Kategori
Pendidikan

Paradoks Guru Bersertifikasi dalam Wajah Pendidikan di Indonesia

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jika guru kencing berlari, murid kencing …..

Kalimat pertama di atas adalah peribahasa Indonesia yang sudah sering kita pelajari sejak SD sampai SMA. Sedangkan kalimat selanjutnya hanya sebuah pertanyaan implikatif dari dari peribahasa sebelumnya yang belum terungkap jawabannya.

Ada pemandangan menarik tentang perilaku para “pendidik” yang ada di sekitar kita saat ini. Khususnya mereka yang telah mendapat sertifikat sebagai pendidik “profesional”. Alih-alih pemerintah bermaksud menaikkan kesejahteraan para guru agar mereka dapat bekerja lebih profesional dan berdedikasi, ternyata “sebagiannya” menjadi semakin tidak profesional dan produktif, bahkan kontradiktif terhadap harapan tersebut. Sekali lagi kita katakan “sebagiannya”, artinya sebagian yang lainnya sudah menuju pembenahan diri untuk benar-benar menjadi pendidik profesional lagi berdedikasi. Maka selanjutnya akan kita kupas perilaku yang “sebagiannya” ini untuk menemukan sebuah paradoks guru bersertifikasi dalam wajah pendidikan kita.

Hari itu adalah hari yang menggembirakan bagi Mr. X, seorang guru sekolah Negeri Cerdas Mendidik di pinggiran kota A. Mulai bulan itu dan seterusnya dia akan menerima tunjangan profesional sebesar satu kali gaji pokok. Tidak banyak memang, mungkin hanya sekitar 2 juta saja setiap bulan. Segera saja ia mengajak Mrs. Y istrinya untuk berbelanja sepuas hati. Tidak cukup sampai di situ, jika sebelumnya hanya berani kredit sepeda motor, kipas angin, mesin cuci, televisi dan segala perabot rumah, kini ia mulai mengajukan kredit untuk laptop dan mobil Daihatsu Xenia yang sejak lama membuat hatinya resah setiap kali melihat kepala dinas berkunjung ke sekolah tempat dia mengajar. Betapa bahagianya.

Pagi harinya dia datang ke sekolah dengan Xenia barunya itu. Sebagian guru dan siswa yang melihat Xenia masuk gerbang pun bertanya-tanya siapa gerangan. Oh ternyata Mr. X dengan mobil barunya. Ketika mengajar di kelas dia pun  menggunakan laptop barunya. Padahal sekolah tersebut belum memiliki proyektor LCD, maklum sekolah pinggiran. Jadilah suasana belajar hari itu seperti pameran teknologi. Para siswa terheran-heran melihat Mr. X menggerak-gerakkan jarinya pada touchpad laptop-nya, padahal ia sebenarnya bingung untuk mengoperasikan power point pelajaran yang disiapkannya. Akhirnya hari itu para siswa tidak mendapatkan pelajaran apa-apa selain hanya sebuah pameran teknologi canggih berupa komputer lipat.

Hari-hari selanjutnya ia tetap menggunakan mobil itu dan dengan angkuhnya ia berlalu di hadapan siswa-siswanya yang berjalan kaki dan bersepeda ontel. Pelajaran di kelas pun tak ubahnya seperti unjuk unjuk kecerdasan dan presentasi penemuan, karena Mr. X berlagak seperti profesor yang cerdas dan menerangkan dengan bahasa planet asing yang baru diperolehnya dari internet. Sehingga para siswanya terperangah dalam kehampaan dan ketidakpahaman. Siswa-siswa yang sudah bingung dibuat semakin bingung dengan handoutberisi teori-teori ringkas yang sulit dimengerti. Ternyata masih juga ditambah dengan tugas berat yang “ harus” dikerjakan dan dikumpulkan tepat waktu. Jika siswa hendak menemuinya di luar jam pelajaran untuk menanyakan materi yang belum diketahuinya dia enggan dan beralasan “sibuk”, padahal cuma “sedikit-sedikit facebook”.

