Kategori
Dakwah Islam

Inspirasi Kisah Pernikahan Aktivis #3

Hari H pun tiba. Karena begitu bosannya duduk dan tebar senyuman di hadapan para hadirin. Setengah hari usai shalat Dzuhur, beliau tiba-tiba nimbrung di kalangan tamu laki-laki, bukannya menemani istrinya makan siang bareng. Kawan-kawan kampusnya justru heran dan meledeknya. Semua pun tertawa parah lihat sang pengantin laki-laki yang malah menghilang di kerumunan orang.

Masa-masa awal yang indah itu jadi lucu. Kata beliau, rasanya kikuk tiba-tiba ada akhwat yang begitu dekat dengannya, pegang-pegang tangan lagi. Trus bingung mau ngobrolin apa. Pokoknya itu ada rasanya tersendiri, lucu dan sangat romantis. Di benakku, itulah romantisme yang aneh tapi akan selalu terkenang. Kami makin tergelak-gelak habis ketika beliau bercerita masa-masa di awal itu (maaf saya rasa tidak perlu saya ceritakan dan ini juga bukan tentang yang sifatnya pribadi). Hal-hal yang sebenarnya umum untuk disaksikan banyak orang sebagai pasangan suami istri menjadi cerita yang kocak dan lucu untuk kami dengarkan.

Dan hari ini, rumah tangga itu telah dikaruniai seorang putri. Rumah tangga yang unik dan penuh dengan inspirasi. Barangkali dari sekian kisah yang panjang dan kocak itu, ada satu pesan yang paling menancap di kepalaku, yakni meluruskan niat saat menikah. Itu saja, karena yang lain-lain adalah bonus yang akan datang. Hal yang membuatku tersipu malu dengan diriku sendiri yang masih jauh dari apa yang beliau lakukan dan persiapkan. Alangkah jauhnya.

Aku hanya berharap pada Allah agar mendapatkan pertolongan untuk menjalani masa-masa persiapan dan penantian ini. Kisah ini kubagi untuk menasihati diriku dan para pembaca sekalian yang rindu membangun keluarga. Ini adalah kisah inspiratif, jika tertarik maka cara ini adalah cara yang baik. Jika pun tidak, maka tidak ada buruknya bagi yang telah membaca ini. Aku pun tak tahu warna apa yang akan kupilih nanti. Itu ada dalam hatiku. He he.

Sebenarnya ini adalah review ingatanku di tengah angkot yang macet di sepanjang perjalanan Parung-Bogor untuk menuju stasiun. Dan kereta komuter itu pun mengantarkanku ke Universitas Indonesia. Selamat tinggal Bogor.

Kategori
Dakwah Islam

Inspirasi Kisah Pernikahan Aktivis #2

Dan tahulah dia bahwa ternyata si pemiliki amplop pink itu memang bukan orang sembarangan. Seorang yang berasal dari salah satu ma’had terbaik di kota itu. Yang katanya merupakan tempatnya para akhwat idaman para ikhwan di kampus itu. (Dalam hati mungkin aku juga berharap kelak mendapatkan jalan yang serupa, setidaknya sarana dan resources-nya pun menunjukkan adanya kredibilitas yang tinggi). Bisa dibilang ini keberuntungan pertama beliau.

Saat taaruf dan nadzhar (melihat calon istri) pun dilakukan, mengingat kedua orang ini ternyata hanya cuma pernah saling kenal di beberapa agenda kampus. Beliau yang memang cenderung cuek dari membicarakan gadis-gadis di balik tirai warna-warni itu tentu tidak terlalu peduli dan mungkin telah lupa bahwa dulu pernah jadi satu panitia atau satu amanah. Intinya beliau tetap saja “slengekan“ menjelang taaruf itu. Dan benarlah, sang akhwat beserta murabbiyahnya, dan tentu saja sang ustadz dibuat menunggu setengah jam dari janji yang disepakati gara-gara masnya ini memilih mengantarkan temannya dahulu yang akan pergi. Teman kos lebih utama untuk diantar, barulah ke taaruf. Kata ustadznya, “Lo niat mau nikah ga sih?“. Jawabnya, “Ya niat, kan udah milih proposalnya.“ Tawa kami yang mendengarkan cerita ini pun meledak habis-habisan. Inilah kekonyolan berikutnya. Taaruf pun berlangsung singkat, karena memang tidak ada investigasi ala wartawan. Pulang sudah mereka.

