Lagi-lagi, aku tertarik membaca status Pak Harry yang bagus. Silahkan baca nih!

Secara bahasa radikal berarti mengakar. Kita memerlukan pemuda yg radikal, yaitu pemuda yg memahami potensi kearifan dan kehebatan negeri ini sampai ke akar2nya dgn semulia2 akhlak, agar mampu menyelesaikan masalah bangsa ini juga sampai ke akar2nya dan semulia2nya.

Kita perlu seniman, sastrawan, ilmuwan, teknologiwan, usahawan, guruwan dstnya yg mencintai dan memahami bangsa ini sampai ke akar2nya sehingga mampu mensyukuri karunia Ilahi itu dgn melahirkan karya fenomenal dan fundamental yg memberi rahmat dan manfaat bagi dunia sehebat2nya.

Kita perlu pemimpin yg mengakar, yang tahu potensi keunggulan desa/komunitas sampai ke akar2nya termasuk problematikanya, lalu mampu memberi solusi sampai ke akar2nya. Inilah radikalitas yang memberi rahmat dan manfaat secara hebat.

Manusia membutuhkan radikalitas utk menjalani kehidupannya yg mulia dgn prinsip yg kokoh. Hidup tanpa prinsip spt zombie alias mayat berjalan, sebaiknya mati saja. Radikalitas adalah keniscayaan bagi manusia.

Sayangnya, negara sering ikut andil dalam merampas hak2 komunitas, misalnya sistem persekolahan yg serba menyeragamkan dan memusatkan, menyebabkan banyak para pemuda dan pemimpin yg tercerabut dari akar masyarakat dan budayanya termasuk agamanya. Mereka melayang2 tak tentu arah, menjadi pemimpin yg tdk mengakar, menjadi individu tak memiliki akar komunitas/jamaah shg membuat radikalitasnya tumbuh menjadi radikalisme yg berbahaya. Mereka menjadi manusia yg sejatinya mengakar namun tanpa akar, layaknya “radikal bebas” di udara yg akhirnya mengancam kehidupan keseluruhan manusia.

Maka kita saksikan munculnya fenomena radikalisme dalam banyak bidang. Radikalitas yg tdk dihargai dan tidak tumbuh pada tempat dan ruang sesuai akarnya, bermutasi menjadi radikalisme. Radikalisme kelompok, sejak geng motor, tawuran pelajar, tawuran polisi dan TNI, sampai sekte2 sesat. Radikalisme materi, sejak korupsi berjama’ah para pejabat sampai pola hidup konsumtif buruh dan selebritis. Radikalisme kesukuan/wilayah, sejak tawuran antar warga sampai perang antar suku. Radikalisme agama, sejak bom teror sampai pelarangan jilbab. Radikalisme pemimpin2 karbitan, yg orientasinya uang, jabatan dan popularitas. Radikalisme negara dalam memaksakan penyeragaman dan pemusatan. Ekstrimitas selalu melahirkan ekstrimitas lain.

Ketika radikalisme2 ini bermunculan, negara cuci tangan. Menyalahkan kelompok tertentu bahkan agama tertentu. Padahal negaralah yg sering intervensi dalam kehidupan di komunitas/desa/jama’ah sehingga menyimpangkan radikalitas yg sejatinya positif.

Mari kita didik generasi yg radikal dalam manfaat dan akhlak, generasi yg tahu menghebatkan dirinya dan bangsanya serta memberi solusi sampai keakar2nya dgn semulia2 akhlak. Jangan biarkan anak2 kita hidup tanpa prinsip dan kehilangan radikalitasnya. Anak2 kita jangan sampai tercerabut dari akar sejarah, sosial, budaya dan agamanya, agar mereka menjadi generasi yg mengakar dan bukan lahan bagi suburnya radikalisme.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.