Pendidikan Ala Pabrikan (bag. 1)

Orasi berikutnya adalah dari pendiri Indonesia Mengajar, siapa lagi kalo bukan Pak Anies Baswedan. Aku baru tahu kalau namanya ternyata Anies Rasyid Baswedan, dengan gelar Ph. D dibelakangnya yang diperoleh dari kuliahnya di Amerika. Tak kalah lucunya, beliau mengatakan itu doktor awang-awangen, tidak seperti Pak Agung yang merupakan Doktor bidang Pendidikan.

Sebagai seorang rektor yang sekaligus pemerhati pendidikan, tentu beliau tidak membicarakan soal di dalam kelas dan kurikulum. Beliau menggunakan sudut pandang proses bahwa pendidikan itu proses, ada input dan ada output. Beliau menggunakan pendekatan yang sederhana dari data-data pendidikan yang dikumpulkannya pada tahun 2011. Beliau pun menyusun uraian dalam orasi ini dengan bahasa yang sederhana seperti halnya pak Agung Pardini, sehingga para guru pun tampak antusias menyerap hal-hal yang segar dan penting berkaitan dengan pendidikan.

Hal pertama yang beliau tanyakan adalah apa tempat belajar paling utama bagi anak-anak Indonesia? Jawabannya tentu bukan sekolah. Jawabannya adalah keluarga. Pertanyaan selanjutnya adalah berapa kepala keluarga yang punya pola pikir sebagai kepala sekolah. Berapa ibu yang punya pola pikir sebagai guru. Dan berapa keluarga yang pola komunikasinya seperti sebuah manajemen sekolah. Apakah mungkin pasangan-pasangan muda yang tiap hari hanya pacaran, bahkan lebih parah dari itu akan menjadi sebuah keluarga yang baik seperti layaknya sekolah? Tentu kita sudah tahu jawabannya. Jadi jika gerbang sekolah pertama ini sudah jebol maka satu potensi kebaikan telah hilang.

Tempat belajar berikutnya adalah sekolah. Pertanyaannya adalah berapa siswa yang masuk SD di dekade ini? Sekitar 5,6 jutaan. Kemudian berapa siswa yang lulus SMA/SMK di dekade ini? Sekitar 2,3 jutaan. Sudah jelas bahwa dalam proses pendidikan kita ada 3,3 jutaan siswa yang menghilang di sepanjang proses. Jika ditanyakan siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan ini, tentu saja negara yang harus bertanggung jawab. Tapi bagaimana meminta pertanggungjawaban kepada pemerintah jika mereka saja sedang asyik bermain bulu tangkis? Parahnya, dari 2,3 juta yang lulus SMA/SMK itu hanya sekitar 1,3 jutaan yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Pertanyaan berikutnya adalah berapa jumlah fasilitas pendidikan yang tersedia di negeri ini? SD ada sekitar 170.000 buah, SMP ada sekitar 39.000 buah, dan SMA/SMK ada sekitar 26.000 buah. Jumlah guru saat ini sebenarnya mengalami kelebihan sekitar 500.000 guru, hanya saja mereka tidak terdistribusi merata. Dengan fasilitas pendidikan yang seperti itu tentu saja terlihat sekali bahwa sejak reformasi bergulir negeri ini justru malah semakin tidak niat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan parahnya lagi, para anggota DPR pun tidak tertarik untuk membicarakan ini lebih banyak.

Maka dalam refleksiku saat ini pun tak mengherankan jika meskipun telah dialokasikan 20 % dari APBN dan APBD, sepertinya tanpa adanya reformasi dan pengawasan ketat terhadap penyelenggaraan pendidikan dana yang besar itu hanya akan nyasar di kegiatan seminar duduk, diam, dan dengar lalu pulang mendapat uang saku berlimpah, atau di beasiswa-beasiswa yang tidak mengikat para mahasiswa untuk mengabdi secara penuh setelah itu, atau menjadi bangunan-bangunan renovasi rutinan, atau lebih parahnya nyasar di kantong-kantong guru tersertifikasi karena faktor sertifikat sehingga hanya habis untuk kredit mobil dan plesiran sementara siswa semakin terabaikan.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.