Kategori
Refleksi

Diskusi di Penghujung Malam

Acara mabiru (malam bina ruhyah), yang kata adikku yang GeJe mending diganti makuning aja (tanya kennapa? Hahaha) cukup spesial bagiku. Acara yang dilaksanakan sebagai bentuk Grand Opening Ramadhan di kampus dengan pembicara ust. Tri Bimo membuatku tidak mengantuk karena pembahasannya sangat bagus dan mendalam. Menggunakan takhrij hadits dan menjelaskan fadhilah-fadhilah bulan Ramadhan dengan kajian kontemporer yang lebih up to date.

Biasanya jika mabiru kemudian pembahasannya hanya masalah-masalah perang-perangan (maksud saya singgung sana singgung sini, tapi tidak menggunakan pendekatan ilmiah) maka aku cenderung tidur. Dan itu memang kebiasaanku ketika di kelas waktu kuliah di mana kuliah adalah saatnya tidur ketika materi kuliah yang disampaikan tidak menunjukkan kebaruan pembahasan atau sekedar transformasi tulisan buku jadi kata-kata. Nah, yang tadi malam bener-bener cihui sehingga aku sangat antusias mengikutinya.

Akhirnya setelah itu aku dan beberapa ranger diskusi sejenah menghabiskan paruh waktu malam dengan persiapan agenda esok malam di angkringan belakang kampus. Usai dari situ, aku sebenarnya mau tidur bersama teman-teman mabiru yang sudah lebih dahulu tidur. Tapi tiba-tiba aku memutuskan untuk berdiskusi dengan salah seorang yang kukenal sebagai salah satu programer di kampus. Awalnya aku hanya berdiskusi seputar pemrograman web, eh ternyata pembicaraan kami sampai pada masalah dakwah kampus.

Singkat cerita, kami menemukan frame yang sama tentang islah dakwah kampus. Kejumudan aktivis untuk mendalami agamanya dengan cara yang paling komprehensif membuat pergerakan mahasiswa hari ini lebih terlihat pada simbolnya saja. Sehingga konflik-konflik yang mengemuka juga tidak jauh-jauh pada masalah simbol, entah beda simbol atau ambiguitas simbol.

Hal ini sebenarnya masalah klasik yang menjulang hingga tingkat paling atas di negeri yang kelewat kaya ini. Sebuah pragmatisasi simbol untuk rivalitas dan pemusnahan satu sama lain ketimbang sinergi bagaimana mewujudkan kemaslahatan. Benih-benih fanatisme karena kebodohan ilmu lantaran kemalasan belajar ini telah menjerat banyak pemikiran aktivis kampus sehingga asal warna berbeda maka tak ada mulut bersambung, tak ada telinga bertaling buat suara orang.

Dan itulah sesungguhnya adanya diri kita hari ini. Aktivis yang mulai mengalami sekulerisasi pemikiran lantaran membuat batas antara dakwah, siyasah, dan keilmuwan di tataran teknis. Pemikiran yang parsial ini lebih bahaya dari pada sekulerisasi antara agama dan politik. Aku tidak pernah tertarik adanya istilah kader daawiy, siyasi, dan ilmi. Aku hanya tahu ada kader dakwah kampus (yang paham agamanya, yang main siyasahnya, yang teruji kompetensinya, tanpa mengotak-ngotakkan mereka) yang siap untuk berkontribusi bagi kampusnya dengan segala sarana yang sanggup ia kelola lantaran potensi yang dia miliki dan dia asah. Titik!

Di penghujung malam itu, aku bersyukur, bertemu sahabat yang open mind lagi.

Kategori
Dakwah Islam

Mabiru Perdana : Islam Liberal, Gudangnya Orang-Orang yang Cari Sensasi

Alhamdulillah, setelah Masjid Nurul Huda Islamic Center UNS (disingkat NHIC UNS) telah tegak berdiri kembali dan tadi malam digelarlah Mabiru (Malam Bina Ruhyah) untuk pertama kalinya setelah masjid NH ini diresmikan. Tema kajiannya pun mengangkat masalah Islam Liberal. Tidak tanggung-tanggung, kali ini panitia menghadirkan Ust. Akmal Syafril dari Bandung, salah satu pendiri gerakan Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal), didampingi salah satu dosen FKIP di Prodi PPKn yang juga dosen agama Islam yang pernah mengenyam pendidikan di dua kampus Islam. Konon dua kampus tersebut salah satu gudangnya aktivis Islam liberal. Ketika S-3 ini saja beliau akhirnya di kampus negeri yang katanya sekuler (meskipun kenyataannya justru lebih Islami dari pada dua kampus Islami tadi).

Karena aku tak tahan dengan rasa kantuk yang mendalam. Pada prinsipnya aku menangkap beberapa prinsip yang disampaikan oleh Pak Akmal dan Pak Muchtarom. Dari Pak Amal, kira-kira sebagai berikut:

  1. Aktivis JIL itu bukanlah orang yang sebenarnya berkeyakinan bahwa mereka mengusung sesuatu yang benar. Mereka sebenarnya kebanyakan tahu bahwa gagasan-gagasan aneh nan merusak yang mereka usung itu tak lebih sebagai bualan sampah yang mereka sendiri tahu bahwa itu tidak benar. Tapi kepentingan-kepentingan lain yang menyangkut materi, disamping memang kefasikan yang ada dalam diri mereka membuat mereka selalu berkelit dan berkilah dengan berbagai argumen rasional untuk membingungkan umat
  2. Aktivis JIL itu hanya berani berkicau di kampusnya saja dengan membuat berbagai statemen sesat. Kalau sudah keluar kampus mereka berkamuflase dan kembali seperti umat Islam pada umumnya.
  3. Sebaiknya kita tidak usah banyak berdebat dengan aktivis JIL (seperti Ulil Absar Abdala dan kroninya) karena tidak ada manfaatnya bagi mereka (berdasarkan alasan pertama tadi). Wong aslinya dia sendiri ngerti, cuma memang ya hobinya cari sensasi dengan berbagai motif yang kita tentu tidak tahu yang sebenarnya.
  4. Lebih banyak mengedukasi umat Islam, khususnya kalangan terpelajar agar menggunakan metode yang benar dalam mempelajari agama ini. Bukan serampangan modal otak doang. Tetapi melalui berbagai hal yang benar seperti yang dicontohkan para ulama dan thulaby dari masa ke masa. Kembali kepada pokok-pokok dien ini berlandaskan Quran dan Sunnah.

Sedangkan dari Pak Muchtarom, beliau lebih banyak berbagi tentang kehidupan indah masa-masa muda di kampus. Intinya, sebenarnya kampus Islam yang dicap liberal itu bukan karena mayoritas orang-orangnya liberal. Masih banyak kok yang lurus. Hanya saja orang-orang yang liberal tadi terkadang cukup signifikan pengaruhnya dalam tata kehidupan kampus. Jadi ya tetap galang persatuan umat Islam untuk mau belajar kepada Islam ini dengan metode yang benar.

Demikian sekilas pelajaran dari Mabiru yang kujalani sambil menahan rasa kantuk ini. Semoga bermanfaat.