Sudah dua periode ini aku masih mendapatkan kepercayaan untuk membersamai siswa-siswa pilihan di sebuah SMP Islam untuk belajar tentang matematika. Yip, mereka tidak belajar matematika seperti biasanya, apalagi sekedar les tambahan materi. Mereka mengasah logika mereka untuk memecahkan soal-soal olimpiade matematika.

Menjadi fasilitator (bukan pembina) di persiapan olimpiade matematika selalu memberikan sensasi tersendiri buatku. Sejak awal aku menekuni dunia fasilitasi belajar ini, aku adalah orang yang terbiasa bilang tidak tahu dan tidak bisa jika memang tidak ketemu jawabannya. Sejak awal aku blak-blakan saat membimbing belajar fisika dan matematika lalu mendapati soal yang sulit. Saat tidak bisa aku dengan enteng bilang, hari ini aku belum bisa menyelesaikannya. Semoga dikesempatan berikutnya sudah kutemukan jawabannya.

Dalam belajar matematika, hal yang kutangkap dari pengalaman pribadi adalah teknik berpikir yang efisien. Bagaimana tidak? Matematika itu adalah ilmu logika yang mengharuskan kita untuk melatih kemampuan pemodelan sebagai bentuk keren dari logika. Ketika logika yang dibangun kompleks, maka kita harus memodelkan suatu masalah untuk dipecahkan berdasarkan logika yang dipahami.

Jadi salah besar jika banyak orang yang mengatakan bahwa matematika itu ilmu hitung, apalagi ilmu pasti. Hitungan memang bagian dari matematika, tapi naif sekali jika belajar matematika hanya untuk menghitung. Apakah jawabannya pasti, tidak juga, tergantung kesepakatan yang dibuat dalam membangun logika. Karena kita sudah terbiasa pusing di level hitung menghitung, maka jangankan bicara kesepakatannya, logikanya aja buntu dan tidak jalan. Nah inilah masalahnya.

Maka tidak heran kalau sekelas profesor di perguruan tinggi negeri pun tidak malu untuk menggunakan dana penelitiannya secara tidak proporsional demi kantong pribadinya. Apakah dia bodoh? Aku ga berani bilang iya, wong gelarnya profesor. Tapi apakah logikanya jalan? Aku juga ga berani bilang iya, wong gelarnya profesor. Tapi jika ditinjau dari ilmu matematika, profesor ini mengalami masalah yang akut dalam soal logika. Karena secara anggaran, penggunaan uangnya tidak begitu logikanya.

Maka dalam memecahkan masalah matematika, seharusnya siswa itu mengedepankan logika pemecahannya, bukan proseduralnya. Karena prosedur bisa diatur setelah logika pemecahannya ketemu. Nah inilah titik dimana efisiensi berpikir didapatkan. Sayangnya hari ini, anak-anak diseragamkan cara mengerjakan soal matematika dan fisikanya. Diket, ditanya, dijawab, kata siapa suruh begitu? Dan itu jawaban paling tidak mencerminkan suasana hati seorang siswa, sekaligus tidak bisa menjelaskan alur berpikir seorang siswa dalam mengerjakan soal.

Giliran mereka diminta menjawab soal dengan gaya bebas, mereka kelimpungan menggunakan cara apa. Waduh, padahal dasar-dasar matematika yang mereka pelajari sejak SD itulah yang menjadi alat-alat yang dapat mereka gunakan. Maka saat pemecahan soal-soal olimpiade matematika, masih banyak yang gagal menggunakan alat-alat sederhana itu untuk memecahkan soal-soal yang terlihat rumit. Mereka buru-buru menggunakan teori-teori keren yang sulit dipahami.

Di tahun kedua pembinaan ini akhirnya aku mulai menemukan metode pembinaan yang lebih tepat. Soal-soal olimpiade matematika SMP mayoritas cara-caranya masih bisa dipecahkan dengan teori-teori dasar anak SD dan SMP, jadi tidak perlu dibawa ke ranah yang lebih tinggi. Siapa bilang itu materinya anak SMA dan S1.
Asal mereka dibiasakan membuat logika pemecahannya maka mereka pasti akan mampu mengembangkan pemahaman mereka. Bahkan suatu ketika mereka bisa membuat teori matematika sendiri. Karena matematika berangkat pada suatu logika dan kesepakatan, jika dasar logika dan kesepakatannya sama maka cara baru pun akan menghasilkan jawaban sama dengan cara-cara konvensional yang diajarkan di kelas.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.