Kategori
Pendidikan

Maaf Pak, Lupa!

Hari yang dijanjikan untuk pengujian makalah seminar pun tiba. Aku sudah memesan LCD karena dari hari kemarin ngurus peminjaman alat cuma dilempar-lempar. Sepertinya petugas memang tidak terlalu bersemangat melayani mahasiswa (tapi kok ya tetep betah kerja di kampus). Snack pun beres dipesan mendadak tadi malam. Peserta juga harap-harap cemas meski memiliki sebagian masa definitif (mantan adik-adik liqo dan rekan-rekan liqo waktu dulu). Okelah siap!

Masuk tempat parkir gedung F, petugas pagi itu memberi hadiah (mungkin lagi gagal bermesraan dengan istrinya semalam sehingga aku kena semprot). Ceritanya aku masuk langsung nyelonong karena tak kirain ga ada yang jaga parkir. Baru sadar setelah diteriaki. Aku segera memarkir motor dan menemuinya sambil meminta maaf baik-baik dan meminta kartu parkir. Eh malah dipisuhi sambil berkata, “Nek seneng parkir di sini yo jangan masuk sini”. Untung hari itu aku tidak sedang pusing atau banyak masalah. Kalo aku muntab, bisa saja pagi itu kutelpon langsung Pembantu Dekan II yang udah akrab denganku dan kuadukan dengan bentuk layanan yang tidak memuaskan biar dapat pelajaran tu orang. Tapi tidak, aku sedang tidak berminat berurusan dengan para PNS rendahan yang moralnya dipertanyakan begitu.

Aku langsung bergegas ke pengajaran untuk meminta kunci ruang. Lagi-lagi di ruang ini kedua kalinya aku harus mengelus dada. Memang PNS sekarang kemaki-kemaki begitu ya. Aku memilih segera menyiapkan ruangan sesuai dengan jawaban sambil lalu sang penjaga piket. Setelah siap dan LCD terpasang tiba-tiba seorang dosen dari program lain datang dan mengatakan ruangan ini dipesan untuk kuliahnya pada jam itu. What? Ini yang benar yang mana? Katanya bisa di pakai. Ah, mau ujian saja ribet begini.

Aku pun turun dan meminta kepastian ruang yang benar-benar bisa dipakai. Akhirnya ruang siap. Giliran ini ketar-ketir nunggu peserta yang tak kunjung datang. Datang satu, lalu izin pergi dulu sambil nunggu yang lain. Wah, gimana kalo sampai molor kelamaan. Dosen penguji, yang juga dosen favorit Fisika Matematika-ku ternyata datang ontime. Dosen penguji lainnya yang juga pembimbing makalah seminar ini ternyata justru membuat saya senam jantung. Hampir 10 menit dari janji waktu mulai ujian beliau tidak bisa dihubungi. Akhirnya dosen penguji yang telah datang lebih awal meminta seminar saya dimulai saja, karena peserta juga telah datang.

Segera saja aku presentasi, ternyata dosen pengujiku tidak mau model ujian formal. Pokoknya kalau dia mau tanya, langsung memotong presentasiku. Meskipun bukan masalah buatku, tapi entah kenapa rumus-rumus yang sempat kupelajari blank dari ingatan ketika spontan ditanyakan. Ditambah lagi dosen penguji kedua yang baru datang tiba-tiba. Kedua dosen yang jago di rumus fisika itu akhirnya terus menghujani pertanyaan padaku, yang mungkin hampir separuhnya saya jawab, “Maaf Pak, Lupa!”. Ujian pun berlangsung sangat lama dengan pertanyaan yang sulit, yang akhirnya belum bisa kujawab semurna.

Namun aku bersyukur sekali karena ujianku hari ini dinyatakan TIDAK PERLU MENGULANG (meski spontan aku bertanya, “Aku lulus ga sih Pak?”. Tapi karena aku hanya cukup mengerjakan revisi sedikit itu adalah jawaban lain bahwa kau lulus ujian seminar fisika bersyarat. Alhamdulillah satu tugas terlewati 90 persennya. Tinggal revisi, selesai.

