Dalam sebuah diskusi/training yang pernah ku ikuti ada sebuah pertanyaan menggelitik. Ketika pertanyaan itu kulontarkan ke teman-teman kebanyakan justru balik bertanya. Bukan jawaban yang diperoleh, melainkan pertanyaan baru yang membuat pusing orang yang mendengar.

Pertanyaan itu kira-kira begini

Apa implikasi dari pernyataan-pernyataan berikut:

1. Orang yang bodoh dan tidak mengetahui kalo dia bodoh, maka ………..

2. Orang yang bodoh dan mengetahui kalo dia bodoh, maka …..

3. Orang yang pandai dan tidak mengetahui kalau dia pandai, maka …..

4. Orang yang pandai dan mengetahui kalau dia pandai, maka ……

Dalam diskusi itu, ada yang memberikan jawaban yang menurutku bagus.

Pertanyaan 1

Orang yang bodoh dan tidak mengetahui kalo dia bodoh, maka dia sok pintar. Kenyataan tersebut sering kita jumpai di sekitar kita, betapa banyak orang yang jauh dari ilmu tetapi merasa tahu dan mungkin juga orang yang menulis catatan ini. Saya teringat ceramah Aa Gym sewaktu beliau mengilustrasikan orang yang tidak mau dinasihati, dia berkata ” Diam, saya sudah tahu”. Begitukah kita?

Pertanyaan 2

Orang yang bodoh dan mengetahui kalo dia bodoh, maka dia belajar. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang bijak. Para ulama telah memberikan contoh pada kita dalam belajar. Orang-orang besar telah memberikan teladan bagaimana belajar atas hal-hal yang tidak kita ketahui. Jadilah kita manusia yang selalu rendah hati untuk mau mendengarkan pelajaran dari orang lain.

Pertanyaan 3

Orang yang pandai dan tidak mengetahui kalo dia pandai, maka dia akan dimanfaatkan orang lain. Dan ini bisa saja terjadi pada diri kita atau banyak orang yang disekitar kita. Tentu kata “pandai” di sini harus kita tafsirkan secara relatif, dimana kita sebenarnya dikatakan relatif pandai dari pada orang lain, namun karena ketidaktahuan kita akan potensi kepandaian itu dalam hal tertentu akan dimanfaatkan orang lain dalam mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Mungkin bangsa Indonesia “menikmati” penjajahan 350 tahun ya karena ada sekian orang pandai yang lebih suka berkhianat terhadap bangsanya. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya mereka bisa saja memanfaatkan kedekatan mereka dengan penjajah untuk membuat konspirasi penghancuran. Sayangnya hanya Teuku Umar dan segelintir orang saja yang mencoba siasat ini. Akankah kita seperti golongan ketiga ini?

Pertanyaan 4

Orang yang pandai dan mengetahui kalo dia pandai, maka dia pura-pura bodoh. Ini pertanyaan yang paling sulit dijawab dan menimbulkan perdebatan panjang. Tapi yang jelas implikasi pertanyaan no 4 ini sepertinya mustahil ada, kecuali dalam cerita dan kabar yang belum pasti kebenarannya. Kita pasti akan ribut dengan definisi “pandai”. Maka yah, ini kita bayangkan saja dalam khayalan. Tapi jika ingin melihat tingkah aneh ini, silahkan baca cerita-cerita tentang Nasrudin Hoja atau sejenisnya.

Nah, kira-kira ulasan saya seperti itu. Tulisan ini sangat debatable, maka silahkan yang mau berkomentar, silahkan yang mau menolak, mendukung bahkan menghancurkan. It’s up to you.

Hanya saja, saya mengkampanyekan kepada kalian semua untuk memilih golongan no.2. Insya Allah selamat. Dan Selamat mencoba!

(Repost from my FB Notes)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.