oleh Harry Hassan Santosa

Saya bilang begini pada sopir taksi yang curhat mengeluhkan beratnya biaya menyekolahkan ketiga anaknya di SMA, SMK dan SD, “Anak saya tidak ada yang sekolah Pak!”

“Haah..?”, “Ah Bapak bercanda”, wajah lugunya nampak semakin lucu, dengan mata setengah melotot dan mulut terbuka.

Saya duduk di depan, di sebelah pak Sopir, di jok belakang ada dua orang anak saya, pulang latihan menari. Pak Sopir menoleh ke belakang, menatap dua orang anak saya, lalu saya paham, dia seolah ingin meminta penjelasan. Saya bilang begini, “Tanya saja sama anak saya, inikan jam 3 siang, mereka sejak pagi belajar menari dan tidak bersekolah”.

Saya berusaha menahan tertawa melihat wajah pak sopir yang makin parah bingungnya. Saya hampir-hampir tidak bisa menahan tertawa, tetapi saya berusaha menahan, saya tidak ingin pak Sopir merasa ditertawakan.

Saya bilang,”Pak Sopir, kenapa heran dan bingung?” “Bukankah belajar tidak harus di sekolah, bisa dimana saja, kapan saja dan sama siapa saja?”

“Iii..iiiyyaaa siih, tapi gimana masa depannya kalau ga sekolah?” Pak Sopir mulai berusaha mengendalikan kepanikannya. Bagaimana tidak panik, dia banting tulang “nyupir” siang malam hanya untuk membiayai anaknya sekolah, eh ternyata orang di depannya malah anaknya tidak bersekolah.

Saya balik bertanya, “Apa bapak yakin, ijasah anak bapak bisa menjamin masa depan?” “Bukankah sekarang terjadi inflasi sarjana dan pengangguran terus meningkat?”

Pak Sopir itu tercenung sesaat. Saya tidak ingin membuatnya tertekan lebih jauh, tetapi saya katakan,”Anak-anak saya tetap mengambil ijasah Paket kok Pak”. Saya lalu menjelaskan satu persatu tentang paket A, B dan C. Jadi, “Saya tidak perlu beli seragam, beli sepatu, beli buku, langganan katering, antar jemput sekolah, khawatir anak saya di “bully”, di pelonco saat opspek, terlibat tawuran, stress mengerjakan sesuatu yg bukan minatnya, dll.

Saya bilang, “Kalau cuma mau ijasah, mudah, semua pelajaran di sekolah ada di internet. Pak, anak2 kalau dibebaskan belajar dan ditunjukkan hal-hal yang seru pasti bisa dan asyik belajar sendiri. Jangan sampe deh mereka hanya belajar kalau mau ada Ujian atau Ulangan, begitu juga membaca buku, hanya kalau disuruh Guru. Itu berarti pendidikan gagal membangun tradisi belajar dan sikap ilmiah”

“Nah, kalau dirasa kurang ikutkan bimbel saja menjelang ujian. Guru-guru bimbel (maaf) umumnya lebih hebat dari guru sekolah untuk urusan akademis. Buktinya hampir 90% anak2 sekolah favorit pasti ikut bimbel, apalagi yang tidak favorit. Saya juga bingung, gurunya ngapain aja kerjanya”

“Nah Pak Sopir, jadi saya bukan menolak persekolahan, tetapi kalau persekolahan cuma berujung Ujian dan ijasah saja, apalagi mematikan potensi bakat dan tradisi belajar, lalu anak-anak kita berkeliling menjajakan diri berupa selembar ijasah untuk bekerja mengais-ngais upah, tidak mengembangkan potensi uniknya, tidak terbimbing akhlaknya maka saya tidak mau demikian”

Pak Sopir,”Bener juga, saya seumur-umur baru denger yang beginian”.

Saya tanya, “Lha Bapak katanya berijasah D3 jurnalistik, malah jadi Sopir, itu bagaimana ceritanya?” “Nyopir itu hobby atau “nyasar?”

Pak Sopir tertawa terkekeh-kekeh. Saya katakan jangan minder pak, yang tamatan Institut Pertanian saja banyak yang “nyasar”, jadi Bankers, jadi Sales Mobil dan Asuransi dsbnya. Pak Sopir kembali tertawa lega, barangkali merasa ada temennya hehehe.

“Jadi Pak, yang penting anak kita fokus dan enjoy mengembangkan potensi dirinya dan memiliki keahlian yang mendukung potensinya itu. Yang kedua akhlak yang baik dan tentunya jaringan pertemanan. Nah selesai tanggungjawab kita sebagai orangtua”, saya menyimpulkan diskusi dan disambut pak Sopir dengan frasenya Upin Ipin “betul betul betul betul”.

Saya memulai kembali serangan pemikiran berikutnya, “Nah sekarang Pak Sopir perhatikan, Jakarta makin sempit kan?”

Pak Sopir kambuh lagi semangat curhatnya, “Iyak, bener. Parah banget macetnya. Udah gitu armadanya tambah banyak. Ga berani kita ngiter-ngiter cari penumpang, mending nongkrong di parkiran Mall atau Hotel, sekalian ngirit BBM. Dulu jadi sopir tahun 80an bisa pergi haji, sekarang mah boro-boro”

Saya menyambung,”Orangtua di kampung Pak?” “Masih punya tanah?”

Pak Sopir lagi-lagi kambuh curhatnya,”Nah itu dia, orangtua sih masih ada di kampung, tanah juga lumayan berapa petak sih ada. Cuma di kampung tidak ada yang bisa dikerjain. Belum lama saya pulang selama 2 minggu ke kampung, itu asli “bengong”, kagak ada kerjaan dan kagak ada duit.”

Saya menimpali dengan semangat, pancingan saya mengena,”Lha jadi dulu Pak Sopir kuliah di Jakarta, tahun 70an buat apa?”

“Ya buat perbaikan nasib. Orangtua saya sampai jual-jual sawah agar saya bisa kuliah, maksudnya yaitu perbaikan nasib”, Mata Pak Sopir nampak menerawang ke masa lalu.

bersambung ….

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.