Mr. X sudah bukan yang dulu lagi. Kini dia benar-benar berubah menjadi ……………………………

Ungkapan naratif di atas hanya salah satu cuplikan dari sekian banyak kisah guru-guru yang telah bersertifikasi. Mereka ada di sekitar kita, mereka ada di kota, mereka ada di desa, mereka ada di pedalaman, bahkan mereka pun ada di daerah yang paling terpencil. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, namun mereka akan meresahkan hati-hati manusia yang cinta pendidikan. Adakah  kesalahan dari program sertifikasi guru yang dilaksanakan pemerintah saat ini? Ataukah memang mental dan kredibilitas guru-guru kita yang patut dipertanyakan? Marilah kita cermati bersama.

Guru, menurut orang jawa sebagai orang yang “digugu lan ditiru”. Jadi orang yang nasihatnya didengarkan dan perilakunya patut dicontoh dapat dikatakan sebagai guru. Dalam ungkapan lain, guru lebih dekat maknanya dengan pendidik. Hampir semua pakar sepakat bahwa guru atau pendidik adalah orang-orang yang tugasnya adalah membimbing, mengajari dan mengarahkan para peserta didik agar menjadi lebih baik dari sebelumnya melalui suatu proses pembelajaran. Jadi keberadaan guru memegang peranan penting bagi kehidupan umat manusia. Maka tidak mengherankan jika pascaperistiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki kaisar Jepang lebih mengkhawatirkan keberadaan guru dari pada para tentaranya.

Demikian pula usaha pemerintah kita untuk peningkatan kesejahteraan guru sekaligus untuk mendongkrak kinerja guru agar dapat menjalankan tugasnya secara profesional dan berdedikasi, maka diadakanlah sertifikasi guru. Sehingga diharapkan mereka tidak mengalami nasib seperti “Guru Umar Bakrie” sebagaimana diungkapkan oleh Iwan Fals dalam lagunya. Namun sayangnya para guru yang diperhatikan ini “sebagiannya” menjadi lebay karena sudah sedikit lebih kaya dari pada biasanya. Apalagi sekarang profesi guru dapat menaikkan strata sosial di mata masyarakat. Sehingga tingkah guru yang “sebagiannya” ini kian menjadi-jadi.

Jika kita membaca buku-bukunya Eko Prasetyo tentang pendidikan, maka kita akan menemukan banyak kejanggalan dalam dunia pendidikan kita saat ini. Dalam bukunya Guru : Mendidik itu Melawan, ada sindiran tajam yang beliau sampaikan  kepada guru-guru kita. Salah satunya ia mengisahkan kebiasaan orang-orang penting kita termasuk para pendidik zaman ini yang suka menaikkan anggaran dan membuat agenda-agenda yang seakan-akan penting namun ternyata tidak bermanfaat seperti studi banding ke sekolah di luar negeri. Sudah biayanya besar masih harus ada uang saku juga. Dalam bukunya itu, beliau mengisahkan bahwa hari yang diagendakan untuk mengunjungi sekolah-sekolah favorit lebih sedikit dari pada acara tambahannya. Itu pun mereka lebih suka melirik gedung-gedung dan fasilitas mewahnya dari pada kompetensi para gurunya. Hari-hari yang lain lebih banyak dihabiskan untuk berekreasi dan berbelanja. Celakanya lagi, tidak ada satupun yang berekreasi ke perpustakaan atau pusat perbukuan, apalagi membeli buku.

Seandainya kisah di atas benar-benar dipahami, sungguh sebenarnya itu merupakan sindiran yang sangat menusuk dan seharusnya menjadikan guru-guru sadar untuk berbenah. Apalagi sekarang kesejahteraan mereka sudah diperhatikan oleh pemerintah secara bertahap dan berkesinambungan. Namun sekali lagi, jangankan membeli buku, ke toko buku saja merupakan hal yang langka. Maka pesan ini pun belum tentu sampai kepada yang “sebagiannya” itu karena pasti mereka tidak membaca.

Jika guru-guru yang bertipe seperti ini terus-menerus bermunculan setiap adanya sertifikasi, bagaimana nasib pendidikan kita di masa depan? Tidak mengherankan jika kemudian siswanya juga bertingkah aneh-aneh. Bagaimana tidak, setiap hari mereka melihat guru-gurunya berlomba memiliki kendaraan bagus, HP mahal dan laptop keren. Ditambah lagi dengan pembelajaran yang innocent sehingga siswa merasa menjadi orang yang tidak perlu belajar karena di kelas atau di luar kelas pun sama saja, tidak ada motivasi, tidak ada “energi baru” yang diterima dari sang guru.

