Jengis KhanSiapa yang pernah membaca riwayat hidup Jengis Khan? Aku akhirnya bisa menamatkan buku yang bercerita tentangnya, setelah beberapa kali sebelumnya hanya membaca sekenanya beberapa buku yang bercerita tentang hidupnya. Jengis Khan, begitulah gelar agung yang disematkan bangsa Mongol untuknya ketika berhasil mengubah peradaban bangsa yang nomaden dan saling bertikai menjadi kekuatan baru yang mampu menguasai sebagian besar benua Asia.

Jengis Khan dan Mongol

Pekan ini sebuah buku tentang Jengis Khan akhirnya bisa kubaca secara lengkap, dengan tajuk Sang Penggembala yang Menaklukkan Dunia, karya Najamuddin Muhammad. Dari buku yang cukup tipis itu aku mendapati beberapa hal yang mengubah paradigmaku sebelumnya tentang karakteristik bangsa Mongol yang sangat barbar dan kejam. Tidak salah memang, tetapi juga tidak sepenuhnya benar bahwa bangsa Mongol itu merupakan bangsa yang kejam tanpa belas kasihan sama sekali.

Siapakah dia? Seperti halnya Shalahuddin al-Ayyubi riwayat sejarahnya kurang dikenal. Kali ini bukan karena asalnya yang tidak terkenal, tetapi memang tradisi bangsa Mongol rendah dalam dunia literasi, sehingga dokumentasi sejarah keberadaannya pun terbatas. Yang jelas beliau bernama asli Temujin, dan Jengis Khan adalah julukan sebagai raja besar yang berarti Khan dari para Khan.

Masa kecil beliau yang sangat pahit dan penuh tekanan menempa hidupnya untuk menjadi seorang yang perkasa. Pembunuhan yang menimpa ayahnya dan berbagai kebiadaban yang menyerang klan-nya menjadi api dendamnya yang di kemudian hari berubah menjadi tekad sekaligus visinya untuk menguasai dunia.

Teladan yang berharga darinya adalah kemampuannya berdiplomasi dan berkomunikasi dengan masyarakat, serta kegigihannya dalam berjuang sehingga terwujud perubahan social masyarakat dari yang nomaden dan suka bertikai satu sama lain menjadi bangsa besar yang kokoh dengan nama bangsa Mongol, yang siap menaklukkan dunia. Siapa menyangka kaum penggembala yang biasa berkemah di padang rumput dengan ternak-ternak mereka akhirnya terbukti sangat ditakuti oleh kekuasaan besar dunia mulai dari China, Eropa Timur, Rusia, bahkan kekhalifahan Islam di Baghdad.

Konsistensi Jengis Khan dalam membangun tatanan baru masyarakat nomaden patut diacungi jempol. Tradisi kesukuan dan rasa berbangga antar suku nomaden berhasil ia kikis dan ia ganti dengan semangat kebangsaan untuk kejayaan bangsa Mongol. Meski pada awalnya pernah tercerai-berai setiap kali ada usaha membangun, beliau tak pernah patah semangat untuk memulai lagi hingga akhirnya beliau sendiri yang merasakan hasilnya untuk pertama kalinya memimpin berbagai ekspansi ke penjuru Asia, sekaligus menghukum wilayah-wilayah yang sebelumnya menyombongkan diri dan merendahkan mereka.

Memang ada hal yang mengerikan dari bangsa Mongol, mereka belum memiliki ketertarikan dalam dunia ilmu pengetahuan seperti halnya kaum muslimin ketika itu. Maka disamping kebiasaan mereka membantai seluruh penduduk setelah berhasil menguasai kota dan membumihanguskannya, mereka juga turut melenyapkan khazanah ilmu yang pernah dimiliki umat Islam di kota Baghdad ketika berhasil mereka rebut dari tangan Khalifah al-Mu’tashim. Bahkan sang khalifah pun disiksa hingga wafat. Inilah mereka ketika berada di luar dunia mereka. Tapi sesama mereka, kiranya upaya Jengis Khan tadi sudah cukup untuk kita memahami mereka bahwa mereka adalah bangsa yang baru, bukan bangsa nomaden yang liar seperti sebelumnya.