Beberapa waktu kemudian, telpon berdering di ponselnya, “Dek, ini saya murabbiyahnya ….. Tolong nanti malam datang ke ma’had ya, ada uminya calonmu yang mau ngobrol“. Dengan santai dijawab, “Agak malam dikit ya Umi, mau berbagi inspirasi dulu ke jamaah. Mau nunggu kan?“. Aku tak habis pikir, ini keren sekali. Bahkan di masa sepenting ini, bagi beliau tetap santai dan “slengekan“. Pertemuan pun terjadi. Dari obrolan yang ngalor ngidul itu, ada fragmen percakapan yang membuat kami tertawa lagi ngakak-ngakak. Kata beliau kepada calon ibu mertua, “Bu, besok saya datang langsung lamaran ya Bu, biar segara bisa nikah. Ga usah pake silaturahim berkali-kali. Kalo boleh, saya seriusi, kalo ga saya cari yang lain deh ya”. Haduh parah banget lucunya, aku sempat bertanya, beneran tidak ini. Beliau dengan tatapan tajam mengatakan bahwa ini nyata, dia lakukan sendiri. Barangkali inilah yang mengagumkan dari sosok beliau yang sangat yakin dengan karunia Allah, jadilah proses khitbah (lamaran) berjalan lancar hingga penentuan pernikahannya.

Tenang ya, cerita belum usai. Kisah konyol masih akan berlanjut. Begitu menjelang hari-hari pernikahan beliau ternyata sempat lupa tanggalnya. Sang calon istri pun menelpon karena tak kunjung ada kabar soal berapa rombongan yang akan datang.

Calis (calon istri), “Akh, jadinya berapa orang yang akan datang? Kan tinggal sebentar lagi“.

Calmi (calon suami), “Lho, bukane masih pekan depan ya Ukh? Sabar ya, saya belum mengurusnya”.

Calis, “Akh, gimana sih, kan waktunya tinggal  5 hari lagi. Coba tengok di undangannya”. Gubrakkkkk

Calmi, “Oh iya bener, maaf ya. Oke deh. …………..( pembicaraan seputar persiapan teknis)”.

Kami semakin tergelak-gelak, kok lucu banget sih. Lagi-lagi aku tanya, beneran mas? Betul lah ya.

bersambung …

Kategori
Dakwah Islam

Inspirasi Kisah Pernikahan Aktivis #1

Kisah ini sebenarnya sudah lama pernah diceritakan kepada kami dalam sebuah perjalanan pulang di tengah kemacetan Jakarta. Karena temanya adalah merah jambu yang segar, tentu saja kemacetan yang tidak bermutu sebagai rutinitas di ibukota itu bukanlah hal yang perlu kami rutuki asal ada ilmu yang diserap sepanjang jalan.

Bismillah, semoga kisah yang diceritakan salah satu senior ini bisa kita ambil ibrahnya. Terutama diri ini yang saat ini belum menunaikan sunnah Rasulullah tersebut.  Sunnah yang ditekankan sebagai sebuah penyempurnaan ke-Islam-an kita. Bisa jadi mungkin karena saya yang belum kreatif dalam membuat rumusan perjalanan baru itu sehingga memilih untuk menunda-nunda. Di samping rasa tidak percaya diri yang masih menggelayuti, mungkin juga karena merasa belum layak untuk menjadi sosok suami dan ayah.

Ini kisah nyata dari perjalanan seorang aktivis menuju pernikahannya. Cukup lucu dan kocak, tapi penuh dengan prinsip. Dalam fragmen percakapan saya gunakan bahasa yang saya adaptasikan agar lebih asyik dibaca, tapi tidak saya hiperbolakan. Berikut kisahnya.

