Media massa hari ini adalah senjata ampuh yang lebih mengerikan dari pada senapan AK 47-nya Kopassus. Orang yang baik bisa dihabisi karier dan nama baiknya dengan siksaan menyakitkan lewat sebuah opini media massa. Sebaiknya orang yang jahatnya mengerikan bisa terlihat mulia dengan opini media massa pula. Hari ini media massa adalah media bisnis yang harus menghasilkan mesin uang. Jadi berita adalah uang. Bad news is good news, good news is bad news. Begitukah?

Bangsa Indonesia saat ini boleh senang dan bahagia karena telah banyak yang memiliki televisi, telepon genggam, sepeda motor dan banyak fasilitas meskipun di pelosok-pelosok sana masih banyak yang tidak berpakaian, kelaparan dan sangat bodoh terbelakang. Semua senang karena memang memiliki banyak fasiltas itu menyenangkan, meskipun tak sadar akhirnya perlahan-lahan digerogoti oleh kebodohan pola pikir yang sangat parah dan akut.

Berpikir sederhana, itulah peristiwa nahas yang terjadi saat ini. Setiap hal yang seharusnya menjadi perenungan bijak menjadi lintasan pikiran berlalu saja. Sehingga bahkan untuk memandang sesuatu hal yang butuh perspektif yang tepat hanya seperti kilauan cahaya yang lantas dipuji atau semburat gelap yang langsung diumpati. Sederhana dan mudah sekali pola pikirnya.

Opini yang dibangun media massa yang tendensius telah menikah dengan pola pikir sederhana sehingga hasilnya adalah sikap ngepal, asbun dan acuh tak acuh yang berlebihan. Bagiku menilai sesuatu dengan kaidah yang hanya sifatnya relasi bukan substansinya adalah konyol dan lucu. Misalnya, peristiwa terorisme yang dikaitkan dengan orang-orang yang berpenampilan Islami lantas menjadi sebuah kesimpulan bahwa Islam itu kejam dan identik dengan kekerasan. Atau isu yang sejenis  yang lagi hangat saat ini adalah relasi antara kasus Luthfi Hasan Ishaq dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang secara tidak langsung menggiring opini masyarakat untuk memiliki pandangan buruk kepada PKS itu sendiri.

Memang manusia dan identitas kelembagaannya tidak dapat dipisahkan saat salah satunya. Cara berpikir normal manusia adalah ketika ia berbuat baik, maka identitas kelembagaannya akan tertulari baiknya, sebaiknya ketika ia berbuat buruk, maka identitas kelembagaannnya akan ikut ternoda. Salahkah penilaian tersebut? Tak tahulah, ini sudah menjadi keberlakukan yang umum di masyarakat. Tapi aku rasa ini sangat tidak adil jika hal ini dibiarkan terus menerus.

Bukankah setiap pribadi manusia itu unik dan dibebani tanggung jawab masing-masing oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri? Maka tidakkah sebaiknya kita tidak membuat penilaian korelatif secara tendensius dalam melihat sesuatu hal. Tidak lebih bijakkan jika kita menilai seseorang berdasarkan standar kepribadiannya tanpa harus membawa-bawa identitas kelembagaannya. Apakah juga tidak lebih bijak jika kita menilai sebuah lembaga/ pergerakan/ partai/ organisasi/ ormas/ atau yang sejenisnya berdasarkan substansi lembaga itu, misal dari AD ART, nilai dasar yang diusung dan sebagainya.

Itu akan membuat kita lebih adil. Sehingga kita pun bisa berbesar hati memuji orang yang berseberangan pergerakan dengan kita jika memang dia memiliki kelebihan dan sisi positif. Demikian juga kita akan mengakui bahwa institusi orang lain lebih baik ketika kita memang menemukan banyak nilai-nilai positif yang diusungnya. Jangan hanya karena segelintir orang yang berbuat hal rusak lantas kita menjustifikasi lembaganya juga buruk tanpa bukti yang valid. Atau   sebaliknya kita cenderung antipati terhadap seseorang hanya karena dia berasal dari golongan yang bersebarangan dengan kita. Maka pribadi tetaplah pribadi dengan segala keunikannya, dan lembaga tetaplah lembaga dengan segala nilai-nilai dasarnya.

Jika kita tak terlalu tahu banyak tentang seseorang, sebaiknya tidak usah ikut-ikutan beropini negatif manakala muncul berita negatif tentangnya sebelum terang buktinya. Demikian pula, janganlah kita mengecap buruk sebuah lembaga atau sesuatu komunitas hanya karena satu dua orang yang berbuat keburukan sedangkan kita tidak mengetahui nilai-nilai dasar lembaga itu. Stop asbun! Aku sangat marah ketika ada orang yang tidak tahu menahu, terlebih ketika dia seorang muslim justru ikut-ikutan berkomentar negatif dan beranggapan bahwa ber-Islam yang hanif cenderung menjadi teroris. Pelajarilah Islam dengan benar sebelum Anda berkesimpulan demikian, atau Allah akan menghinakan di neraka-Nya yang mengerikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.