Kaum dhuafa, anak yatim, dan orang yang ditakdirkan Allah di dunia ini dalam keadaan tidak sempurna adalah manusia-manusia spesial yang akan menjadi ujian bagi hamba-hamba-Nya yang lain. Bagaimana tidak? Mereka adalah golongan yang lemah dan akan menjadi salah satu penguji bagi kita yang menjadi manusia yang berkecukupan, terlebih bagi para pejabat dan penguasa negeri ini.

Ceritanya, hari ini seperti biasa aku nongkrong di rumah blogger. Alhamdulillah karena hari Sabtu ini tidak ada agenda macem-macem, saya bisa menikmati aktivitas online di rumah blogger. Ternyata hari itu bersamaan dengan rapat keluarga besar difabel Solo. Aku sebenarnya bukan siapa-siapa di situ. Tetapi karena di satu tempat, maka secara tidak sengaja dan akhirnya kubuat sengaja, aku ikut mendengarkan pembahasan mereka.

Dari apa yang mereka diskusikan hampir setengah hari itu, aku salut sekali melihat optimisme mereka berjuang dalam hidup, meski dalam realitanya banyak yang menyisihkan dan merendahkan keberadaan mereka. Yang aku tahu dari rekan-rekan difabel yang biasa ngendon di rumah blogger, tidak ada satupun dari mereka yang jadi pengemis, apalagi pemalak (lah iya ga mungkin lah). Mereka semua mencari nafkah untuk kehidupan mereka dengan bekerja, bahkan ketika aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kerja keras salah satu difabel mengerjakan pesanan kaligrafi, aku hanya bisa menangis dalam hati. Begitupun mereka, kini telah menekuni berbagai profesi yang membuat mereka terhormat. Ya Allah, kau tampar aku dengan optimisme mereka.

Tetapi selain optimisme itu, aku juga perlu berbagi tentang hal-hal yang selama ini luput dari perhatian kita. Ada kisah pengusiran tempat tinggal di salah satu kompleks yang dulunya disediakan untuk para difabel itu. Sejak ada pengalihan kewenangan akibat perubahan birokrasi pemerintahan, mereka diminta keluar secara tidak hormat karena lokasi itu akan dijadikan pusat bisnis. Ada juga kisah bagaimana mereka mendapatkan penghinaan, penganiayaan, bahkan pelecehan seksual hingga hamil. Tidak ada advokasi yang bisa mereka lakukan karena ketika mereka melaporkan ke polisi atau pengadilan dianggap sebelah mata akibat keterbatasan mereka. Hanya beberapa di antara mereka mendapatkan layanan hukum setelah mendapatkan dukungan dari media massa. Dan masih banyak kisah memilukan lainnya yang tak sanggup kuceritakan di sini.

Setidaknya, suara ini menjadi nasihat yang berharga bagi kita yang hingga hari ini dikaruniai oleh Allah keadaan yang terbaik agar selalu bersyukur. Sekaligus ini menjadi peringatan siapa pun yang memiliki obsesi menjadi penguasa atau menduduki posisi penting di negeri ini. Setahuku, para khalifah setelah Rasulullah dan pemimpin-pemimpin yang shalih tidak pernah melakukan kalkulasi atas capaian pemerintahannya dengan menunjukkan perbandingan prestasi yang dicapai dan apa yang gagal. Mereka selalu sibuk untuk memikirkan hal-hal yang sering diabaikan kebanyakan orang seperti dalam hal penanggulanan kemiskinan hingga masalah orang-orang yang terzalimi. Mereka takut jika aduan satu dua orang yang terabaikan ini menjadi penyebab ruwetnya perhitungan mereka di akhirat. Masihkah kita akan tersenyum dengan obsesi itu? Obsesi menduduki kursi kepemimpinan adalah mulia, tetapi kemuliaan itu harus dibuktikan dengan sungguh-sungguh.

Tulisan ini hanyalah pengingat diri dan sebentuk advokasi bagi jiwa-jiwa yang masih peka untuk mendengar hal-hal yang tidak bisa lagi didengar dengan cara konvensional. Tak mungkin kita mendengar mereka dengan cara menunggu laporan, karena bisa jadi mereka lebih kuat memendam keluhan ketimbang kita yang mungkin mudah berkicau gara-gara fasilitas yang tak memuaskan atau layanan yang menyebalkan. Tapi mereka? Semoga kita tidak termasuk bagian orang-orang yang mereka adukan kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.