Pendidikan Ala Pabrikan (bag. 2)

Hasil dari “ketidakniatan“ negara memajukan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa ini yang menimbulkan ketimpangan sosial. Yang kaya semakin sejahtera karena mereka terus belajar dan meraih posisi-posisi penting untuk mempertahankan kenyamanannya. Sementara yang tadi menghilang dari bangku sekolah terus menjadi kaum bawah yang semakin miskin karena semua sumber daya dan pekerjaan dikuasai kapitalisme. Ini adalah pemiskinan struktural, sistematis, dan sangat menindas. Sayangnya, banyak para ahli yang mengatakan itu hal yang wajar. Barangkali penjajahan di Indonesia ini telah dimulai lagi.

Maka tidak perlu heran jika akibat ketimpangan sosial itu, berbagai masalah kompleks bermunculan. Apakah ini dapat disebut sebagai pendidikan berkeadilan? Silahkan jawab sendiri.

Berikutnya Pak Anies membuka wawasan kami dengan konsep pendidikan berbasis rural dan urban. Mindset pendidikan kita adalah urbanisme. Contoh yang sederhana, seorang anak petani belajar SD di tempatnya, SMP di kota kecamatannya, lalu SMA biasanya di kotanya, kemudian kuliah makin di kota besar. Maukah mereka menjadi petani lagi seperti ayahnya? Maka ini adalah masalah yang telah membuat ratusan anak Indonesia terobsesi menjadi buruh dan urban di kota besar.

Maka tanah-tanah di desa akan segera lenyap dikuasai para pengusaha serakah karena tidak ada generasi penerus yang mengolah dan banyaknya kebutuhan orang tua untuk memenuhi sang anak kuliah. Inikah pendidikan yang menjadi penyelamat bangsa? Bukankah ini penerjemahan lain dari tanam paksa yang dahulu pernah terjadi. Susah susah bekerja, hasilnya diberikan ke belanda. Begitupun sekarang, susah-susah sekolah akhirnya bermental pekerja karena obsesi gaji besar. Ketersediaan kaum pekerja yang gila uang adalah masalah serius berikutnya yang akhirnya membuat pemerintah membuka kran investasi asing secara membabi buta. Siapa pemilik Indonesia ini sebenarnya?

Berikutnya beliau menggambar sebuah grafik dengan sumbu mendatarnya adalah nilai yang diperoleh siswa dan sumbu tegaknya adalah tingkat kesejahteraan. Dengan pendekatan matematis maka kita bisa mengkaji orang-orang yang bisa lancar bersekolah dan siapa yang tidak. Di masa lalu, orang yang memiliki nilai tinggi dan sejahtera sudah pasti akan sukses dalam sekolahnya. Mereka aman dalam pendidikannya. Begitu pun orang yang memiliki nilai rendah, tetapi dari keluarga sejahtera, tentu orang tua akan tetap menjamin pendidikan sang anak. Bagaimana dengan yang memiliki nilai tinggi tapi pra sejahtera? Dahulu ketika subsidi pemerintah masih besar maka hal itu juga masih aman. Lalu bagaimana dengan yang memiliki nilai rendah dan dari keluarga pra sejahtera? Tamat sudah riwayat mereka sejak dahulu.

 

Berikutnya generasi yang dari keluarga pra sejahtera tapi memiliki nilai tinggi akhirnya naik tinggak menjadi keluarga sejahtera. Migrasi penghuni kuadran IV ke kuadran I & II telah terjadi. Namun masalahnya, migrasi dari penghuni kuadran III ke kuadran IV hampir mustahil terjadi karena kondisi mereka makin terpuruk. Dan yang lebih parah lagi para penghuni kuadran I & II tidak lagi memedulikan merek yang di kuadaran III & IV. Semakin lama grafik kesejahteraan di kuadran I & II semakin meninggi, sedangkan grafik kesejahteraan di kuadran III & IV semakin ke bawah. Inilah ketimpangan yang dimaksudkan tadi? Mengerikan bukan. Inikah pendidikan yang berkeadilan? Silahkan di jawab sendiri.

Sebegitu parahnya sistem pendidikan di negeri ini. Bahkan masih mending sistem pabrik yang jelas-jelas memproduksi barang untuk dikonsumsi atau digunakan. Nah ini memproduksi manusia yang akan dipakai orang lain. Yang gagal diproduksi lantas dibuang dan diinjak-injak. Tapi beliau tetap berpesan kepada hadirin untuk selalu OPTIMIS. Mari tetap menyalakan lilin, dan tidak perlu mengutuk kegelapan.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.