Kawan, pasti kita punya sesuatu yang dicintai saat di dunia ini. Baik itu, orang tua, kekasih, harta, bahkan hingga mimpi-mimpi kita. Tapi, dunia ini hanyalah tempat yang fana. Artinya apa yang kita cintai itu pasti akan sirna.

Begitu pun keluarga kita, ayah kita, ibu kita, adik kita, kakek-nenek kita, semua akan berlalu dari kehidupan kita satu per satu. Atau bisa jadi kitalah yang berlalu lebih awal meninggalkan mereka. Yang jelas ada saat kita bersama dan berbahagia. Namun ada saatnya kita harus berpisah, baik dalam kondisi baik atau sebaliknya.

Ketika orang-orang terdekat kita, yang menyayangi kita meninggal dunia, barangkali itu menjadi pukulan yang sangat telak bagi kita. Orang yang selama ini menjadi salah satu key person dalam hidup kita, yang selalu menghadirkan kehangatan dalam perjalanan hidup, tentu akan menjadi sesuatu yang berharga. Ketika ia pergi, maka kita akan merasakan kehilangan yang luar biasa.

Tapi mari kita kembali sadar, bahwa kehilangan kita sesungguhnya sebuah keniscayaan. Sebuah konsekuensi atas dunia manusia yang begitu fana ini. Cepat atau lambat, sadar atau tidak, semua terus bergerak maju mengikuti garis waktu yang telah ditakdirkan.

Ketika kakekku tercinta pergi, semua terkejut. Yah begitu mudahnya kisah itu berlalu. Terkenang hari-hari kecilku saat dahulu digendongnya, diajak bercanda hingga mengantar beliau ke mana-mana setelah aku dewasa ini. Oh, semua itu terjadi begitu saja saat sebuah kabar kematian datang di pagi hariku yang santai tanpa ada sebuah firasat apa pun. Demikianlah Allah yang maha Kuasa, Dia bisa melakukan apa saja yang Dia kehendaki tanpa harus membuat tanda-tanda yang sering diramalkan paranormal.

Hari ini, aku pun melihat sebuah kecintaan besar sahabatku atas kepergian seorang yang sangat dicintainya. Dia pun sama mengatakan padaku, semua berlalu dengan cepat. Yah, secepat kilat datang tanpa ada konfirmasi, merenggut orang yang kita cintai. Matanya yang berkaca-kaca menyiratkan bagaimana rasa kehilangan pada hari ini masih mendalam.

Kawan, kita boleh mencintai, tetapi semua kerangka cinta itu harus dibingkai dalam satu cinta tertinggi, yakni cinta kepada pemilik diri kita, Allah azza wa jalla. Semoga setiap kehilangan kita, kian bertambah cinta kita untuknya, kian bertambah rindu kita untuk bertemu dengannya di Syurga. Dan itu artinya kita semakin besar kecintaannya pada Allah, untuk menghamba dan mengabdi pada-Nya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.