“Siswa yang rapornya merah, dengan siswa yang mendapat juara, otak mereka sama. Tidak ada orang yang bodoh dalam pandangan saya. Mereka semua punya hak untuk menjadi hebat. Tidak ada bakat, yang ada adalah mimpi yang tinggi dan usaha keras untuk mewujudkannya” (Indrawan Yepe)
Tadi siang adalah my first experience berhadapan dengan siswa di SD yang kisahnya pernah kutulis di postingan sebelum ini. Hemm, sebelumnya juga sudah kuulas bagaimana para guru-guru di sekolah itu. Siang ini pun, aku sempatkan diskusi dengan seorang dari mereka. Apa yang keluar dari mulut mereka terkait para siswa yang mereka ajar sendiri setiap hari, “Pak, anaknya nakal-nakal, susah diatur”. Dalam hatiku ada rasa marah yang cukup dahsyat. Ingin sekali mengumpat, “Lo sebagai guru yang udah jelas dibayar di sini, dikasih amanah mendidik, kok ya bisa-bisanya nyebut kayak gitu. Dasar parah”.
Cukup menyebalkan memang komentar guru yang seperti itu. Bagaimana SD-nya akan berkembang jika para pendidiknya saja adalah orang yang persepsinya aneh seperti itu. Siswa SD ya memang seperti itu, energik, liar dan penuh dengan kejutan. Mereka adalah orang-orang yang paling pure untuk dilatih dan dibentuk menjadi pribadi luar biasa. Bahkan yang lebih menyakitkan adalah ada ungkapan dari siswa yang berkata bahwa ada guru yang mengatai mereka sebagai “setan” karena tidak mendengarkan waktu pelajaran.
Oh, menyedihkan sekali guru SD seperti itu. Padahal 1,5 jam berhadapan dengan mereka rasanya mengasyikkan. Bermain bercanda dan penuh gelak tawa, meskipun juga tetap ada gangguan kecil khas anak SD, yaitu mengejek satu sama lain. Biarlah, itu dunia mereka. Yang terpenting bagi seorang guru SD adalah membuat mereka menikmati dunia kanak-kanak ini untuk belajar dan menemukan titik terkuat pembelajaran mereka. Mereka adalah anak-anak yang polos, yang tidak bisa dipaksa mengerti dengan cara orang tua, tetapi bagaimana mengerti dengan cara mereka.
Wahai para guru SD, terlebih yang hari ini sertifikasi. Jangan sampai kalian memakan harta haram karena kalian justru semakin kejam memperlakukan anak didik kalian. Bagaimanapun, TK dan SD adalah pondasi membangun karakter. Maka guru-guru yang membangun pun adalah guru untuk manusia, bukan untuk robot. Yaitu guru yang bisa mengerti kebutuhan anak-anak dan sanggup memberi apa yang terbaik untuk mereka. Bukan menuntut apalagi membodoh-bodohkan.
Guru yang paling tolol adalah yang mengatakan siswanya bodoh. Ya mungkin memang siswa dalam pandangan kita “tidak bisa”, tapi bukan bodoh, karena ketidakbisaan itulah mereka punya alasan untuk sekolah dan belajar. Kalo sudah pintar ngapain juga belajar dan sekolah. Guru yang paling menyedihkan adalah guru yang tidak mendapat pahala dari profesi yang dia jalani setiap hari karena kehadirannya tidak menjadi inspirasi untuk sebuah kejujuran dan kemuliaan akhlak. Menjadi guru SMP dan SMA mungkin tak sebesar guru SD tanggungjawab moralnya. Makanya seharusnya berbanggalah menjadi guru SD, sang peletak dasar karakter dan kepribadian siswa.
Maka, sekali lagi, tidak ada siswa yang bodoh. Tidak ada siswa yang bodoh. Tidak ada siswa yang bodoh.