Indonesia Pernah Menang atas Mongol

Meski bangsa Mongol dikenal sangat sadis dan kejam, mereka bukanlah bangsa yang terbiasa mengingkari janji. Mereka adalah bangsa yang setia menjaga janji dengan sekutunya, seperti halnya kepribadian Jengis Khan. Kemampuan menjaga loyalitas ini terus bertahan dan berjalan baik dalam proses regenerasinya sampai beberapa Khan berikutnya. Yang pasti, kecerdikan Jengis Khan untuk meminta para pengawalnya menjaga berita kematiannya dan tidak pernah menjadikan hal itu berita pagi para pasukannya membuat pasukan mongol tetap setia kepada pemimpin selanjutnya dan tetap solid sekaligus mengerikan.

Ketika Jengis Khan wafat, wilayah yang berhasil dikuasai bangsa Mongol sangat luas mulai dari pantai timur Pasifik hingga Laut Kaspia. Dan kekuasaan ini diteruskan oleh Jochi, Orde Khan, Tolui Khan hingga akhirnya Kubilai Khan. Pada kata Kubilai Khan ini, kita bisa menarik benang merah dengan sejarah Indonesia. Yang sering dijumpai di buku sejarah, kisah ini dianggap biasa-biasa saja ketika Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Kubilai Khan yang ke tanah Jawa. Pada masa Kubilai Khan, dia memindahkan ibu kota Mongol ke Beijing (dulu ibukota kerajaan Jin, kerajaan kedua yang ditaklukkan oleh Mongol di masa-masa awal). Maka seringnya buku sejarah menyebut Kubilai Khan dari China, dan kesannya hanya menunjuk pada bangsa China, padahal sebenarnya adalah bangsa Mongol yang telah menebarkan kengerian di seantero penguasa Asia.

Maka seharusnya kita boleh sedikit berbangga (sedikit saja) karena bangsa kita telah berhasil mengalahkan pasukan mereka yang telah berlabuh di tanah Jawa. Setidaknya ini adalah catatan kebanggaan bagi negeri ini ketika kala itu imperium-imperium besar berhasil dikalahkan oleh  Mongol. Sayang, peristiwa ini kurang mendapat perhatian para guru sejarah untuk menggugah para siswanya sehingga membangkitkan moral bangsa kita bahwa kita punya banyak catatan kemenangan. Yang ada justru, kata penjajahan menjadi paradigma yang selalu melekat di kepala para guru dan diajarkan berulang-ulang kepada para muridnya setiap tahun.

Mongol tetaplah bangsa manusia, mereka hidup berdampingan satu sama lain. Saling setia dan berkorban untuk kehormatan bangsanya. Berawal dari suku-suku yang saling berperang akhirnya mereka menyatu dalam satu bendera. Bukankah kita dulu juga demikian, mengapa setelah merdeka bangsa kita justru terpuruk. Bukankah kita punya sejarah yang tak kalah mengagumkan? Mungkin jawabannya adalah karena generasi hari ini tak mengerti dan tak tersambung dengan sejarah mereka. Kemenangan Raden Wijaya atas Mongol hanyalah satu catatan kecil kegemilangan yang pernah dimiliki bangsa ini. Masih banyak kisah heroik lainnya yang bisa kita ambil kalau saja bukan karena kata “penjajahan“ bergabung dengan angka 350 tahun. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kemerdekaan yang telah Allah hadiahkan ini.

Dinasti Muslim Mongol

Sepeninggal Kubilai Khan, kekuasaan Mongol terbagi menjadi 5 dinasti yang berkuasa, ada dinasti China, Chagadai, Golden Horde, Ilkhan, dan Siberia. Dari kelima itu Chagadai, Golden Horde, dan Ilkhan setelah melalui regenerasi menjadi dinasti-dinasti muslim Mongol. Karena sebenarnya ketika pada masa penaklukan mongol ke wilayah kekhalifahan Islam, banyak pasukan mongol yang memeluk Islam, hanya saja kesetiaan mereka untuk Mongol masih lebih kuat.

Dari ketiga dinasti inilah, supremasi kekuasaan Islam tegak kembali di bawah naungan khilafah Islam. Muncullah nama Timur Lank dari Chagadai yang terkenal tegas dalam menerapkan syariat Islam, kebengisan darah leluhurnya menjadikannya tegas mengatur wilayah pemerintahan. Kemudian Uzbeg dari Golden Horde sebagai pemimpin yang berhasil menerapkan undang-undang Islam secara penuh. Dan Ghazan dari Ilkhan yang tak kalah hebat dari kedua pemimpin yang telah disebutkan sebelumnya.

Demikianlah kisah besar penguasa yang memiliki arti tersendiri bagi dunia dan selalu menjadi inspirasi bagi para pemimpin besar. Yang tidak sekedar menjadi bagian sejarah, tetapi sang pembuat sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.