Wah jadi ingat kisah Hamzah, seorang pemuda di masa Khalifah Umayyah yang sangat beruntung karena berhasil menikahi wanita yang keadaannya sangat menyedihkan karena KAKINYA LUMPUH, MULUTNYA BISU, MATANYA BUTA dan TELINGANYA TULI. Tunggu dulu, ini adalah definisi sang calon mertua yang juga pemilik kebun apel tempat ia mengakui kesalahan karena secara tidak sengaja memakan buah apel yang jatuh dan terhanyut. Awalnya ragu waktu ditawari calon istri yang seperti itu, tapi ketika iya mantap menjawab iya, maka sang calon mertua menjelaskan maksud dari empat ciri tadi. Sang calon mertua berkata

“Benar calon isterimu buta, karena ia tidak mau melihat yang diharamkan Allah, ia bisu, karena ia tidak mau berbicara tentang segala sesuatu yang dilarang Allah, ia tuli, karena telinganya tertutup untuk mendengarkan suara-suara yang maksiat, dan juga ia lumpuh karena enggan pergi ke tempat-tempat yang dilarang Allah!”

Dan tahukah, paras sang gadis tadi luar biasa cantiknya. Hartanya? Lha wong sang pemilik kebun tadi orang kaya. Nasabnya, jelas mulia. Memang sebuah keberuntungan yang sempurna. Ternyata ada. Lihat kisah selengkapnya di sini!

Kalo kemudian berkaca pada diri sendiri, jelas diri ini jauh sekali dengan Hamzah yang tawakkalnya luar biasa, kejujurannya tak diragukan lagi. Namun ikhtiar untuk menjaga diri dari maksiat yang banyak (meskipun tak bisa dipungkiri untuk aktivis hari ini rentan sekali dengan maksiat) dan melakukan berbagai kebaikan yang kualitasnya mungkin memang jauh tak sebanding dengan kehidupan para salafus shalih diharapkan dapat mendekatkan diri ini pada keridhoannya.

Beruntung aku dapat murabbi yang memberikan pencerahan ini. Sangat sederhana dan mudah untuk dimengerti. Gantinya, aku pun lebih mudah untuk berbagi tentang visi hidupku ini kepada beliau. Bilakah nanti aku akan berpisah, kalau pun berpisah, rasa-rasanya aku akan tetap berusaha belajar banyak dari beliau. Jika mendengar spirit yang beliau ucapkan, keywordnya : sederhana, terbukti, dan nyata. Ah itu yang selalu menampar mukaku dan membuatku semakin membisu untuk mengatakan berbagai hal yang muluk-muluk. Lebih-lebih kalau giliran aku yang ngisi halaqah ke adik-adikku.

Yang pasti, semua yang sudah berlalu akan menjadi pelajaran berharga bagiku. Yang baik-baik akan kujaga dan kuhidupkan kembali. Yang buruk-buruk akan kucoba kukubar dalam-dalam dan tak perlu disesali berlebihan. Yang penting istighfar tak pernah putus dan keinginan berubah lebih baik senantiasa diwujudkan. Dan halaqah tadi malam, semakin membuatku …… untuk segera menggenapkan separuh agamaku ini. Ya Allah, jagalah aku dari jebakan-jebakan di masa muda yang sangat pelik ini. Aku hanya inginkan seseorang yang setia pada-Mu jua, yang setia memarahiku agar kembali ke jalan-Mu ketika aku mulai tersesat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.