Bagi teman-teman yang aktif di lingkaran kerohanian Islam tentu tidak asing lagi dengan istilah dakwah sekolah maupun dakwah kampus. Hal itu bagaikan makanan sehari-hari yang begitu bangga disandang dengan segala kekhasan karakternya. Menjadi aktivis dakwah sekolah kemudian aktivis dakwah kampus memberikan nilai kebanggaan tersendiri.

Namun seringkali persepsi yang salah timbul di kemudian hari adalah adanya anggapan bahwa aktivis dakwah itu eksklusif. Tentu istilah ini harus dijelaskan secara gamblang agar tidak timbul multipersepsi di kalangan kita. Jika eksklusif dalam arti karena memiliki keunikan di mana pun berada selalu shalat tepat waktu, tilawah dan menghindari hal-hal yang tidak diperkenankan oleh syariat maka tentu itu sudah hal yang sewajarnya dan seharusnya. Tetapi jika eksklusif ini dimaksudkan untuk melabeli golongan tertentu atau karakter tertentu dari personal yang menyandang status aktivis dakwah tentu masalahnya terletak pada kepahaman personal terhadap dakwah itu sendiri.

Anggapan bahwa bergabung di lembaga dakwah cenderung kaku dan tidak dinamis maka itu adalah tantangan bagi setiap aktivis untuk selalu menghadirkan nuansa bersahabat bagi semua. Bahwa adanya dakwah kampus adalah untuk menghindarkan para pemuda-pemudi pacaran, maka solusi untuk bisa nikah cepat atau berkarya yang lain harus diupayakan. Bahwa adanya dakwah kampus adalah untuk menghidupkan lagi kesadaran politik mahasiswa untuk menjayakan Islam, maka solusi untuk menghadirkan sisi keadilan dan keindahan Islam harus hadir dari pribadi-pribadi yang telah berjanji mengusung dakwah kampus ini.

Platform dakwah kampus kita jelas, menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan kampus agar mahasiswa muslim mencintai agamanya dan beramal dengan benar, sadar akan realita politiknya dan bergerak untuk bersama-sama untuk mewujudkan kemenangan Islam. Maka tantangannya adalah seberapa cerdas dan bijak kita menghadirkan nuansa kenyamanan itu untuk sahabat-sahabat kita di kampus yang memiliki ribuan variasi pola pikir agar terpanggil untuk belajar dan memandang pada visi yang sama.

Lembaga, program kerja, dan segala hal yang kita upayakan sesungguhnya hanya instrumen. Tetapi kepahanan di kepala kita, dan kemantapan visi kita pada masa depan itulah yang sesungguhnya akan mendorong kita untuk giat belajar dan berkembang menjawab tantangan dakwah. Bukan hanya menunggu suapan senior atau menjadi pembangkang yang hanya suka protes dan minta dilayani dengan segala hal yang sesungguhnya merupakan kenyamanan semu. Yang namanya perjuangan pasti menuntut pengorbanan pikiran, harta, dan waktu. Termasuk di dalamnya terkandung makna keberanian untuk bersuara dan berstrategi.

Jika hari ini kita merasa jenuh dengan dakwah yang kita perjuangkan. Sesungguhnya kita telah berkhianat pada fitrah kita untuk belajar dan melakukan perubahan. Kita telah mematikan diri kita sendiri dari melihat masa depan Islam. Maka Islam akan jaya baik dengan ada atau tidaknya kita. Karena kejayaan Islam adalah janji Allah, dan janji Allah adalah benar.

Silahkan pilih? Mau ribut melulu. Saling ejek di media dan berbagai sarana yang dilihat orang banyak. Atau terus bergerak dan saling memberi surat cinta untuk mengingatkan sesama saudara serta melapangkan dada untuk memberikan kemaafan. Maka kupilih yang kedua. Karena itu lebih menentramkan. Bagaimana dengan kalian?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.