Uraian di atas hanyalah sebuah bentuk kecil dari paradoks guru bersertifikasi di masa ini. Betapapun kecilnya paradoks ini jangan sampai menjadi paradigma bagi para pendidik berikutnya. Sehingga kehadiran para “pahlawan tanpa tanda jasa” (ungkapan pendidik di masa lalu) di era mendatang benar-benar menjadi pilar peneguh bangsa dan pembangun generasi sebagaimana tugas para pendidik yang sesungguhnya.

Maka dari itu, sudah saatnya kita yang akan menjadi para pendidik masa depan benar-benar mempersiapkan diri agar kelak menjadi pendidik yang benar-benar mendidik. Pendidik yang baik adalah pendidik yang mampu menginspirasi para siswanya untuk terus belajar dan berkarya dalam kebaikan, sebagaimana disampaikan oleh para pakar pendidikan dan motivator. Kita pupus paradoks yang tengah terjadi saat ini agar tidak mengakar di jiwa para pendidik di masa mendatang.

Selain itu, kampus-kampus yang meluluskan para sarjana kependidikan hendaknya semakin memperbaiki kualitas pelayanan pendidikannya sehingga dapat menghasilkan pendidik-pendidik yang berkompeten dan berakhlak mulia. Jika semuanya telah bersinergi, maka kualitas pendidikan akan terus mengalami peningkatan dan kita dapat mengejar ketertinggalan terhadap negara-negara maju.

Akhirnya, kita tidak perlu menjawab ungkapan jika guru kencing berlari, murid kecing ……………..  karena memang tidak ada guru yang kencing berlari. Sebuah harapan besar bagi kita akan terwujudnya wajah pendidikan yang lebih baik sebagaimana yang tertuang dalam tujuan nasional undang-undang dasar kita yaitu pendidikan yang “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Referensi:

Dwi Budiyanto (2009). Prophetic Learning Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian. (Yogyakarta:Pro-U Media)

Eko Prasetyo (2007). Guru:Mendidik itu Melawan. (Yogyakarta:CV. Langit Aksara)

M. Furqon Hidayatullah (2009). Guru Sejati:Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. (Surakarta:Yuma Pustaka)

(Artikel ini mendapat juara III Lomba Artikel Ilmiah Pekan Ilmiah Pendidikan 2010)

Kategori
Dakwah Islam

Surat Cinta dari Manusia-Manusia yang Malamnya Penuh Cinta

Ini adalah sebuah tulisan yang sangat inspiratif. Silahkan di baca kawan. Yang jelas, ini bukan tulisanku sendiri. Ku ucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah menuliskannya.

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
dari kejahatan makhluk-Nya,
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”
[Al Falaq , Ayat 1 Sampai dengan 5]

Wahai orang-orang yang terpejam matanya, Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap, Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena, Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu !! Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam.” Sudahkah kau dengar tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta, Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu ?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, ” Nuruddin itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar.” Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, ” Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan”. Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do’a dan sholat-sholat malamku yang penuh kekhusyu’an. Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan.

Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yang panjang. Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai, Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqso, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga sholat berjama’ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alqur’an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena, Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya, Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah. Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ? Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung datang.

Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku. Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu’an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo’a : “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.” Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do’a seorang pelayan ini. Do’aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam, Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak ? Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, “Jika aku mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku.” Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda, Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, “Hai manusia, Engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah !!”. Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap, Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, “Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah.

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia, Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu. Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar.

Semoga…
by Hamba Alloh, saudaraku seiman di bumi perjuangan

(Repost from my FB Notes)

Kategori
Teks Pidato

Peran Pemuda dalam Pembangunan Desa

Hah, ini adalah teks pidato yang aku bawakan waktu lomba pidato pemuda di desa di peringatan Hari Kemerdekaan. Selamat menikmati

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Dewan juri yang saya hormati

Lurah desa Beji beserta jajarannya yang saya hormati

Rekan-rekan pemuda yang saya cintai

Hadirin yang berbahagia

Marilah senantiasa kita awali hari-hari kita ini dengan setangkai kesyukuran kepada Alloh azza wajalla yang telah menganugerahkan kepada kita kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat bertemu dalam majelis yang hangat ini dalam keadaan yang sebaik-baiknya tanpa ada kekurangan. Semoga keselamatan senantiasa Dia limpahkan kepada kita semua hingga berakhirnya majelis ini. Amin

Hadirin yang berbahagia

Mengapa kita berkumpul di sini pada bulan yang bersejarah ini?

