Kategori
Special Moment

Soul Power Outbond Special Bersama Insan-Insan Mulia #2

Usai memandu mereka aku lanjutkan diskusi dengan para asatidznya. Terutama kepada ustadz Budi yang menjadi pengasuh di Griya Quran Karanganyar. Aku belajar dari visi beliau tentang Griya Quran. Sebenarnya pondok ini adalah produk nyata lingkaran inspiratif ustadz Budi dan rekan-rekannya, termasuk di dalamnya Pak Indrawan Yepe sendiri bersama murabbi mereka. Tidak tanggung-tanggung, sebuah lingkaran inspiratif itu telah menginisiasi tumbuhnya 6 ponpes penghafal al-Quran. Visi besar beliau adalah menjawab tantangan ke depan untuk perbaikan moral bangsa di saat semua hanya sibuk untuk memikirkan politik dan intrik culas, maka mereka dipersiapkan untuk kepemimpinan yang sesungguhnya di masa nanti, baik dalam arti kepemimpinan formal atau pun dalam ketokohan yang akan memperbaiki bangsa ke depan.

Para penghafal Quran itu bukanlah golongan orang-orang konservatif seperti yang dipersepsikan hari ini. Mereka dipersiapkan sebagai orang-orang yang bisa menjaga apa yang diamanahkan buat mereka. Jika mereka saja mampu menjaga kalam Allah dalam hati dan ingatan mereka, maka tentu mereka juga sanggup menjaga amanah-amanah lainnya. Tidak seperti hari ini di mana banyak pemimpin yang muslim tapi tak mengerti agamanya dengan baik, yang berlabel cendikia muslim juga pemikirannya liar dan liberal. Maka tak usah heran kalo rakyat juga tidak simpati dan bahkan sering disakiti. Maka aku lebih sepakat kepada orang-orang yang solutif seperti ini. Sudahlah berhentilah mengumpat kegelapan, mari nyalakan lilin saja sesuai kemampuan kita.

Bagaimana dengan adik-adik AITAM. Mereka juga memberi warna dan nuansa baru dalam outbond kali ini. Kehadiran mereka adalah ujian kesabaran. Mereka adalah potret anak-anak yang optimis di tengah kehilangan yang melanda mereka. Ada yang telah kehilangan ayahnya, ada yang kehilangan ibunya, bahkan keduanya. Aku sempat bertanya ke salah satu adik imut, asalnya dari mana, dijawab tidak tahu. Oh, menjadi pengasuh mereka adalah kemuliaan. Karena Allah sendiri telah memuliakan keberadaan mereka sebagai unlimited asset ketika orang-orang mau mengambil bagian itu. Sebaliknya, menzaliminya adalah kerugian yang lebih berbahaya dari pada melukai orang yang sesamanya. Karena doa anak-anak yatim adalah doa yang ijabah ketika mereka memanjatkan permohonan itu.

Singkat cerita, perjalanan dua hari ini memberiku kebahagiaan tersendiri yang belum kudapatkan sebelumnya ketika bersama Quantum Confidence. Biasanya aku disuruh jadi pembicara atau mengisi di acara tertentu terkadang dapat parcel bahkan terdapat berbagai fasilitas dan uang saku. Tapi menjadi bagian dari tim Quantum Confidence, maka aku tidak tertarik untuk berbicara itu semua. Di sini aku dapatkan permata yang lebih berharga dari sekedar itu. Makna mendalam dan bahkan ilmu-ilmu baru karena dipertemukan dengan orang-orang pilihan.

Bertemu dengan adik-adik penghafal Quran dan adik-adik yatim piatu tentu adalah hal yang lebih berharga dari sekedar uang. Doa-doa mereka lebih berharga dari pada ucapan terima kasih. Dan lagi-lagi aku harus mengulangi rasa syukurku di tanah yang hijau itu. Bukit indah kedua setelah Gununggambar yang menjadi sejarah hidupku ketika kecil. Kini Segorogunung menjadi desa keduaku. Terima kasih ya Allah

Kategori
Sastra

Pemuda untuk Indonesia Esok

Jika ditanya siapa yang akan meneruskan memimpin bangsa ini

Para pemuda yang berseragam almamater itu menjawab “saya”

Baiklah anak muda

Apa modalmu?

