Ceritanya tadi malam, habis mengisi halaqah ada satu adik yang masih ingin berdiskusi denganku. Adikku ini adalah blogger juga yang tulisan-tulisannya sangat kritis dan mendalam. Sayangnya menurutku tulisannya terlalu rumit dan filosofis sehingga mungkin jadi kurang menarik bagi sebagian orang yang membacanya. Bukan karena isinya, tetapi kerumitan bahasanya yang tingkat tinggi (bahkan kadang aku juga harus loading sesekali kalo lagi baca tulisannya) sehingga menurutku perlu disederhanakan lagi agar nilai kemanfaatannya lebih diterima banyak orang.

Aku kemudian teringat dengan buku The Apple Way, yang terakhir kubeli sebelum berangkat ke Jerman. Salah satu inspirasi dalam buku itu adalah bahwa ketika kita akan menyajikan sebuah program yang mudah bagi pengguna maka itu adalah sesuatu hal yang paling merumitkan programmer. Maka aku sadar bahwa menjadi orang yang lebih beruntung dalam pendidikan atau kesempatan apa pun itu sejatinya memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan akan menghadapi kesulitan yang lebih. Menjadi kaum intelektual itu sejatinya bukan untuk berpamer ria bahwa dia cerdas dan dapat berbahasa dengan indah saja, tetapi justru mengemban tanggung jawab untuk memikirkan permasalahan hidup yang lebih rumit dan lebih banyak ketimbang jutaan rakyat yang hari ini tidak dapat mengenyam pendidikan.

Maka sangat disayangkan ketika hari ini banyak pelajar yang pembiyaan sekolahnya sudah dijamin negara (bahkan kadang masih disuplai orang tuanya) justru lebih suka membolos dan melakukan hal-hal yang tidak penting lagi tidak bermanfaat. Sangat menyedihkan ketika melihat mahasiswa yang disubsidi negara justru tidak belajar tekun untuk menguasai bidang ilmu serta mengembangkan dirinya, tetapi justru terjebak kepada kebutuhan pragmatis untuk segera bekerja semata tanpa memiliki visi yang jauh ke depan untuk mengabdi kepada bangsa.

Yah, salah satu jalan Apple ini akan menyadarkan kita bahwa menjadi kaum intelektual itu bukan sekedar membanggakan diri dengan menyandang title baik sarjana, master atau doktor nantinya. Tetapi sejatinya menjadi orang yang paling idealis ketika banyak orang telah kehilangan idealismenya. Menjadi orang yang paling takut kepada Allah karena keilmuan yang dimilikinya. Menjadi orang yang paling siap berkorban untuk bangsa ini ketika tanah air ini memanggil baktinya. Huft, aku rindu suasana itu terwujud lagi suatu saat, hingga akhirnya bangsa ini kembali ke rel yang benar untuk segera lepas landas meninggalkan era VOC yang masih terus melekat kuat sampai hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.