Jawabannya adalah karena kita memiliki kepedulian terhadap desa ini dan masih memiliki sedikit jiwa pemuda seperti yang telah dimiliki chaerul shaleh dan teman-temannya pada masa itu. Maka dari itu, di kesempatan yang berbahagia ini saya akan mengetengahkan sebuah kajian singkat mengenai peran pemuda dalam pembangunan desa.

Hadirin yang berbagagia

Berbicara mengenai peran pemuda dalam pembangunan desa tidak dapat kita terangkan secara sederhana seperti seorang ayah yang bekerja di sawah kemudian di bantu oleh seorang anaknya yang kuat dan perkasa. Berbicara mengenai pemuda ada berbicara masa depan dan segala pemikiran yang mengarah pada masa depan.

Pemuda adalah semua orang baik yang remaja maupun dewasa yang masih memiliki jiwa revolusi dan suka dengan segala gejolak perubahan. Seorang pemuda adalah seorang yang jiwa dan akalnya masih dalam tahap perkembangan akhir untuk menemukan karakter sejati dari dirinya sendiri. Ia adalah jiwa yang sangat suka untuk mencoba hal-hal baru dan suka untuk menciptakan hal-hal yang baru pula. Jadi jika Anda sekalian yang hadir di sini mengaku berjiwa muda namun sedikit pun tidak pernah ikut memikirkan masa depan masyarakat di sini, tidak pernah dan tidak mau member kontribusi bagi masyarakat di sini, maka silahkan ditinjau kembali pengakuan Anda sekalian sebelum dikoreksi oleh orang-orang terdekat Anda.

Perlu dipahami pula, bahwa pembangunan di sini bukan  seperti kegiatan mengecor jalan di mana para pemuda yang kekar-kekar menjadi tim utama yang hanya menerima komando dari yang lebih tua atau kegiatan kerja bakti ibu-ibu di mana gadis-gadis remaja yang ikut kegiatan diajak ngerumpi membahas hal-hal yang sangat-sangat tidak penting. Bukanlah seperti itu, pembangunan di sini adalah keseluruhan upaya yang sanggup dilakukan oleh seluruh warga desa untuk mencapai keadaan yang lebih baik, lebih maju dan lebih bermartabat.

Hadirin yang berbahagia

Apa peran pemuda dalam pembangunan desa?

Saya katakan, peran yang seharusnya dilakukan oleh para pemuda banyak sekali. Setiap bidang pembangunan yang ada harus ada unsur yang namanya pemuda.

Kita awali dengan pertanyaan berikut dan semoga kita dapat memberi kesimpulan sendiri akan hal ini. Dalam pemberdayaan masyarakat, siapa yang lebih berpeluang untuk mencari ilmu dan menyampaikannya kepada masyarakat? Dalam ajang kompetisi antar masyarakat seperti berbagai macam perlombaan, siapa yang lebih berpotensi untuk diutus dan berpeluang untuk menang? Dalam bidang keagamaan, siapa yang paling mudah untuk diarahkan sebagai perintis di garda depan? Dalam menyambut perubahan, siapa yang paling mudah menerima dan mengejawantahkannya? Jawaban atas pertanyaan itu semua tentu adalah pemuda atau generasi muda.

Pertanyaan berikutnya, sudahkah mereka memasuki bidang-bidang tersebut? Jawabannya pasti akan bervariasi. Sudahkah kita menjumpai pemuda desa beji ini yang lama bersekolah di kota kemudian kembali ke desa ini dengan tujuan untuk mengenalkan pengetahuan yang ia peroleh selama bersekolah atau mengenalkan teknologi baru sehingga dapat mengangkat ekonomi masyarakat secara mandiri? Sudahkah kita menjumpai pemuda desa beji ini, yang mengharumkan nama desa sampai ke tingkat provinsi atau nasional? Sudahkah kita jumpai pemuda desa beji yang sanggup menjadi pelopor dalam pembinaan moral dan keagamaan para remaja dan masyarakat umum? Sudahkah kita jumpai pemuda desa beji yang mandiri, produktif dan selalu bersemangat untuk menimba ilmu-ilmu yang bermanfaat? Saya persilahkan hadirin di sini untuk memikirkan jawabannya.

