Solutif & Kontributif

Ada yang berpendapat bahwa mengajak diskusi anak SMP untuk sadar masalah lingkungan dan ekonomi sejak dini itu terlalu tinggi. Mungkin iya jika bahasannya pake terminologi anak kuliahan. Lha kalo yang dibicarakan adalah kebiasaan buang sampah yang sembarangan itu masak ya dianggap terlalu tinggi.

Selama ini kita hanya protes soal kebiasaan membuang sampah sembarangan itu, tetapi jarang dan hampir tidak pernah membicarakan bagaimana cara-cara mengelola sampah yang ada disekitar kita. Akan beda ceritanya ketika siswa-siswa mulai sadar tentang masalah ini lalu secara konsen mereka mulai membuat ulah kecil untuk memperbaiki keadaan. Apakah menumbuhkan hal ini gampang? Jawabannya, nggak, bahkan bisa jadi sulit. Tapi kita tidak boleh menyerah, karena harapan untuk terjadi itu ada. Ya, harapan itu masih ada.

Begitu juga soal pembiasaan sehari-hari dalam hal penggunaan energi listrik, penggunaan kendaraan bermotor, soal makanan lokal, dan sebagainya. Hampir sekolah hari ini tidak banyak menjadikan itu sebagai bahasan yang mainstream, apalagi sampai ke level pembiasaan. Alasannya simpel, karena itu tidak ada di buku pelajaran dan tidak keluar di soal ujian nasional.

Padahal boleh jadi pemerintah kita terpaksa impor beras, bukan karena produksi beras menurun. Tetapi karena permintaan beras di negeri kita meningkat drastis. Permintaan beras yang meningkat drastis ini juga bukan semata-mata karena penduduk yang beranak cepat, tetapi karena masyarakat mulai meninggalkan makanan pokoknya karena menganggap mereka akan berkategori masyarakat miskin jika tidak mampu memakan beras.

Dimanakah pengertian ini ditanamkan, boleh jadi sekolah justru merusak kearifan yang ada. Maka aku mencoba hal-hal sederhana di kelas itu untuk mengenalkan hal-hal yang mungkin dipandang antimainstream. Keberhasilannya sekali lagi ditentukan seberapa tersentuhnya adik-adik lalu berkonsentrasi untuk menjadi bagian dari solusi masalah itu. Jika ternyata aktivitas lainnya lebih mengalihkan mereka untuk memilih jalur formal yang mainstream, maka aku tidak bisa menyalahkan, karena aku dulu juga begitu.

Kukira manfaat terbesarku sekolah hingga kuliah saat ini adalah bahwa aku sadar aku berada dalam sebuah sistem yang berbahaya. Sistem pendidikan kapitalistik yang membuat bangsa ini menjadi orang lain di tanahnya sendiri. Hal itu benar-benar kurasakan saat kuliah teori-teori tentang pendidikan, sedikit sekali yang mengupas teori pendidikannya Ki Hajar Dewantara atau pendidikan-pendidikan pesantren Islam yang bisa menghadirkan para pejuang dalam menghadapi penjajah.

Yang kita baca sampai kental justru teori-teori barat yang secara tidak langsung mengarahkan kita untuk membangun kurikulum pendidikan yang kapitalistik itu. Salah siapa? Salah kita yang mau-maunya mengambil teori itu. Bahkan mereka saja sekarang muak dan mulai mencoba konsep-konsep pendidikan Islam yang terbukti membawa kemajuan peradaban hinggga berabad-abad lamanya. Kita masih bercokol dalam kemalasan, perdebatan, dan seabreg alasan yang tidak bermutu lainnya. Aku katakan, itu masalahmu, dan aku malas berdiskusi tentang hal itu.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.