Hidup hari ini itu seperti menapaki dunia multidimensi kayak di film-film itu. Sesungguhnya hari ini setiap diri kita diuji untuk menjadi siapa sebenarnya kita. Di tengah tekanan yang membunuhi jiwa-jiwa suci, maka ujian datang untuk menanyakan pada diri ini, apakah engkau juga sama seperti yang telah mendahului? Di tengah era eksistensi hari ini, terkadang kita juga dipaksa untuk mengeksis ria dengan sesuatu yang sebenarnya bukan punya kita. Di tengah era yang penuh basa-basi hari ini, terkadang kita harus banyak tersenyum meski hati semakin pahit menyaksikan berbagai kontradiksi yang seolah tak berujung ini.

Orang itu hanya wang sinawang, begitu dalam sebuah idiom bahasa Jawa. Banyaknya sarana yang dapat mengganti bahasa hati hari ini terkadang memukau dan melenakan pandangan mata hati kita. Ketika rupa dan kata begitu indah tertata, ternyata tak sadar kita telah dibuai dalam berbagai kesesatan yang nyata. Ketika eksistensi membesar meski tak sebenar kenyataannya, kita dengan mudah terperangah dan menyembah. Begitulah, wang sinawang yang membuat bangsa ini pun laksana buih di atas gelombang air laut.

Siapakah yang sanggup bertahan? Mereka yang oleh Allah diberi penglihatan dengan perspektif yang tidak dimiliki kebanyakan manusia. Sebuah cara pandang yang teguh dalam menilai setiap hal berdasarkan apa yang Allah tetapkan. Mereka yang Allah kuatkan lisannya untuk berkata dengan kebenaran dan dengan cara yang tepat bukan asal serampangan. Mereka yang Allah jaga hatinya dari berbagai kedengkian ketika hari banyak orang sibuk dan tersesat pada skema pendengkian (bukan lagi kedengkian), karena banyaknya kabar yang tak terklarifikasi berseliweran di telinga-telinga orang awam.

Ah jadi orang Indonesia hari ini kalau tidak berhasil positif thinking pasti bakal misuh-misuh alias mengumpat karena keadilan telah dicabik-cabik dan semua hal dipermainkan. Pemerintah, kata teman-teman online-ku, no hope lah mereka. Media, itu mah permainan kata-kata dan opini, yang ngasih uang banyak itu yang dipilih oleh redaksi, ga peduli benar atau salah atau bahkan sesat. Apalagi, sekolah, itu sudah basi, aku kasihan lihat adik-adik capek dengan sekolahnya hari ini. Pedangang, tukang becak, petugas sampah, mereka telah dihinakan oleh pemerintah dan para pengusaha.

Terus berbuat saja sebisanya, terus berpikir yang baik-baik saja. Dan memang negeri ini butuh keajaiban. Algoritma super rumit yang telah ditanam sejak masa kolonial ini terlalu susah untuk diselesaikan dengan kepala manusia saja. Maka ketika orang-orang beriman telah berpasrah kepada Rabb-nya semoga semua jerat dan kait yang saling berkelindan memasung kebebasan dan kedamaian hamba-hamba-Nya lekas sirna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.