Hadirin yang saya hormati

Mari kita uraikan satu persatu masalah-masalah di atas.

Peran pemuda yang pertama adalah memperdalam ilmu dan pulang kembali ke desa untuk menyampaikannya ke masyarakat. Riilnya adalah seperti ini, jika seorang bersekolah maka hendaklah bersungguh-sungguh dan mengerti apa tujuan utama ia bersekolah, yaitu melakukan perbaikan diri. Hasil yang ia capai hendaknya tidak hanya semata-mata digunakan untuk mencari harta, tapi juga untuk pengabdian. Ia tularkan ilmu yang telah didapatkannya kepada masyarakat, baik anak-anak maupun dewasa sesuai dengan kapasitas dan daya tangkap masyarakatnya.

Peran selanjutnya adalah menjadi delegasi dan wakil terdepan dalam berbagai ajang kompetisi masyarakat. Kompetisi di sini tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebatas perlombaan. Tetapi bagaimana, pemuda memiliki daya saing yang handal dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga desa ini diperhitungkan oleh masyarakat lain maupun pemerintah karena kualitas dan kuantitas pemuda yang ada.

Hadirin yang berbahagia

Peran selanjutnya adalah menjadi perintis gerakan perbaikan moral dan pembinaan keagamaan bagi masyarakat. Sudah seharusnya para pemuda menyadari kerusakan moral remaja yang terjadi saat ini. Maka kesadaran diri untuk bangkit dari keterpurukan menjadi syarat utama sebelum melakukan pembinaan kepada masyarakat. Jika ini terlaksana, tentu kita tidak akan menjumpai masjid-masjid sepi dari adzan atau masjid-masjid menjadi keriput karena hanya berisi kakek-kakek yang tinggal menunggu waktu kereta tiba.

Dan yang paling penting, adalah pemuda harus memiliki jiwa untuk selalu belajar dan mengikuti perubahan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang berkata bahwa ia sudah pandai dan tidak perlu belajar lagi. Orang yang lulus bukan berarti telah selesai belajar, tetapi justru dituntut untuk belajar lebih keras, yaitu belajar tentang realita dan fakta yang ada di lingkungannya.

Hadirin yang saya hormati

Peran tersebut hanya dapat dilaksanakan oleh para pemuda jika factor-faktor pendukungnya dapat terpenuhi. Faktor-fakor tersebut adalah factor internal dan factor eksternal.

Factor pertama adalah factor internal, yaitu factor yang berkaitan dengan diri para pemuda itu sendiri. Factor ini meliputi motivasi dan keinginan untuk berprestasi. Jika para pemuda mampu menghadirkan dua hal ini pasti mereka akan menjadi orang-orang yang berkemauan keras dan berjiwa pejuang seperti para pemuda Indonesia di masa lalu yang akhirnya mampu mengikrarkan sumpah pemuda dan akhirnya menjadi perintis kemerdekaan. Namun jika para pemuda tidak memiliki dua hal itu, maka sebenarnya masa depan desa ini telah mati karena pemuda-pemuda jenis ini kelak akan berkata “ga usah neko-neko, mari kita lakukan apa yang telah nenek moyang kita lakukan”. Jadi ketika desa kita terbelakang, maka pemuda-pemuda yang semacam itu sebenarnya ingin berkata biarkan desa kita terbelakang asal saya tetap senang.

Hadirin yang berbahagia

Factor yang kedua adalah factor eksternal, yaitu factor yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat. Keberadaan factor eksternal ini sama pentingnya dengan factor internal. Bahkan factor-faktor ini lebih banyak jumlahnya dan fungsinya lebih cenderung menjadi penghambat, diantaranya

Satu, kultur masyarakat yang sulit berkembang. Masyarakat desa umumnya selalu menganggap tradisi lebih baik dari pada ilmu pengetahuan. Sehingga akan berdampak buruk ketika para pemuda mengutarakan gagasan ilmiahnya. Mereka akan mengucilkan para pemuda yang dianggap nyleneh tanpa pemikiran yang jernih dan permusyawaratan yang baik karena dianggap tidak sesuai dengan adat yang telah berlaku. Bahkan terkadang yang menjadi penentang pertama justru tokoh-tokoh masyarakatnya. Ini masih sering terjadi di masyarakat kita. Sehingga banyak para pemuda yang memilih diam, padahal di otak mereka tersimpan segudang ide yang seandainya semua disampaikan pastilah akan ada satu yang lebih luar biasa dari sekian pendapat orang-orang tua.

