Alhamdulillah, setelah Masjid Nurul Huda Islamic Center UNS (disingkat NHIC UNS) telah tegak berdiri kembali dan tadi malam digelarlah Mabiru (Malam Bina Ruhyah) untuk pertama kalinya setelah masjid NH ini diresmikan. Tema kajiannya pun mengangkat masalah Islam Liberal. Tidak tanggung-tanggung, kali ini panitia menghadirkan Ust. Akmal Syafril dari Bandung, salah satu pendiri gerakan Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal), didampingi salah satu dosen FKIP di Prodi PPKn yang juga dosen agama Islam yang pernah mengenyam pendidikan di dua kampus Islam. Konon dua kampus tersebut salah satu gudangnya aktivis Islam liberal. Ketika S-3 ini saja beliau akhirnya di kampus negeri yang katanya sekuler (meskipun kenyataannya justru lebih Islami dari pada dua kampus Islami tadi).

Karena aku tak tahan dengan rasa kantuk yang mendalam. Pada prinsipnya aku menangkap beberapa prinsip yang disampaikan oleh Pak Akmal dan Pak Muchtarom. Dari Pak Amal, kira-kira sebagai berikut:

  1. Aktivis JIL itu bukanlah orang yang sebenarnya berkeyakinan bahwa mereka mengusung sesuatu yang benar. Mereka sebenarnya kebanyakan tahu bahwa gagasan-gagasan aneh nan merusak yang mereka usung itu tak lebih sebagai bualan sampah yang mereka sendiri tahu bahwa itu tidak benar. Tapi kepentingan-kepentingan lain yang menyangkut materi, disamping memang kefasikan yang ada dalam diri mereka membuat mereka selalu berkelit dan berkilah dengan berbagai argumen rasional untuk membingungkan umat
  2. Aktivis JIL itu hanya berani berkicau di kampusnya saja dengan membuat berbagai statemen sesat. Kalau sudah keluar kampus mereka berkamuflase dan kembali seperti umat Islam pada umumnya.
  3. Sebaiknya kita tidak usah banyak berdebat dengan aktivis JIL (seperti Ulil Absar Abdala dan kroninya) karena tidak ada manfaatnya bagi mereka (berdasarkan alasan pertama tadi). Wong aslinya dia sendiri ngerti, cuma memang ya hobinya cari sensasi dengan berbagai motif yang kita tentu tidak tahu yang sebenarnya.
  4. Lebih banyak mengedukasi umat Islam, khususnya kalangan terpelajar agar menggunakan metode yang benar dalam mempelajari agama ini. Bukan serampangan modal otak doang. Tetapi melalui berbagai hal yang benar seperti yang dicontohkan para ulama dan thulaby dari masa ke masa. Kembali kepada pokok-pokok dien ini berlandaskan Quran dan Sunnah.

Sedangkan dari Pak Muchtarom, beliau lebih banyak berbagi tentang kehidupan indah masa-masa muda di kampus. Intinya, sebenarnya kampus Islam yang dicap liberal itu bukan karena mayoritas orang-orangnya liberal. Masih banyak kok yang lurus. Hanya saja orang-orang yang liberal tadi terkadang cukup signifikan pengaruhnya dalam tata kehidupan kampus. Jadi ya tetap galang persatuan umat Islam untuk mau belajar kepada Islam ini dengan metode yang benar.

Demikian sekilas pelajaran dari Mabiru yang kujalani sambil menahan rasa kantuk ini. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.