Kepemimpinan? Berapa orang yang telah sanggup kau pengaruhi dan terinspirasi karena perjuanganmu?

Keberanian? Berapa kali kau merasakan bui dan cercaan dari para penjahat kekuasaan?

Kekuatan? Sudahkah engkau mandiri dan tak meminta uang jajan lagi?

Kompetensi? Sudahkah engkau penuhi kuliahmu hari ini dengan capaian terbaik?

Kreatifitas? Berapa banyak orang yang bisa keluar dari jerat permasalahannya karena gagasan dan solusi yang kau berikan dan kau wujudkan?

……… masih banyak yang sebenarnya ingin aku tanyakan

Jika apa yang ditanyakan di atas tak sanggup kau jawab dengan meyakinkan, haruskah aku yakin bahwa nasib Indonesia esok makin baik

Jika kalian pemuda untuk Indonesia esok, maka jawablah semua rentetan pertanyaan itu dengan kesimpulan “aku punya dan aku bisa mewujudkan Indonesia esok yang lebih baik”

Indonesia sudah dicengkeram perusak-perusak yang luar biasa banyaknya

Lengkap, terstruktur dan bahkan telah berkuasa

Hingga bumi pertiwi ini semakin rusak sempurna

Hanya , harapan itu masih ada

Seberkas senyum masih terlukis di wajah pertiwi ini

Karena masih ada segolongan pemuda

Yang hari ini mau berpayah dan bekerja keras

Membangun mimpi Indonesia lebih baik

Menetapi janji pemuda sebagai pembangun peradaban

Menunaikan amanah Sumpah Pemuda yang pernah diikrarkan 84 tahun silam

#menyambut hari sumpah pemuda yang tinggal beberapa menit lagi

Kategori
Refleksi

Sesederhana Pembicaraan Orang Kampung: Refleksi Kepemimpinan Kultural

Tadi pagi sehabis mengirim email ke salah satu rekan yang udah menunggu kirimanku sejak malam, kusempatkan diri untuk bercukur di tempat yang dulu pernah menjadi langgananku sejak kecil. Seorang tukang cukur yang dulu ketika masa mudanya adalah kiper tim sepakbola kecamatanku. Aha, alhamdulillah pagi ini masih buka. Akhirnya aku bisa cukur agar kekeritingan rambutku tak kian menampak.

Sederhana Pikirnya

Di tengah penatnya menunggu antrian, datanglah seorang kakek tua yang begitu khas dengan lintingan rokok di belah jarinya sambil membawa benih jagung super. Seorang kakek yang kemudian kuketahui berasal dari desa yang sama denganku. Dia datang dengan diantar kerabatnya (mungkin anaknya, mungkin juga menantunya). Terjadilah pembicaraan antara beliau dan orang yang tengah dicukur (antrian tepat sebelumku).

Pembicaraan berawal dari isu pemilihan lurah di desa sebelah, tempat orang yang dicukur itu tinggal. Aku kemudian jadi teringat dengan pembicaraan dengan ayah waktu sarapan pagi tentang kandidat calon lurah yang ada. Dan pembicaraan siang ini aku mendapat klarifikasi dan muatan pembicaraan yang cukup bermanfaat. Intinya, orang tadi mengaku puas dengan lurah yang sekarang memerintah. Berbagai infrastruktur desa dapat terpenuhi. Maka dia berharap istrinya yang menjadi calon lurah untuk pemilihan periode berikutnya terpilih. Hal itu pun diamini sang kakek dengan berharap pula ada perubahan nantinya di desaku setelah terjadi pilihan lurah yang baru yang masih dua tahun lagi.

Pembicaraan sang Bapak kepada kakek tadi sangat sederhana. Mereka hanya membicarakan tentang pembangunan yang nyata, yang mampu mengakomodasi kepentingan rakyat. Padahal sedikit banyak aku tahu bahwa lurah yang mereka puji itu sebenarnya termasuk orang cukup mengerikan dalam manuvernya. Namun sepertinya semua itu terlupakan ketika rakyat pun menikmati buah manuvernya dalam melobi dana-dana yang besar dari pusat meskipun dia sendiri termasuk orang yang ikut menikmatinya dalam jumlah besar. Ketika pernah bergulir isu bahwa dia menggelapkan ratusan sak semen, rakyat tidak begitu terprovokasi karena mereka melihat semua jalan di desa itu telah halus dengan corblok, setelah beberapa tahun silam hanya bongkahan batu kapur yang terasa begitu tidak nyaman ketika dilewati kuda besi (termasuk aku waktu sering melewatinya).

