Hai, dua kata itu bukanlah hal asing loh dalam dunia kepemimpinan dan keorganisasian. Aku sepertinya perlu menulis ini untuk menasihati diriku sendiri yang sekarang lagi berada di posisi transisi dari ketua umum menjadi rakyat biasa lagi di sebuah unit kegiatan mahasiswa yang baru lahir 2 tahun yang lalu. Sebuah organisasi muda yang tumbuh dan mengalami reformasi setelah melalui berbagai derita panjang (sepertinya alay ya, tapi faktanya begitu) karena disorientasi dalam visi menuju sebuah tatanan baru yang diharapkan terus dilanjutkan oleh para generasi-generasi reformis berikutnya.

Menyulut Api Reformasi

Sebagai salah satu bagian golongan perintis dan pembaharu (yah, dengan pedenya nyebut, secara “zona perubahan” gitu loh) dalam pembentukan kultur ilmiah SIM, maka yang sering menjadi kekhawatiran buat kami (para ranger tua) yang akan segera berakhir “kekuasaan”-nya ini adalah manakala reformasi yang tengah berlangsung ini mengalami pembajakan, seperti kisah reformasi Indonesia yang akhirnya menemui jalan buntu dan memberikan hasil kontradiktif terhadap cita-cita reformasi Indonesia itu sendiri.

Hal yang mudah dianalisis dengan logika paling bodoh adalah pasca reformasi, Indonesia itu justru tidak dipimpin oleh orang-orang yang berperan penting dalam proses reformasi itu sendiri (jika kita mau jujur membaca sejarah terjadinya reformasi Indonesia), dan hampir mudah ditebak ternyata kekuasaan itu sama saja kembali oleh segolongan serigala berbulu domba yang terus menciptakan sistem korup dan pembodohan besar-besaran di negeri ini yang makin memisahkan dan menyingkirkan orang yang telah berjuang membebaskan negeri ini dari status quo politik dan distorsi sejarahnya.

Okelah, kita cukupkan membahas masalah reformasi Indonesia. Kuhentikan di sini agar membuat para pembaca penasaran dan mau belajar tentang sejarah negerinya dan tidak sibuk dalam angan kekuasaan apalagi euforia menjadi agen perubahan Indonesia tetapi nggak ngerti apa sebenarnya yang harus diberesin di Indonesia ini sebelum banyak berbicara tentang masalah pemimpin dan agent of change. Mari kembali ke dua kata di bagian judul tulisan ini.

bersambung …..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.