Seorang al-Akh yang pernah menjadi ketua organisasi universitas di sebuah kampus ternama di Indonesia itu akhirnya diwisuda. Di perjalanan panjang itu, dirinya telah menghajatkan diri untuk menikah setelah lulus kuliah. Puasa dan shalat malam adalah senjata yang dipilihnya. Meminta dikaruniai istri terbaik dan dimudahkan urusannya, bukan meminta agar dijodohkan dengan si A, kalau tidak bisa ya si B, apalagi si C. Karena Allah tahu siapa yang paling cocok baginya.

Sampailah ketika beliau mengutarakan maksudnya pada sang ustadz yang biasa ia datangi tiap pekan. Dijawablah maksud hati itu di beberapa waktu kemudian dengan beberapa pilihan proposal. Wuih, proposal apaan coba? Ha ha ha. Apa yang beliau lakukan? Survey satu-satu? Lihat ininya, itunya? Ternyata tidak. Beliau langsung menjawab, “Yang berwarna pink aja deh Tadz”. Ustadz pun kaget kok asal banget. Tidak dibuka-buka dulu, dibaca-baca dulu. Apa jawab beliau, “Saya pengin nikah, bukan survey cewek Tadz. Saya pilih yang pink karena kata orang pink itu imut dan cewek banget. Kalau saya membuka dan mensurvey satu-satu niat saya menikah untuk menyempurnakan agama takutnya hilang, karena faktor kecenderungan saya berpindah ke wajahnya, ininya, itunya dll. Saya udah melakukan banyak hal sebelum ini, masak hangus gara-gara itu” Sang ustadz pun mengiyakan, sambil tetap geleng-geleng kepala melihat binaannya begitu aneh itu.

bersambung ….

Kategori
Dakwah Islam

Munakahat, Tema Liqo yang Ga Bakal Bikin Ngantuk #1

Nikah, nikah, nikah. Itu adalah tema paling seksi bagi para mutarabbi yang berada di usia emas pertamanya. Usia-usia untuk ngeksis laksana burung merak yang mengibaskan ekor indahnya. Usia-usia di mana kelabilan para aktivis dites ulang, apakah mereka tetap pada jalan kenabian, atau terjerembab dalam berbagai upaya pembenaran sikap mereka. Dan di masa-masa ini, kalo kita ngaji, liqo, ikut dirosah dan sebagainya, rasanya ga bakal tidur kalo tema yang diangkat seputar munakahat alias pernikahan. Nggak percaya? Tanya aja pada yang udah mengalami.

Kali ini aku ingin berbagi atas nasihat dari murabbi tentang prinsip menikah dalam Islam. Rasulullah bersabda bahwa “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kedudukannya/ keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka, pilihlah yang baik agamanya niscaya engkau beruntung.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/242), Muslim (2/1086), Abu Dawud (2047), an—Nasaa’i (6/68) dan Ibnu Majah (1858))

Dalam prakteknya, kita mendapati realita para thulaby/ aktivis menggunakan berbagai jalur untuk menikah, seperti melalui proposal yang disampaikan kepada para murabbinya hingga di proses di Lajnah yang mengurusi masalah munakahat, mendatangi ustadz atau kiyai dan meminta rekomendasi jodoh atau malah dicarikan (terkadang malah memburu putrinya malahan), atau meminta rekomendasi teman yang bisa dipercaya untuk memilihkan pasangan yang tepat baginya.

Yang paling seksi dan sering menjadi pembicaraan di belakang para aktivis tarbiyah di kampus khususnya adalah menikah melalui jalur murabbi. Ketidakpahaman pada prinsip dan mungkin juga didukung oleh style murabbi yang  terkadang kaku dan cenderung “memaksa”, ditambah ketidakyakinan dan kekhawatiran akan calon yang keburu direbut orang kalau menunggu persetujuan murabbi atau malah khawatir ditolak murabbi padahal udah terlanjur nembak duluan seringkali menjadi pembicaraan yang hot dikalangan aktivis, padahal menurutku itu tidak lebih penting untuk dikaji dari pada masalah pemahaman dien para aktivis yang belum komprehensif dan cenderung underdoktrinitas ketika memahami berbagai permasalahan agama ini.

