Kategori
Pendidikan

Ketika “Do” Termanifestasikan

Ini adalah kisah inspiratif sekaligus sebuah kisah yang membuatku geleng-geleng kepala. Seperti di postingan yang telah lalu, bahwa aku sekarang ikut latihan Taekwondo di dojang UNS. Nah, mulai hari ini dilaksanakan diklat dasar untuk para anggota baru. Meskipun usia kuliahku telah senja, tetapi semangatku tetap seperti yang masih muda. Dan memang aku orang yang sepertinya terobsesi tinggi lantaran dua tahun udah bermimpi dan baru terealisasi tahun ini, ikut latihan Taekwondo.

Hari pertama diksar ruang dilakukan di kampusnya para calon guru olah raga. Hemm, dasar orang tua, ga suka baca kepedean lagi. Sebelum jam empat aku datang ke tempat acara. Kok sepi, akhirnya aku SMS ke para senior yang usianya sebenarnya lebih muda dariku, cuma sabuk mereka sudah jauh di atasku.

“Dek, jadi diklat kan sore ini di kampus Ngoresan?” SMS-q dengan pede tinggi.

“Jadi mas.”, balasan yang masuk.

“Lho, kok masih sepi?”, tanyaku kembali.

“Kan jam 5 mas mulainya”, balasannya lagi

Nguk, ternyata aku yang terlalu rajin. Aduh jadi malu, kelihatan tidak baca. Dan akhirnya aku menunggu di warung hik langgananku. Setelah sampai waktunya aku segera kembali. Dan ternyata aku masih melakukan hal-hal yang aneh lagi. Pakai sendal sendiri, tidak membawa makanan berat, tapi justru beli makanan ringan dan masih banyak yang lainnya. Memalukan.

Itu sekedar intermezo bahwa memang sebagai junior Taekwondo, mungkin masih harus belajar tentang “DO” nya lebih banyak. Agar tidak hanya mahir pada urusan TAE dan KWON saja. Dan segeralah aku ke frekuensi yang benar mengikuti penjelasan tentang keorganisasian versi Sen Joko (sebenarnya usianya setara denganku), tetapi di malam ini dia adalah orang yang 7 tingkat lebih tinggi di atasku. Gubrakk !

Banyak hal yang inspiratif ku dapat dari training malam ini. Wawasan-wawasan baru tentang persepsi sebuah organisasi dan UKM. Hal yang menarik adalah bahwa kita tidak perlu membuat deskripsi yang rumit-rumit ketika mendidik adik-adik yang masih unyu-unyu ketika bergabung sebuah organisasi. Berikan penjelasan yang mudah namun mengena dan mudah dicerna.

Hal yang paling membuatku geleng-geleng kepala adalah ketika sen Joko mengumumkan bahwa ada salah satu senior putri yang sabuk merah akan menikah dengan salah satu taekwondoin juga yang sudah berderajat sabeum. Yang unik adalah undangannya juga bergambar kedua mempelai yang tengah menghormat (gyong ree) satu sama lain. Dan lebih kerennya lagi adalah suguhan dalam pernikahannya nanti adalah display dari UKM Taekwondo. Semua tertawa dan mungkin juga takjub, baru kali ini ada pernikahan yang menanggap tim display Taekwondo. Beginilah ketika spirit itu telah hidup dan mendarah daging di jiwa para Taekwondoin, tak hanya menginspirasi di lapangan, bahkan pernikahan mereka pun juga.

Kesimpulan sementara dariku, jika hari ini kita menjadi aktivis masih setengah-setengah dan tidak memiliki ghirah untuk melakukan perubahan, boleh jadi kita memang belum memiliki “DO”dalam persepsi aktivitas yang kita ikuti hari ini. Banyak yang hanya bisa berkoar-koar, berslogan atau mungkin berkeren-keren ria, tetapi ujung-ujungnya muntaber. Kisah tadi tentang seorang Taekwondoin yang terinspirasi dengan aktivitas dan komunitasnya, bagaimana dengan cerita para aktivis kampus yang konon selalu mendoktrin generasi-generasinya menjadi agent of change. Siapa yang lebih pantas untuk berjuluk agent of change. Tidak usah berdebat, DO and TELL WHAT WE DID.

Please, TALKLESS DO MORE!

Kategori
Misi Perubahan

Memetik Inspirasi dari Sebuah Organisasi yang Lebih Tua

Usia organisasi itu akan memberikan kontribusi wawasan dan pengalaman bagi para pelakunya. Mereka akan menjadi semakin dewasa pula dalam berpikir dan mengembangkan organisasi. Demikianlah gambaran sebuah organisasi yang ideal yang mampu melahirkan kader-kader dari rahimnya sendiri sehingga makin tua umurnya makin mengembang dan mantap kedudukannya.

