oleh Harry Hassan Santosa

Saya biarkan beberapa saat pak Sopir yang matanya nampak sedang menerawang mengenang masa lalunya.

“Yaa itulah pak, kami berusaha memperbaiki nasib dengan kuliah di kota”, kenang pak Sopir, dengan suara agak parau. Saya bergumam,”…hmmm lalu?”.

“Saya dan kawan-kawan di desa, merasa bisa lebih sejahtera jika bisa sekolah setinggi-tingginya. Bukankah begitu Pak?”, pak Sopir kelihatan ragu dengan pernyataannya sendiri.

Saya jawab dengan balik bertanya,”Ya memang begitu doktrinnya di masyarakat kan?” “Memang pak Sopir hidup susah di kampung sampai ingin ke kota segala?”. Pak Sopir kembali menerawang seperti dukun yang diminta ramalan. Wajahnya dilihat2 memang terpelajar, hanya beban hidup nampaknya membuat banyak kerut dan lusuh.

“Ya engga sih Pak, orangtua saya punya sawah cukup luas, bahkan uwak saya punya penggilingan padi. Orang kampung ga pernah mikir mau makan apa besok, ayam dan bebek tinggal “motong”, cabe bawang, singkong, sayuran tinggal nyabut, mau buahan asal kuat naiknya aja, tinggal metik”

Nah curhatnya kambuh lagi nih pak Sopir, dia mulai berceloteh, “Kalau di Jakarta, wah, tanah aje mahal ga kebeli. Tiap bulan mikir bayar kontrakan. Mau makan bergizi mahal, makan murah banyak racunnya. Belum ongkos transpor anak-anak sekolah, belum sangunya. Sekolah gratis bohong aje, sumbangan ini itu. Sopir taksi aja kalau sakit, terpaksa ngedarin sumbangan…”

“Hahahaha…”, saya tertawa spontan, sudah dari tadi ditahan-tahan. Saya tertawa krn pak sopir kalau sudah curhat, seperti mitraliur, dan saya tertawa krn istilah2nya yg lugas)

“Ya Allah, Maaf ya pak, saya bukan menertawakan bapak lho, tetapi saya heran dan lucu saja, kenapa banyak pemuda desa mau-maunya hidup berebut nafkah di kota besar yang semakin sempit, mengais-ngais nafkah yang semakin sedikit dan murah. Padahal di desa kan bisa lebih sejahtera. Kok ga pulang kampung Pak?

Pak Sopir segera menyahut, “Itu desa jaman dulu Pak, desa jaman sekarang mah susah. Petani terjerat hutang. Pemuda desa banyak jadi pemabuk, judi dll. Saya kan bilang tadi, kalo di kampung ga ada yang bisa kita kerjain”

Saya menimpali,”Kenapa demikian? Menurut saya, itu karena para pemudanya urban. Ilusi kemakmuran yang dijanjikan persekolahan. Andai dahulu PakSopir dan para pemuda desa fokus belajar tentang pertanian dan perkebunan, sekarang mungkin berbeda ceritanya dan lebih sejahtera. Kalau bakatnya jurnalis, ya jadilah jurnalis pertanian dsbnya”

“Persekolahan kita telah mencerabut para pemuda desa dari akar sosial budaya dan masyarakatnya juga potensi dirinya. Akhirnya yang terjadi adalah urbanisasi besar2an ke kota, kota jadi “crowded” melampaui daya dukung alamnya, banjir sama macet itu hadiah langsungnya. Desa-desa makin merana”

Pak Sopir manggut-manggut,”Iya bener tuh pak, baru sadar saya. Jadi itu ilusi ya. Kemaren saya pulang, saya lihat juga pesantren dan masjid jadi sepi. Santrinya santri kalong, yg ngajinya malem doang. Persawahan dan perkebunan sudah banyak yang dibeli orang kota. Petani, warga desa, malah jadi kuli dan buruh tani di tanah leluhurnya”

Tiba-tiba kami melintasi sebuah baliho besar, terpampang wajah seorang Caleg. Pak Sopir merespon baliho itu, “Nah tuh poto gede2 gitu, berarti tuh orang ga paham komunikasi. Makin banyak dan gede spanduknya, berarti dia kan kagak dikenal rakyat. Kagak dikenal mau jadi pemimpin! Saya ngerti teori komunikasi, karena dulu kan pernah bareng kuliah jurnalistik sama Kick Andy, dia dulu kribo abies, kuliahnya ga kelar2 tuh orang. Emang jaman itu kagak ada sistem SKS, jadi kuliah bisa sampe tua. Beda nasib aja nih sama si Andy hehehe..”

“Wah pak Sopir naluri jurnalisnya masih ada nih”, saya mengomentari. Pak Sopir tertawa bangga. Saya lanjut mengomentari,”Pemimpin itu memang sejatinya dikenal, bahkan hidup bahu membahu bersama masyarakat yg dipimpinnya itu. Di desa2, pemimpin ini biasanya seorang ulama atau guru, yang juga memimpin pesantren. Pendidikan seharusnya melahirkan pemimpin2 baru yg mampu membangun desanya dan menjaga kearifan2nya, bukan meninggalkan dan menelantarkannya. Sekarang jadinya sama2 merana, desanya merana, pemudanya di kota juga merana”.

“Saya jadi sedih nih Pak”, wajahnya pak Sopir berubah mendung.

Saya bilang, “sama Pak, ini keprihatinan kita bersama, tetapi sekarang kita fokus pada masa depan anak2 kita saja, siapa tahu kelak mereka bisa mengembalikan kesejahteraan warga desa.”

Saya lanjutkan serangan pemikiran saya,

“Belajar dari si “Andy” teman Bapak itu, walau kuliahnya ga hebat, dia bisa fokus menghebatkan potensi jurnalisnya dengan “magang” kan?”

“Anak pak Sopir yang di SMK kerjanya “magang” kan? Cuma sayangnya magangnya cuma utk memenuhi target belajar saja” Rasulullah saw juga “magang” dagang sama pamannya.

Saya bilang, “Jadi kalau biaya sekolah berat dan hasilnya “ga ada”, ya keluarkan saja dari sekolah buat magang sama orang hebat”

Pak Sopir, terkejut.,”Haaah dikeluarin?”

bersambung …

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.