Kategori
Refleksi

Sabar Ya Dik

Siang ini aku kembali menghadap pembimbing untuk konsultasi makalah seminar fisika yang kutinggalkan sejak sebelum berangkat ke Jerman akhir tahun kemarin. Setelah aku sempat pusing memikirkan satu tugas akhir yang tak kunjung selesai ini akhirnya kupaksa untuk kuselesaikan sesuai dengan kemampuanku. Sebenarnya aku khawatir apa yang jadi PR dari pembimbingku kemarin akan ditanyakan lagi. Karena memang aku sampai sekarang kesulitan untuk menyelesaikan PR itu, yang perlahan kusadari itu sebenarnya bukan hal yang seharusnya menyibukkanku.

Benarlah, siang ini akhirnya aku menghadap pembimbing yang sekaligus kepala prodiku dan beliau menanyakan apa yang kutakutkan. Aku jawab belum bisa dan belum selesai. Beliau akhirnya juga berkata, berarti juga belum layak diujikan mas. Gubrak, nulis lagi dan belajar lagi yang kayak ginian. Bahkan beliau sampai menulis bahwa tiap Senin siang, jam 13.00 beliau membuat jadwal khusus ketemuan denganku. Beliau menawarkan bimbingan jika memang aku kesulitan. Oh, selama ini aku terlalu sibuk main ke sana ke mari dengan urusan organisasi. Sekarang beliau benar-benar akan membuatku segera menyelesaikan tugas akhir.

Aku kini sadar, bahwa tidak serta merta mengerjakan TA itu mudah. Apalagi jika ini berkaitan dengan urusan kompetensi. Apalagi jika sudah terlanjur mengambil judul yang bertahun-tahun lalu telah kuajukan. Aku paham konsepnya, cara kerjanya, tetapi pengetahuan teknis matematisnya adalah hal yang mutlak untuk kukuasai. Kata beliau, kita ini ilmuwan, bukan wartawan. Plak! Setelah lulus jadi sarjana pendidikan fisika nanti, sepertinya aku tidak akan mengambil jurusan fisika lagi, bukan karena tidak suka, tapi karierku selama 4 tahun di kampus lebih menonjol di bidang Manajemen SDM organisasi dan IT. Kalau mau dibilang salah jurusan, ya mungkin begitu.

Akhirnya aku harus kembali mengumpulkan semangat untuk belajar lagi demi hasil yang terbaik. Ayah sudah sering menanyakan, orang-orang desa juga sudah menanyakan. Tapi aku sendiri sejujurnya merasa juga tidak lebih baik kalau segera lulus. Apalagi aku bukan tipikal orang yang kalau lulus segera mencari kerja tetap. Apalagi kerjanya yang sifatnya komando dan banyak diatur-atur.

Menjadi PNS pun masih kupertimbangkan, kecuali besok diterima jadi dosen. Karena kalau jadi PNS harus qonaah dengan penghasilan yang diberikan negara, SK PNS itu menunjukkan kontrak antara kita dengan negara. Jika memang dijadwal 8 jam kerja sehari, seharusnya facebookan, twitteran, SMS-an kita hendaknya kan memang memenuhi tugas negara. Itulah mengapa jadi PNS itu gampang-gampang susah. Gampang bagi yang menggampangkan, karena membolos pun juga masih dapat gaji buta asal sama-sama mengerti. Susah bagi yang sadar bahwa ini adalah tugas negara yang dibiayai oleh keuangan negara. Maka tak heran ketika salah satu senior pengusaha bercerita bahwa dua temannya yang terlanjur jadi PNS mengaku menyesal, bukan karena kurang uang, tetapi mereka ingin mengaktualisasikan diri pada hal-hal di luar tugasnya, sayangnya mereka tidak bisa keluar dari waktu yang dialokasikan. Bukan karena tidak bisa membolos, tetapi mereka memang komitmen dengan tugas mereka. Maka kalau ada PNS yang kayanya tidak wajar, sudah pasti kalau bukan karena korupsi ya berarti mencari penghasilan halal lain dengan mengorbankan waktu kerja yang dibebankan oleh negara. Pilih mana? Hemm, bingung.

Kesimpulannya, aku masih ingin bebas dan menikmati hidup di mana pun yang aku sukai. Tapi aku harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang telah terlanjur kumulai. Dan aku masih ingat dengan pesan salah satu sahabatku, ketika suatu ketika aku pernah ingin berhenti dari jabatan ketua SIM, bahwa itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah, yang ada akan menjadikanku masuk dalam daftar pecundang.