Bulan Sya’ban akan segera berakhir. Perlahan namun pasti kita akan sampai pada bulan yang sangat mulia itu. Bulan semakin lama rasanya semakin cepat saja datangnya, dan semakin cepat saja berjalannya.

Bagaimana persiapanku? Ah itulah. Mungkin saja rasanya diri ini tak pernah puas dengan kondisi diri sendiri yang selalu merasa gagal mempersiapkan diri menyambut sang bulan yang lebih bercahaya dari sekedar cahaya bulan itu. Terkadang rasa sesal pun hadir di penghujung Ramadhan saat kita sudah tak lagi melihat sang bulan karena telah berkumandangnya takbir.

Allahumma bariklana fii rajaba wa sya’ban, wa balighna ramadhan. Itulah doa indah yang diajarkan nabi selagi kita terus mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.

Dan Ramadhanku kali ini pasti akan terasa berbeda. Jika aku nanti pas sedang di rumah, tentu aku sudah tidak mendapati sosok kakek yang dulu selalu membangunkan kami sahur, karena rupanya Allah telah menentukan takdirnya sebulan yang lalu untuk memanggilnya pulang terlebih dahulu. Jika pun di rumah, maka pasti sepi rasanya karena para pejuang-pejuang masjid yang dulu pernah dirintis kini satu demi satu pergi demi menjaga nama baik mereka agar terhindar dari sebutan pengangguran di dusun.

Aku sendiri berharap Allah memberi kado terindah untuk Ramadhan kali ini. Aku tidak tahu apakah harapan yang ada di lubuk hati ini akan dikabulkan-Nya. Yang jelas setiap kita hanya bisa berdoa, jika ini baik dalam pandangan-Mu ya Allah maka kabulkanlah harapanku ini. Jika ini buruk dalam pandangan-Mu ya Allah, maka sesungguhnya rencanamu jauh lebih indah dari pada harapanku.

Begitulah kita diajari untuk hidup dalam harapan terbaik sekaligus yakin adanya takdir yang indah buat kita. Apa pun itu, sesungguhnya Allah pasti menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya. Di Ramadhan ini aku berharap sisi lain dari kehidupanku yang baik terungkap, dan sisi lain dari kehidupanku yang buruk bisa terkubur. Aku ingin hari-hari ku nanti terus semakin baik dalam optimisme dan persepsi positif. Agar tidak diwarnai kebencian dan prasangka buruk. Aku hanya ingin kedamain yang sejati, kedamaian yang tak pernah membuat kita mengurangi senyum kita kepada satu per satu saudara kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.