Jadi Murid Baru

Adalah aku, mahasiswa angkatan tua yang sejak dulu terobsesi untuk mengikuti pada UKM beladiri di kampus. Karena udah terlanjur terjun di organisasi yang identik dengan mikir dan ngaji rasanya sempat inferior waktu mau bergabung di waktu muda dahulu. Banyak faktor mulai dari kesibukan kuliah hingga nanti serangkaian alasan abstrak kalau begini dan kalau begitu. Alhamdulillah di tahun keempat keinginan kuat untuk mewujudkan harapan itu tercapai. Waktu ekspo UKM kemarin kumulai mimpiku yang udah sejak lama itu. Aku daftar UKM Taekwondo. Dan tahukah, aku adalah murid baru yang paling tua. Karena para pendaftar rata-rata angkatan 2012.

Alasanku bergabung dengan UKM ini adalah faktor keinginan pribadi yang udah sejak lama. Terutama sejak sering berinteraksi dengan hal-hal yang berbau Korea lebih dari setahun yang lalu. Bahkan waktu itu aku bisa menghafal dan menulis dengan huruf hangul dalam waktu kurang dari sepekan. Hanya memang belum begitu berminat dengan bahasa Korea. Jadi wajar dong jika akhirnya aku tertaut untuk ikut taekwondo-nya. Motivasi dasar beladirinya ya karena sabda Rasulullah, mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukmin yang lemah.

Super Keren

Ups, ini bukan agenda adik-adik SKI yang udah ada di pamflet-pamflet itu. Aku tertarik aja dengan presentasi UKM ini ketika menyambut maru yang baru rame-rame daftar, termasuk mahasiswa basi kayak aku. Alhamdulillah dapat bahan inspirasi untuk di-ATM dalam open house SIM ke depan. Bukan untuk dicopas, tetapi diterjemahkan menjadi model baru di SIM, karena pasti beda kok kultur organisasi SIM dengan beladiri.

Selain itu, ternyata banyak atlit-atlit taekwondo (baca : taekwondoin) UNS yang sudah meraih puluhan medali. Di usianya yang sudah hampir 22 tahun, UKM ini sudah berhasil mempersembahkan banyak prestasi bagi UNS, Solo, Jawa Tengah, bahkan Indonesia di berbagai kompetisi. Persis seperti yang disampaikan pak Agus Murdo, sosok guru taekwondo sejati yang jadi rekan mengajarku di SMP Islam al-Abidin. Ada juga maru yang baru bergabung ternyata sudah berlevel “Sabeum” (alias sabuk hitam tingkat 1-2). Di sini mah tidak ada istilah tua muda dalam usia, tetapi adalah waktu dan pengalaman latihan serta jenjang kemampuan. Mau anak-anak sekalipun jika sabuknya sudah beda dan lebih tinggi di atasnya ya jangan coba-coba merendahkan. Bukan apa-apa, tapi inilah salah satu penanaman etika dalam sebuah organisasi beladiri.

Selain itu, masih banyak inspirasi terkait pengembangan UKM agar lebih diterima mahasiswa dan benar-benar menjadi sarana pembentukan kompetensi. Yah, tidak perlu saya ungkap di sini, tetapi akan saya bagi kepada teman-teman di jajaran petinggi organisasiku. Terima kasih taekwondo. Hemm, baru ikut di awal dan mengamati dari jauh saja udah dapat banyak inspirasi apa lagi jika aku konsisten untuk berlatih nantinya. Semoga bisa, ha ha ha, keluar kampus paling ga udah naiklah meskipun hanya satu level.

Dan Ternyata

Dan ternyata ada hal-hal yang membuatku jadi aneh. Tidak sengaja, adikku yang di PPSDMS Nurul Fikri, kegiatan beladirinya juga taekwondo. Waduh, bisa diejekin nih kalo kalah saingan. Makanya aku dulu sempat mikir mau banting stir ke beladiri yang lain waktu jadwal latihan keduluan dia. Tapi tak mengapa lah, kalah di sini bukan berarti terus surut latihan. Setidaknya selalu menang dalam beradu argumentasi hingga olok-olokan. (Yang merasa kesindir ga boleh ngambek)

Dan ternyata lagi, aku ketemu lagi dengan rekan sekelas di kampus yang suka bersaing dalam hal terlambat masuk kelas. Lagi-lagi ketemu di sebuah organisasi yang sama. Sampai aku bilang, masak kita ketemu lagi nih. Dia juga membalas, iya ya. Aku sampai bosan melihat kamu. Yah, mau bagaimana lagi. Beginilah ketika sudah menjadi keinginan belajar. Mau bagaimana pun, melaju saja lah.

Akhirnya, inilah inspirasiku hari ini. Semoga bermanfaat.