Kedua, modernisasi dan globalisasi. Pemuda adalah golongan yang paling mudah mengakses dan menerima berbagai perubahan. Namun jika mereka tidak memiliki benteng pribadi justru akan menjadi golongan pertama yang paling rusak akibat kemajuan teknologi dan arus globalisasi.

Jika kedua factor tersebut tidak dapat dikendalikan maka peran pemuda bagi pembangungan desa akan sulit diwujudkan. Maka sudah saatnya masyarakat dan pemerintah menyadari pentingya peran pemuda bagi pembangunan masyarakat sehingga mereka dapat memberikan tempat yang semestinya bagi para pemuda.

 Hadirin yang berbahagia

Pemuda bukan kuli yang dapat diperintah sesuka hati untuk membantu tuannya. Tetapi pemuda adalah mesin berteknologi tinggi yang apabila dikendalikan dengan baik akan menghasilkan kerja yang luar biasa. Mari bersama kita selamatkan pemuda-pemuda desa ini dari keterbelakangan, kerusakan moral, dan kelemahan spiritual agar mereka dapat membangun desa ini di masa depan

 Banyak salah mohon maaf, semoga ada manfaat yang dapat kita ambil. Sekian

 Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Kategori
Resensi Buku

Jadikan Diri Berarti dengan Cinta yang Suci

“…dan akan tercapai juga kemuliaan bangsaku, persatuan tanah airku. Hilang perasaan perbedaan dan kebencian dan tercapai keadilan dan bahagia.” Itulah penggalan naskah yang tertera di bagian akhir novel yang telah berusia  lebih kurang 78 tahun ini. Sebuah harapan besar seorang pujangga di zamannya untuk melihat kemerdekaan negeri ini. Merdeka dari penjajah, merdeka pula dalam mengisi kemerdekaan, melangkah ke masa depan, sehingga tercapailah sebuah keadilan dan kemakmuran.

Ungkapan di atas mungkin dapat membuka pemikiran kita terhadap sebuah karya sastra lama yang biasanya monoton dengan gayabahasanya dan alur ceritanya untuk lebih memandang nilai yang dikandungnya. Secara fisik, penampilan dari novel ini memang sangat sederhana. Sampulnya yang polos dan lay out-nya yang biasa-biasa saja sudah tentu membuat kita malas membacanya jika kita tidak memegang prinsip biarpun wajah tak cantik, asalkan hati bersih dan suci. Yang jelas, novel yang satu ini bukanlah sembarang novel. Novel ini adalah sebuah novel cinta, namun syarat dengan ajaran agama, penuh dengan nilai moral dan budaya. Realita kehidupan yang pelik dan kompleks sangat jelas digambarkan oleh HAMKA dalam setiap urutan ceritanya. Untaian kata-kata yang indah, bahasa yang santun telah membawa novel ini kepada pencapaian maknanya. Ia bukan novel kuno, bukan pula modern, melainkan sebuah novel pembangunan jiwa yang sifatnya jangka panjang.

Dalam kisahnya, seorang pemuda bernama Zainuddin harus menjalani hidupnya dengan penuh penderitaan. Siksaan batin yang bertambah-tambah terus menggerogoti hidupnya sampai akhir hayatnya. Ia adalah pecinta sejati yang sangat berbelas kasih, penyayang dan senantiasa merindukan cinta dari orang lain. Ia sangat santun lagi terpuji. Namun kerasnya adat Minangkabau tidak dapat menerimanya, hingga akhirnya ia terusir dari tanah moyangnya lantaran pergaluannya yang dianggap tidak tahu adat. Ditambah lagi dengan penghianatan Hayati, kekasih yang dicintainya, yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Penderitaan yang berlarut-larut ini membuat anak yatim piatu ini hampir saja mengakhiri hidupnya. Untunglah Muluk[1] dengan setia menemaninya dan menggiringnya hingga akhirnya tercapai kesadaran pada dirinya. Paradigmanya tentang cinta berubah. Lautan kesedihan yang dilalui ia jelmakan ke dalam tulisan, puisi dan syair-syair yang indah. Jadilah ia seorang yang termasyur di negeri ini. Ia menjadi teladan bagi bangsa walaupun sebenarnya dia sendiri hidup dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sampai ajal menjemputnya. Cintanya tak pernah terbalaskan.