Logika yang sederhana mengapa kita (para aktivis tarbiyah) direkomendasikan menggunakan proposal atau melalui perantaraan lajnah, karena 3 hal pertama itu sangat mudah diukur dalam pandangan orang, bahkan tanpa perantaraan murabbi sekalipun. Kita tentu bisa dengan mudah mencari informasi masalah harta, nasab (keturunan), dan kecantikan dari berbagai sarana. Apalagi dunia cyber dan digital saat ini sudah semakin canggih, meskipun kadang realita di kampus malu-malu, toh seringkali kepergok juga aslinya akhwat-akhwat itu kalo lagi ngumpul sesama jenisnya. Ha ha ha. Atau kalau yang suka dan bisa nge-Hack itu makin mudah aja melihat sisi lain dari makhluk yang bernama Hawa itu jika mereka tak hati-hati dalam menjaga maruah mereka di dunia maya.

Nah, sedangkan satu hal terakhir itu kan sesuatu yang sulit diketahui. Hanya dia dan Allah sendiri yang tahu. Namun demikian, ikhtiar menggunakan jalur lajnah dan proposal kemudian dilanjutkan dengan masa taaruf sebelum nadzhar dan khitbah (lamaran) adalah untuk memastikan para pemuda-pemudi yang mau nikah itu menemukan chemistry-nya dahulu. Terkadang kan ada yang memang kenal sebenarnya sejak berpartner di organisasi kampus (yang ini pasti taarufnya sangat aneh dan kikuk, katanya mas-mbak yang udah nikah sih), terkadang juga belum saling kenal sebelumnya, sama sekali (nah yang ini katanya MR-q sering membuat mereka saling membisu diwaktu yang seharusnya mereka banyak bertanya dan berdiskusi).

Jika murabbi itu memahami hal ini, tentu sebenarnya tidak ada pemaksaan bagi ikhwan yang ingin menikah kepada akhwat yang diinginkannya. Yang ditekankan pada hal ini kan sebenarnya bagaimana setiap aktivis itu berusaha menjaga kejujuran dirinya agar tidak terjerumus pada Virus Merah Jambu. VMJ itu bukan berarti aktivis tidak punya rasa ketertarikan sama sekali terhadap sesamanya. Wajar sekali lah ketika seorang ikhwan terpesona dengan akhwat yang penuh dengan kelebihan, begitu pula sebaliknya. Bukankah Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah pun terpesona dengan Fathimah, begitu pula Fathimah pun jatuh cinta pada Ali karena ilmu dan akhlaknya sebagai pemuda meskipun dia seorang yang tidak berharta, hanya seorang kuli penimba air, tapi menyandang gelar sebagai bahrul ulum (samudera ilmu). Yang tidak wajar adalah udah jadi aktivis dakwah, SMS-nya, FB Messagenya, PM Twitternya dan berbagai yang tersembunyi itu isinya lebih parah dari pada yang terang-terangan berduaan nyicil di taman.

Nah, aku pun juga akhirnya mengerti tentang sesuatu hal yang sebenarnya duduk perkaranya sederhana ini (meski sebenarnya ini adalah sesuatu yang sangat sakral dan penting, jadi ga boleh main-main). Karena lewat jalur murabbi, ustadz, atau orang yang benar-benar bisa dipercaya untuk membantu pernikahan kita itu akan lebih menjamin kita menemukan pasangan yang shalihah. Adanya mereka sebagai perantara itu adalah sarana untuk kita mendapatkan yang kriteria yang keempat. Karena kan seapes-apesnya (padahal aslinya tetap untung sih) kita sebagai muslim kalau nikah, yang kriteria yang keempat itu (kualitas agama calon istri/suami) harus didapat. Syukur-syukur kalo 3 kriteria yang depan dapat semua. Udah mertuanya kaya, dari keturunan yang terhormat, anaknya super cantik lagi.

bersambung …..