Hari yang dijanjikan untuk pengujian makalah seminar pun tiba. Aku sudah memesan LCD karena dari hari kemarin ngurus peminjaman alat cuma dilempar-lempar. Sepertinya petugas memang tidak terlalu bersemangat melayani mahasiswa (tapi kok ya tetep betah kerja di kampus). Snack pun beres dipesan mendadak tadi malam. Peserta juga harap-harap cemas meski memiliki sebagian masa definitif (mantan adik-adik liqo dan rekan-rekan liqo waktu dulu). Okelah siap!

Masuk tempat parkir gedung F, petugas pagi itu memberi hadiah (mungkin lagi gagal bermesraan dengan istrinya semalam sehingga aku kena semprot). Ceritanya aku masuk langsung nyelonong karena tak kirain ga ada yang jaga parkir. Baru sadar setelah diteriaki. Aku segera memarkir motor dan menemuinya sambil meminta maaf baik-baik dan meminta kartu parkir. Eh malah dipisuhi sambil berkata, “Nek seneng parkir di sini yo jangan masuk sini”. Untung hari itu aku tidak sedang pusing atau banyak masalah. Kalo aku muntab, bisa saja pagi itu kutelpon langsung Pembantu Dekan II yang udah akrab denganku dan kuadukan dengan bentuk layanan yang tidak memuaskan biar dapat pelajaran tu orang. Tapi tidak, aku sedang tidak berminat berurusan dengan para PNS rendahan yang moralnya dipertanyakan begitu.

Aku langsung bergegas ke pengajaran untuk meminta kunci ruang. Lagi-lagi di ruang ini kedua kalinya aku harus mengelus dada. Memang PNS sekarang kemaki-kemaki begitu ya. Aku memilih segera menyiapkan ruangan sesuai dengan jawaban sambil lalu sang penjaga piket. Setelah siap dan LCD terpasang tiba-tiba seorang dosen dari program lain datang dan mengatakan ruangan ini dipesan untuk kuliahnya pada jam itu. What? Ini yang benar yang mana? Katanya bisa di pakai. Ah, mau ujian saja ribet begini.

Aku pun turun dan meminta kepastian ruang yang benar-benar bisa dipakai. Akhirnya ruang siap. Giliran ini ketar-ketir nunggu peserta yang tak kunjung datang. Datang satu, lalu izin pergi dulu sambil nunggu yang lain. Wah, gimana kalo sampai molor kelamaan. Dosen penguji, yang juga dosen favorit Fisika Matematika-ku ternyata datang ontime. Dosen penguji lainnya yang juga pembimbing makalah seminar ini ternyata justru membuat saya senam jantung. Hampir 10 menit dari janji waktu mulai ujian beliau tidak bisa dihubungi. Akhirnya dosen penguji yang telah datang lebih awal meminta seminar saya dimulai saja, karena peserta juga telah datang.

Segera saja aku presentasi, ternyata dosen pengujiku tidak mau model ujian formal. Pokoknya kalau dia mau tanya, langsung memotong presentasiku. Meskipun bukan masalah buatku, tapi entah kenapa rumus-rumus yang sempat kupelajari blank dari ingatan ketika spontan ditanyakan. Ditambah lagi dosen penguji kedua yang baru datang tiba-tiba. Kedua dosen yang jago di rumus fisika itu akhirnya terus menghujani pertanyaan padaku, yang mungkin hampir separuhnya saya jawab, “Maaf Pak, Lupa!”. Ujian pun berlangsung sangat lama dengan pertanyaan yang sulit, yang akhirnya belum bisa kujawab semurna.

Namun aku bersyukur sekali karena ujianku hari ini dinyatakan TIDAK PERLU MENGULANG (meski spontan aku bertanya, “Aku lulus ga sih Pak?”. Tapi karena aku hanya cukup mengerjakan revisi sedikit itu adalah jawaban lain bahwa kau lulus ujian seminar fisika bersyarat. Alhamdulillah satu tugas terlewati 90 persennya. Tinggal revisi, selesai.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.