Sadar Masalah

Tulisan hari ini adalah refleksi dari perjalanan kegiatan Science Club. Hal mendasar yang membuatku harus terus memutar otak adalah membangun kesadaran siswa akan sebuah masalah. Karena pendidikan hari ini cenderung membuat siswa meminiaturkan masalah, artinya mereka melihat masalah bukan karena itu masalah, tetapi karena buku yang mereka baca mengatakan itu masalah maka mereka baru mengatakan itu masalah.

Maka dalam bahasa yang gambling mereka hampir tidak bisa mengenal bahwa apa yang sebenarnya di sekitarnya itu sebuah masalah dianggap bukan masalah karena buku tidak mengatakan demikian, dan pembelajaran di kelas sama sekali menganggap sepi hal itu. Cukuplah aku mengelus dada di sebuah kelas lain, di luar Science Club ketika ada siswa yang bertanya seperti apa Spritus itu?

What, lha ini masalah berat Saudara-saudara, bagaimana dia bisa mengerti pelajaran tentang Kalor atau yang berhubungan dengan zat cair yang khas itu jika bentuknya saja tidak tahu. Bentuknya tidak tahu, boleh jadi pernah megang tapi tidak tahu itu namanya spritus. Ini tidak masalah. Tapi akan jadi masalah besar jika mereka memang tidak pernah tahu benda lab itu karena di rumah pun mereka adalah sosok tuan besar yang tidak pernah dikenalkan dengan kenyataan.

Maka di kesempatan terbatas sepekan sekali di aktivitas Science Club ini aku tidak begitu terobsesi untuk membuat hal-hal yang enggak-enggak. Apalagi katanya hal-hal yang wah. Tidak, aku emoh melakukan hal-hal konyol macam itu. Aku lebih ingin fokus membangun daya kritis siswa sehingga mereka sadar masalah di sekitarnya. Mengerti bahwa apa yang mereka jumpai dengan mata dan dikenali dengan kecerdasan mereka adalah sebuah masalah.

Sains itu hadir untuk menjadi solusi, bukan menjadi properti ilmu yang dipamerkan karena nilainya 10 atau lolos dan juara Olimpiade Sains. Buat apa. toh medali ga enak dimakan. Akan lebih bagus jika status penyandang medali adalah hal yang menandai bahwa orang itu berhasil membuat karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Hari, sadar masalah bagi anak sekolah itu mahal. Buktinya adik-adik kutugasi membuat tugas sendiri justru banyak yang merasa kesulitan ketimbang diberi tugas yang seragam. Ah, ini pola pikir yang sudah konsumtif.

Daya kritis siswa-siswa negeri ini mulai bermasalah. Mereka berada dalam penjajahan yang dahsyat. Mulai dari tekanan penampilan guru yang seram, ancaman nilai jelek, hingga ketidakbergunaan atas pemikiran berbeda mereka di mata umum masyarakat yang gampang merendahkan dan mengintimidasi. Jika sudah demikian, maka tak jarang anak yang sebenarnya sangat kreatif pun akan tumbang dimakan arus pragmatisme ketika mereka telah terdesak dalam perangkap penjajahan mengerikan yang bernama sekolah itu.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.