Kategori
Resensi Buku

Selimut Debu, Kabar Indah Dari Negeri Perang Afghanistan #2

Selimut DebuTetapi tahukah kita, bahwa orang-orang Afghanistan adalah kaum-kaum yang sangat ramah dalam memuliakan tamunya. Tak peduli mereka sedang susah ataupun berkecukupan, mereka senantiasa membuat tamu merasa betah, bahkan untuk seorang non-muslim seperti beliau. Mungkin sulit dicerna logika bagaimana Afghanistan yang masih memegang tradisi kuat dalam berpakaian dan bergaul itu ternyata begitu ramah melayani tamu mereka. Meskipun wanitanya menjadi anonim karena tertutup burqa dan hanya dirumah melulu, tetapi mereka selalu sigap menyediakan hidangan untuk tamu yang dibawa suami mereka. Itulah pengakuan seorang Agustinus di negeri yang katanya perang.

Afghanistan memang negeri perang yang telah membuat orang mati rasa takutnya. Ketika ledakan terjadi mereka paling hanya bertanya, ada bom ya? Kapan? Dimana? Berapa yang mati? Asal tidak ada keluarganya yang mati mereka lalu berkata … oh ya sudah. Tetapi di negeri itu menyimpan banyak sejarah dan kearifan yang tidak banyak diketahui orang. Dan di sini pula, sebagai orang yang Sunni tentu aku mengerti mengapa Syiah begitu kuat mengakar di negeri-negeri Asia tengah.

Sekte yang dirintis Ibnu Saba’ di masa kekhalifahan Utsman bin Affan itu kini telah menjelma menjadi sebuah sistem rivalitas untuk umat Islam yang terlalu kompleks. Kita tak bisa lagi berkata sederhana untuk memberangus pengikut Syiah dari muka bumi dengan perang dan pembunuhan, karena ini bukan semata-mata kesesatan aliran, melainkan tradisi yang mengakar karena didukung oleh kebodohan dan kemiskinan yang menyayat.

Dan itu pulalah yang menjadi potensi berkembangnya Syiah dan segala aliran sesat di Indonesia. Karena umat Islam di Indonesia tidak banyak belajar tentang asas agamanya, sementara mereka harus bekerja dan menghidupi keluarga. Di tempat yang lain, orang-orang yang katanya belajar agama, paham kitab dan sampai disebut ustadz masih banyak yang ribut untuk saling menyerang dan merendahkan satu sama lain. Mengoreksi penting, tetapi lihatlah jutaan umat Islam di Indonesia yang menjadi malas dan tidak tahu agamanya padahal mereka ber-KTP Islam.

Akhirnya, aku harus memberi jempol untuk buku ini, karena sangat komprehensif dan informatif untuk memberikan khazanah pemahaman yang baru dan adil tentang sebuah peradaban yang berbeda dimensi. Dari pada membaca berita media yang kadang-kadang tendensius, baik ke kanan atau ke kiri, lebih baik kita membaca kisah-kisah para pelaku perjalanan. Aku yakin tulisan beliau cukup adil mengingat beliau sejak awal bahkan proporsional ketika meletakkan sikapnya melihat patung Buddha di Bamiyan yang merupakan bagian dari keyakinannya dihancurkan Taliban dengan dinamit. Tapi itu tak membuatnya tendensius untuk lantas membuat tulisan yang mainstream. Beliau tetap saja bercerita dan berkisah tentang petualangan panjangnya, itu saja.

Akhirnya ini hanya sekedar refleksi dan hal yang paling membuatku tersentuh dari pembacaan pertama buku ini. Suatu saat akan kuulangi lagi jika aku membutuhkan rentetan kisah yang menarik itu. Jika Anda tertarik, silahkan menyisihkan sedikit uang jajan Anda untuk membeli bukunya, karena ada banyak kejutan yang tidak terbayangkan. Begitulah kisah seorang petualang.

Sebelum ini aku telah meresensi bukunya yang berjudul Titik Nol.

Kategori
Resensi Buku

Selimut Debu, Kabar Indah Dari Negeri Perang Afghanistan #1

Selimut DebuApa yang pertama kali terbersit dibenakmu kawan ketika mendengar nama Afghanistan? Perang, bom bunuh diri, jihad, Taliban dan sebagainya. Itu berlaku umum dari berita-berita yang sudah biasa baik dalam bentuk tulisan, gambar maupun video yang diikuti informasi dari mulut para penyiarnya. Itulah negeri yang tidak pernah berhenti untuk berkabar tentang perang sejak ribuan tahun lalu. Hingga kini, negeri itu tetap seram dalam telinga dan bayangan kepala kita.

Namun, aku harus bilang wow setelah selesai menamatkan bukunya mas Agustinus Wibowo, backpaker yang mungkin lebih tepatnya sudah mencapai derajat explorer dari Indonesia yang telah memilih jalan hidupnya di masa mudanya kemarin untuk bertualan selama hampir sepuluh tahun dari China, Rusia, hingga ke Asia Selatan dan Asia Tengah. Dan kali ini aku menamatkan satu bukunya yang khusus berkisah tentang petualangannya di Afghanistan, negeri perang yang menjadi persinggahannya paling lama dari sepuluh tahun petualangannya itu.

Kenyataan bahwa negeri itu menjadi negeri terbelakang karena perang yang tidak pernah henti maka aku harus bilang iya, karena beliau pun tak mengelak bahwa itu adalah makanan sehari-hari bagi mereka. Bahkan sampai mereka bilang semua di Afghanistan itu mahal, kecuali nyawa manusia. Dan kenyataannya, miliaran dolar bantuan masyarakat Internasional, tak sampai 20 persennya dinikmati rakyat Afghanistan karena selebihnya habis dalam sebuah skema korupsi yang kompleks mulai dari menggaji tinggi para relawan hingga biaya rumah, keamanan dan pengawalan yang ketat bagi mereka. Aku cukup percaya dengan laporan itu, karena itu tulisan seorang petualang yang juga fotografer dan jurnalis.

Membaca buku setebal 500-an halaman itu membawa banyak refleksi tentang arti rasa syukur. Mari bersyukur ketika kita hidup di sebuah negeri yang merupakan hasil konsensus ratusan suku bangsa dengan bahasa mereka masing-masing untuk berikrar menjadi satu bangsa dengan nama bangsa yang satu, tanah air yang satu, dan bahasa yang satu, Indonesia. Ini anugerah yang sangat luar biasa jika harus dibandingkan dengan Afghanistan yang hanya terdiri dari beberapa etnik dan bahasa berbeda namun terus bergolak.

Di masa lalu, puluhan dinasti saling menumbangkan negeri yang dibatasi Sungai Amu Darya itu. Hingga masa kerajaan ketika Uni Soviet mulai melebarkan pengaruhnya, pergolakan melawan Komunisme bergejolak. Ketika Rusia menyerang, maka semua etnik bersatu menentang penjajahan, sementara permusuhan di antara mereka diredam dengan melawan tentara merah. Tetapi ketika mereka menang dan merdeka, kembali mereka bertarung satu sama lain. Tak jelas mana yang sesungguhnya sesama bangsa Afghan, mungkin mereka yang saat ini tinggal di Iran sehingga ketika mendapatkan perlakuan dari orang-orang Iran yang mereka pandang angkuh mereka merasa senasib sebagai orang Afghan atau mereka yang di Pakistan, mereka tidak peduli dengan kawasan Pasthunistan yang telah dibatasi garis Durrand. Itulah realita Afghanistan dari explorasi traveler Indonesia yang satu ini.

bersambung ….