Potret Pemimpin Visioner

Aku kemudian jadi teringat bagaimana dulu pernah memiliki seorang lurah yang menurutku begitu visioner. Yang membuat desaku memiliki instalasi air bersih dari bantuan kedutaan besar Denmark, bahkan sang duta besar kala itu Mr. Michael Stanberg bersedia berkunjung langsung ke desaku. Tidak hanya itu, bahkan bantuan makanan sehat (SUN kedelai) pun berdatangan tiap bulan dari UNICEF. Lebih lanjut, bahkan bisa terselenggara event Festival Keseniah Yogyakarta yang bisa menghadirkan berbagai kesenian rakyat baik yang lokal maupun mendatangkan dari luar desa. Kemudian masih ada lagi turnamen-turnamen olah raga yang terselenggara tiap tahun. Meskipun beliau berasal dari jajaran TNI, namun beliau bukan orang yang anti Islam, bahkan setiap Ramadhan beliau meminta jadwal minimal sekali mengisi tausiyah tarawih di 14 masjid. Satu paragraf di atas mungkin belum cukup menggambarkan bagaimana beliau memerintah desa kami selama hampir 7 tahun sebelum akhirnya sebuah musibah mengantarkannya ke haribaan sang Pencipta.

Bagi yang kenal beliau lebih dekat, memang banyak hal yang dirasa tidak baik di belakang beliau. Isu tentang pencurian kayu dan pembongkaran kuburan-kuburan tua untuk dieksploitasi kayunya yang bernilai puluhan juta sesekali menghiasi pembicaraan masyarakat. Yah memanglah demikian manusia, ada sisi baiknya namun juga terlihat juga sisi buruknya. Aku pun juga tak memujinya berlebihan, karena beliau hanyalah manusia biasa. Namun aku salut dengan visinya untuk membangun desa terlepas bahwa beliau juga berambisi untuk menumpuk kekayaan yang banyak. Hanya yang aku ketahui selama itu, beliau tidak pernah menyelewengkan uang rakyat, apalagi uang pungutan atau uang dari pusat yang memang diberikan rakyat. Beliau banyak mengobyek dan memburu dana-dana ke sumbernya, mungkin untuk dinikmatinya dalam jumlah banyak, namun rakyat juga ikut merasakan pembangunan itu, salah satu buktinya adalah sekelumit kisah di atas.

Membangun Kepemimpinan Kultural

Melanjutkan pembicaraan tentang bapak dan kakek tadi. Sang bapak kemudian mengalihkan tema pembicaraan tentang sekolah anak-anaknya. Sang kakek pun menanggapi tentang kondisi cucu-cucunya yang hari ini ternyata masih ada yang tidak sekolah. Beratnya biaya sekolah hari ini membuat sang bapak berkata, “sing penting baune taksih pajeng De”. (Yang penting tenaga saya masih berharga, untuk bekerja). Sederhana sekali, kebanyakan orang desa hari ini di daerahku tak cukup jika hanya menggantungkan hidupnya dari ladang dan sawahnya. Multi kerja, mulai dari menjadi tukang kayu, tukang bangunan hingga tukang-tukang yang lain akan ditekuni oleh orang-orang paruh baya hari ini agar anak-anaknya dapat sekolah termasuk dapat memiliki hape dan kendaraan yang baik.

Maka tak heran jika kemudian banyak orang tua berharap sekaligus menjadi standar bahwa jika anaknya lulus sekolah menengah, mereka bisa bekerja ke Jakarta atau kota besar lainnya. Sehingga mereka dapat mengirimi orang tuanya tiap bulan sebagai balas budi kepada anak-anaknya. Mungkin ada yang tidak seperti itu, tetapi paradigma ini telah mengakar di sebagian besar masyarakatku hari ini hingga akhirnya sulit menemukan pemuda produktif di desa untuk mau berpikir dan memajukan desanya. Yang tersisa di desa kebanyakan para pemuda yang memang mengalami “kegagalan” pendidikan sehingga tidak seberuntung mereka yang berhasil merantau di kota.

