Kisah ini sebenarnya sudah lama pernah diceritakan kepada kami dalam sebuah perjalanan pulang di tengah kemacetan Jakarta. Karena temanya adalah merah jambu yang segar, tentu saja kemacetan yang tidak bermutu sebagai rutinitas di ibukota itu bukanlah hal yang perlu kami rutuki asal ada ilmu yang diserap sepanjang jalan.

Bismillah, semoga kisah yang diceritakan salah satu senior ini bisa kita ambil ibrahnya. Terutama diri ini yang saat ini belum menunaikan sunnah Rasulullah tersebut.  Sunnah yang ditekankan sebagai sebuah penyempurnaan ke-Islam-an kita. Bisa jadi mungkin karena saya yang belum kreatif dalam membuat rumusan perjalanan baru itu sehingga memilih untuk menunda-nunda. Di samping rasa tidak percaya diri yang masih menggelayuti, mungkin juga karena merasa belum layak untuk menjadi sosok suami dan ayah.

Ini kisah nyata dari perjalanan seorang aktivis menuju pernikahannya. Cukup lucu dan kocak, tapi penuh dengan prinsip. Dalam fragmen percakapan saya gunakan bahasa yang saya adaptasikan agar lebih asyik dibaca, tapi tidak saya hiperbolakan. Berikut kisahnya.

Seorang al-Akh yang pernah menjadi ketua organisasi universitas di sebuah kampus ternama di Indonesia itu akhirnya diwisuda. Di perjalanan panjang itu, dirinya telah menghajatkan diri untuk menikah setelah lulus kuliah. Puasa dan shalat malam adalah senjata yang dipilihnya. Meminta dikaruniai istri terbaik dan dimudahkan urusannya, bukan meminta agar dijodohkan dengan si A, kalau tidak bisa ya si B, apalagi si C. Karena Allah tahu siapa yang paling cocok baginya.

Sampailah ketika beliau mengutarakan maksudnya pada sang ustadz yang biasa ia datangi tiap pekan. Dijawablah maksud hati itu di beberapa waktu kemudian dengan beberapa pilihan proposal. Wuih, proposal apaan coba? Ha ha ha. Apa yang beliau lakukan? Survey satu-satu? Lihat ininya, itunya? Ternyata tidak. Beliau langsung menjawab, “Yang berwarna pink aja deh Tadz”. Ustadz pun kaget kok asal banget. Tidak dibuka-buka dulu, dibaca-baca dulu. Apa jawab beliau, “Saya pengin nikah, bukan survey cewek Tadz. Saya pilih yang pink karena kata orang pink itu imut dan cewek banget. Kalau saya membuka dan mensurvey satu-satu niat saya menikah untuk menyempurnakan agama takutnya hilang, karena faktor kecenderungan saya berpindah ke wajahnya, ininya, itunya dll. Saya udah melakukan banyak hal sebelum ini, masak hangus gara-gara itu” Sang ustadz pun mengiyakan, sambil tetap geleng-geleng kepala melihat binaannya begitu aneh itu.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.