Sekilas garis besar dari perjalanan seorang Zainuddin, seorang anak manusia yang selalu dirundung nestapa. Kisah kehidupannya merupakan teladan bagi generasi muda agar tidak terjebak dalam lautan cinta yang bersendikan dunia dan wanita, tapi dapat menjadikan cinta sebagai kekuatan dahsyat yang mampu melejitkan dirinya kepada tingkatan hidup yang tinggi. Karena pada hakikatnya, cinta tertinggi adalah cinta ilahi, kecintaan yang berlandaskan nafsu akan selalu mengecewakan, tetapi kecintaan yang berlandaskan tuhan akan senantiasa kekal dan membahagiakan. Lebih lanjut lagi, HAMKA menyisipkan pembangunan moral yang bersumber dari nilai-nilai agama dan budaya yang luhur. Beliau yang juga sebagai tokoh agama ini begitu pandai mengolah susunannya, sehingga para pembaca secara tidak sadar akan menerima sebuah pelajaran yang berharga lewat perjalanan sosok Zainuddin dan tokoh-tokoh lainnya. Di samping itu, beliau sampaikan pula wawasan kebudayaan yang sangat berharga. Ia memiliki dua makna, pertama adalah sebagai kritikan terhadap suatu adat lembaga dan yang kedua adalah sebagai pengetahuan.

Di samping itu, satu hal terpenting dari novel ini adalah penyajiannya yang sangat khas. Beliau dapat menyusun sebuah kisah cinta yang romantis, namun penuh dengan polemik yang ini mungkin sulit untuk disusun oleh pengarang sezamannya, bahkan hingga saat ini, karena jika kembali kepada inti dari novel tersebut sebenarnya adalah dakwah dan  pembangunan diri. Dibandingkan novel-novel karyanya yang lain, novel ini lebih menyentuh dan mampu membuat para pembacanya meneteskan air mata sejenak karena kehalusan ceritanya. Di era ini, ada sebuah novel yang bisa dikatakan sekelas  bahkan mungkin lebih tinggi darinya, yakni “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El-Shirazy, tetapi ia menggunakan pendekatan nilai-nilai Islam yang lebih kental dan murni namun tetap tesirat di dalam penggambaran watak tokoh-tokohnya. Namun demikian, keduanya boleh dikatakan memiliki tujuan yang sama baik segi entertainment maupun dalam spirit building.

Tetapi tidak dapat dipungkiri, sehalus apapun bahasanya jika zamannya telah berbeda mungkin akan menjadi kendala di kalangan pembaca. Struktur bahasa yang kontras dengan zaman sekarang boleh jadi berfungsi sebagai filter bagi para pembaca. Mungkin di kalangan para penggemar berat novel-novel cinta masih setia untuk mebolak-balikkan novel ini. Seharusnya hal semacam ini menjadi perhatian kita, walaupun novel tersebut telah ditulis sejak tahun 1938 dan dicetak ulang sampai 26 kali dengan segala keasliannya, namun kita tetap harus berusaha care dengan bahasanya, karena ia tetap bahasa Indonesia yang telah diikrarkan oleh para pemuda sejak tahun 1928. Kita harus belajar sastra lebih banyak lagi.

“Buku TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK ini melukiskan suatu kisah cinta murni di antara remaja, yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa yang patut dijadikan tamsil ibarat. Jalan ceritanya dilatar belakangi dengan peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh dan kuat, dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga, berkamu-kerabat, dan berinik-mamak.” Demikianlah komentar yang terdapat dalam novel ini. Akhirnya, novel ini patut dibaca oleh siapa saja yang ingin terus mencari jati dirinya dan meningkatkan kualitas dirinya.


[1] Seorang Parewa (anggota preman di Sumatra Barat) yang akhirnya menjadi sahabatnya yang setia.