Maka apa solusinya? Dibutuhkan puluhan bahkan mungkin juga ratusan pemimpin muda baru yang memahami kultur masyarakat. Yang mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat yang rata-rata sangat ortodoks plus konservatif dengan visi masa depan untuk mewujudkan masyarakat madani. Pemimpin yang mampu berbahasa sederhana kepada masyarakat namun mampu mentransformasi pemikiran mereka secara kultural sehingga masyarakat menjadi cerdas dan makin berkembang. Dan tentunya pemimpin yang solutif untuk mengentaskan berbagai permasalahan riil masyarakat, yang tidak hanya beretorika namun miskin aksi nyata.

Tentang kepemimpinan kultural ini, maka aku jadi terharu ketika mengingat shirah nabawiyah tentang kisah kepemimpinan Rasulullah. Ketika ada ejekan dari tokoh Quraisy yang mengatakan bahwa yang lebih pantas menjadi nabi itu adalah dirinya, yaitu al-Walid bin Mughirah. Dia telah menghabiskan banyak harta untuk menjamu tamu dan mencitrakan dirinya. Allah telah mengejeknya dalam surat al-Balad karena kesia-siaannya itu. Yah, Rasulullah adalah potret pemimpin kultural sejati, yang mampu menyampaikan risalah Islam ini ditengah masyarakat yang rusak luar biasa. Beliau membuktikan bahwa simpati rakyat itu tidak hadir dari sebuah pencitraan, tetapi dari kedekatan personal dan solusi yang dia hadirkan. Cukup sudah ayat-ayat di sebagian akhir surat al-Balad membuktikan bahwa beliau itu adalah sosok yang menghadirkan solusi di tengah masyarakat.

Hal ini semestinya menjadi perenungan kita semua yang terobsesi dengan masalah kepemimpinan dan politik. Baik yang memang ingin berkuasa maupun mendukung orang yang berkuasa. Apakah pencitraan dan penokohan orang itu adalah strategi yang dibenarkan jika kita tidak mengimbangi dengan pembinaan yang lebih intensif terhadap calon-calon pemimpin yang dihadirkan. Adalah kenaifan hari ini ketika partai politik sibuk mencitrakan orang-orangnya agar seolah-olah “baik” dimata rakyat lewat corong-corong media yang mereka kuasai. Tidak salah memang, karena demikianlah demokrasi. Tapi jika ujung-ujungnya transaksional atau mungkin lebih parahnya adalah demokrasi tanpa gagasan, itu akan menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Tak luput juga hari ini di kalangan aktivis dakwah yang lupa untuk membangun dakwah kultural dan membangun kepemimpinan kultural.

Dakwah itu sebenarnya mengajarkan kita untuk menjadi manusia kultural. Manusia yang menyatu menjadi bagian dari manusia lainnya namun memberi warna dan bersinar karena kebaikannya. Sehingga sinar itu mencerahkan pemikiran yang rusak, menerangi hati-hati yang gelap dan memancarkan energi perbaikan untuk lingkaran sekitarnya. Ketika disebut kultural seringkali banyak yang terobsesi dengan budaya dan menghalalkan tradisi sebagai sarana dakwah. Bukanlah demikian, karena hakikatnya manusia itu memiliki persamaan nilai-nilai kebaikan yang universal dan Islam-lah yang sebenarnya mampu menyentuh sisi-sisi itu karena memang karakteristik Islam itu universal.

Jika dakwah Islam ini ingin mengakar di masyarakat, maka kuncinya adalah pada pribadi para aktivis dakwahnya. Apakah bisa menjadi pemimpin kultural atau hanya sekedar orang-orang yang sok bisa memimpin dan merasa tinggi karena status kekaderannya. Semoga kata ini dapat menampar pipi yang menulis, yang harus melawan dirinya sendiri dari kesombongan dan merasa benar sendiri. Pemimpin kultural, kunci perubahan bangsa ini.