Setelah melalui perjalanan yang melelahkan dari Solo dengan Senja Utama, berhenti di Jatinegara sejak pagi buta, dilanjutkan Commuter Line ke Bogor hingga matahari meninggi. Disusul dengan dua kali naik angkot yang membuat kami semakin kepanasan karena barang bawaan kami yang banyak (mirip orang pindahan dari pada backpakeran) dan harus berdesakan dengan penumpang lainnya. Akhirnya kami untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Zona Medina, Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa, kantor yang khusus menangani pemberdayaan SDM mulai dari sekolah Smart Ekselensia Indonesia hingga beasiswa-beasiswa untuk para aktivis di kampus.

Rasa lelah kami segera terobati setelah kami beristirahat beberapa waktu di asrama yang telah disediakan pengelola. Seperti biasa, mas Edi selaku tim yang menangani program Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) menyambut dan mengantar kami dengan senyuman, seperti halnya saat beliau mengunjungi (lebih tepatnya mensupervisi kami) di kampus-kampus kami sesekali waktu.

Melihat Realita Pendidikan Indonesia

Usai makan siang, kami langsung menerima dosis materi yang pertama. Hadir dalam kesempatan itu untuk memberikan sambutan sekaligus membuka program Magang Sosial Bakti Nusa Marching for Boundary, Ibu Rina selaku direktur Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Dalam sambutannya beliau berbagi kisah tentang pengalamannya pada saat mengawali aktivitas sosialnya membuka sekolah untuk para korban gempa di Meulaboh. Kemudian dilanjutkan dengan perjuangannya setelah bergabung di Dompet Dhuafa sebagai pendamping di sebuah sekolah terpencil yang dilingkupi gunung di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Kisah perjalanannya pun terus berlanjut dengan melakukan aktivitas pendampingan di beberapa sekolah di tanah air ini. Suka duka dalam menjalani perjuangan yang sepi publisitas ini beliau jalani dengan penuh keyakinan bahwa inilah jalan yang benar, yang dapat dipilih para aktivis untuk mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan. Beliau pun membuka realitas pendidikan yang selama ini tak banyak diketahui oleh para mahasiswa aktivis karena kurangnya investigasi yang kami lakukan.

Tentang realita pendidikan Indonesia, sharing yang disampaikan Bu Rina dalam sambutannya sudah membuatku tertunduk malu dengan kenyamanan yang kuterima selama ini. Beliau mengutip pernyataan Prof. Yohannes Surya bahwa tidak ada anak Indonesia yang bodoh. Hanya saja mereka saat ini belum mendapatkan kesempatan belajar sebaik kita. Tak mendapatkan pengajaran dari guru-guru yang terbaik. Dan tidak mendapatkan lingkungan belajar yang baik untuk mereka.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.