga2 yang indah merekah sesuai keunikan warnanya. Agar kalian bisa memberi manfaat sebesar-besarnya pada bangsa ini dan juga dunia. Tentang cita-cita Abi, biarlah menjadi masa lalu, toh Abi masih bisa membaca buku-buku sejarah kan? Abi tidak mau kasus seperti pak Sopir dan Abi juga menimpa anak-anak Indonesia”

bersambung 

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.