Masih tune in dalam pembicaraan politik. Fenomena yang menarik hari ini adalah melihat komentar para pengguna media sosial tentang baik dan buruknya partai sebatas kasus yang diangkat media. Di tulisan saya sebelumnya telah saya tulis bagaimana media hari ini sulit dipercaya bahwa mereka serius memberitakan sebuah fakta mengingat mereka juga berbisnis dengan berita itu.

Pertanyaan dasarnya adalah berapa kalangan masyarakat yang mengerti bahwa cara mengenal parpol itu dari sejarah, AD/ART, visi dan misinya? Pertanyaan berikutnya berapa parpol yang serius untuk menyosialisasikan hal terpenting itu ke masyarakat? Pertanyaan berikutnya apakah hal itu menarik untuk dijadikan komoditas politik saat ini? He he he, aku tidak mau menjawabnya. Karena Sahabat juga bisa membuat jawabannya sendiri.

Sekarang saya lebih menyentil teman-teman pelajar dan mahasiswa yang masih dianggap sebagai elang bebas. Sejauh ini Sahabat belajar politik seperti apa ya? Apa juga ikut-ikutan berdasarkan cara populer itu saat ini. Atau jangan-jangan yang hobi komentar di Facebook dan berkicau itu adalah para kaum terpelajar ini. Secara yang hobi memakai smartphone dan komputer kan ya kaum terpelajar kan. Masak iya pak tani di kebun bisa, paling mentok mereka SMS dan telepon saja dengan ponsel yang jadul kan.

Nah, ini masalahnya. Jika kalangan yang digelar intelek saja memiliki sikap yang tidak intelek, apalagi yang beneran dikategorikan tidak intelek. Jika partai-partai hari ini tidak transparan dalam informasi seputar sejarah, AD/ART, visi dan misi lewat jejaring informasinya, bisa jadi karena kaum intelek yang sebenarnya banyak ini juga tidak terlalu peduli akan hal ini. Malah mungkin banyak kaum intelek yang memilih diam dari pada bertanya. Alasannya tidak suka politik. Ha ha ha, gimana bisa, wong diamnya itulah sikap politik mendiamkan hal-hal yang semestinya dibuka. Maka saya berdoa dengan tulisan ini untuk menggugah kesadaran bersama, termasuk saya pribadi.

Maka sudahlah, jika kita mampu mari kita upayakan tindakan-tindakan konkrit untuk membuat para politisi dan parpol terbuka kepada masyarakat. Masyarakat yang tidak paham harus kita dukung dan fasilitasi agar mengerti. Maka partai yang bagus adalah yang mampu berkolaborasi dengan mahasiswa untuk menyosialisasikan program-program unggulan mereka baik secara hubungan institusional atau memang karena mahasiswa itu adalah bakal kader masa depan partai tersebut. Tetapi apakah kita masih mau menutup mata akan hal ini. Jika yang intelek memilih menutup mata, maka pasti ke depan yang golongan jenis ini akan tetap melakukan tradisi klasiknya, memprotes dan mengumpati pemerintah.

Jadi menurut pendapat saya, kualitas partai itu tidak semata-mata dilihat dari pemberitaannya. Kejelasan ideology yang diperjuangkan, visi dan misi serta pengorganisasiannya seluruh Indonesia adalah potret yang lebih adil sebelum kita menjatuhkan penilaian. Jika riset kita belum mencukupi dan belum memadai, mending tutup mulut dan tidak usah banyak komentar. Toh kita juga bukan pelaku kan. Namanya pengamat hanya mengamati dari kejauhan, maka keluarkan kritik yang sekiranya bermanfaat, bukan nyinyir apalagi hanya cari sensasi seperti pengacara terkenal di negeri ini yang digelari ORANG BODOH YANG BERPURA-PURA PINTAR.

Jika yang katanya pintar tidak bertindak, lalu siapa lagi yang akan bertindak. #saveindonesia

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.