Pagi hari ini tak banyak hal berbeda yang kami lakukan. Bersih-bersih badan, sarapan dengan nasi dan telur yang kami masak sendiri. Seperti kemarin, pagi ini kami lalui dengan malas hingga menjelang matahari sepenggalah. Kami pun ke sekolah untuk bertemu dengan ibu RT yang juga penjual di kantin sekolah. Katanya hari ini ada pertemuan ibu-ibu PKK. Ada monev dari kecamatan Gunung Tabur untuk kegiatan PKK ibu-ibu di Samburakat.

Masih seperti kemarin, kami disambut siswa-siswa kelas VI untuk mengisi kelasnya. Meskipun sebenarnya agak malas akhirnya aku turun juga ke kelas setelah dikonfirmasi bu RT bahwa pertemuan yang diinformasikan jam 10 pagi ternyata dilaksanakan pada jam 1 siang. Sempat salah paham karena ternyata hari kamis itu siswa tak ada lagi jadwal setelah istirahat, artinya jam setengah 12 siang sudah pulang. Tetapi karena aku masih berpatokan jam setengah 1 siang, jadilah aku berputar-putar mengajak mereka belajar tentang cita-cita sekedar untuk menghabiskan waktu. Banyak yang masih antusias mendengarkan, namun satu dua sudah tampak mulai bosan dengan motivasi trainer amatiran sepertiku. Akhirnya kelas pun berakhir, semua pulang.

Siang semakin terik saja. Rasa terpanggang di bawah garis katulistiwa kian kentara. Oh, beginilah rasanya bumi Kalimantan yang eksotis itu kala siang. Di rumah-rumah, laki-laki dipastikan tidak lagi berpakaian atas. Perempuan pun terkadang juga kelepasan lesehan di depan rumah sambil ngerumpi atau tiduran. Aku dan mustopa menyusuri pinggiran rumah panggung mewah dengan tower internet di sana. Itulah rumah kepala kampung, tempat berlangsungnya pertemuan ibu-ibu. Sempat sungkan masuk untuk meliput karena mereka tampak tidak peduli dengan kehadiran kami. Beruntung percakapan pun bertemu karena salah satu ibu supervisor dari kecamatan adalah orang Solo baru. Maka kami pun mendapat sambutan hangat. Dan seperti dugaan kami, makan siang gratis. Alhamdulillah. Hanya kesimpulannya, 17 hari di Berau, bukan tempat kami untuk bergaul dengan ibu-ibu dalam hal memberi pelatihan. Tapi aku masih berharap dapat berbagi inspirasi tentang pendidikan anak mengingat tetangga sebelah kontrakan mas Baihaqi adalah representasi kurangnya skill menjadi orang tuanya manusia.

Usai dari sana, aku memilih berjalan ke dermaga, sementara kawanku menyambangi surau tua kemarin. Kutatap lekat-lekat derasnya arus sungai Berau. Berbagai memori di masa lalu tentang kebiasaan berenang di sungai pun berkelebat di kepala. Kulihat di kejauhan ada rimbunan pepohonan yang kata anak-anak di sekitarku setiap malam ada penampakan. Penampakan apakah? Aku penasaran tetapi sejujurnya aku belum pernah berkeliling di sana kala malam hari. Sepertinya ini menarik untuk dicoba.

Dan malam harinya, kami memutuskan untuk tinggal di rumah Pak Darwis. Bapak guru berdarah Bugis itu besok akan pergi mengikuti pelatihan dan serangkaian kegiatan lain. Atas perkenannya kami akan tinggal di rumah beliau sampai masa tinggal kami berakhir. Syaratnya satu saja, beri makan ayam-ayamnya di pagi dan petang. Akhirnya memoriku di masa SD ketika masih rajin beternak ayam terkenang kembali saat ini.

Dan malam ini pun berakhir dengan bahagia karena tim nasinal Indonesia U-19 berhasil memenangkan duel melawan Filipina. Meskipun Filipina memarkir 10 pemain mereka di kotak penalti, akhirnya para skuad garuda muda itu berhasil menembus benteng hidup itu.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.