Sate Kurban

Setelah sampai di rumah, waktu sudah cukup malam. Rupanya diskusi kami menghabiskan waktu sore dan malam kami. Syuaib yang sudah membuat janji denganku untuk membuat sate daging sapi dari hewan qurban yang menjadi jatah kami rupanya sudah menunggu. Segeralah kami beraksi untuk melakukan aktivitas aneh yang sama-sama belum berpengalaman. Kami berdua sama-sama tidak menguasai cara-cara membuat bumbu sate dan membakar sate dengan benar. Mustopa juga sudah tampak kecapekan sehingga memilih tidur duluan. Mas Baihaqi juga memilih pulang ke kontrakannya.

Bismillah, kami hanya bermodal nekad menggunakan intuisi kami yang aneh. Daging sapi yang sudah kami tusuk itu diaduk pada bumbu aneh karya kami. Dengan dukungan kecap yang melimpah dan remang-remang lilin di kolong rumah panggung yang kami tempati, kami menghabiskan malam Jumat ini dengan mengobrol ngalor ngidul sambil menyelesaikan pembakaran puluhan tusuk sate.

Setelah jam 1 dini hari, matanglah sudah semua sate sapi yang kami buat. Agak keras memang, tapi intinya sudah matang dan sudah dapat kami makan. Soal rasa tidak ada duanya, karena itu asli buatan kami. Setelah kami puas menyantap puluhan tusuk, kami sisakan untuk Mustopa esok harinya. Semoga dia masih mau memakannya. Dan malam ini pun berakhir dengan rasa puas karena ternyata kami pun bisa membuat sate yang bercita rasa baru. Besok pagi-pagi aku harus berangkat ke sekolah, ada festival untuk warga sekolah.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.