Amien RaisHari Ahad, aku menerima sebuah hadiah menarik dari salah satu adikku. Sebuah buku yang membuat hari Senin pagiku terasa nikmat dan larut untuk membaca meski waktu terus semakin siang. Sebuah buku yang dihadiahkan oleh seorang puteri yang kini menjadi jurnalis untuk sang ayah yang kita semua mengenalnya sebagai Bapak Reformasi. Buku itu adalah karya Hanum Salsabila Rais untuk ayahandanya, Amien Rais.

Siapa yang tak kenal dengan salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam peristiwa reformasi 1998. Tatkala Soeharto harus menyerah ketika negara ini dilandai badai krisis moneter dan krisis multidimensi yang sedemikian parah. Masa-masa yang pahit ketika aku masih kelas 3 SD dan tidak terlalu mengerti bagaimana kerusuhan berkecamuk di mana-mana hampir di seluruh kota besar di Indonesia, kecuali ibukota negeriku yang asri, Yogyakarta.

Rasanya tak baik aku bernostalgia terlalu lama dengan angan masa kecil tentang masa-masa adem ayem Orde Baru tiba-tiba bergejolak dan akhirnya menjadi masa yang serba bebas seperti hari ini. Amien Rais, itulah salah satu nama yang berperan untuk membidani lahirnya era Reformasi berserta rekan-rekan seperjuangannya yang menginginkan adanya penyegaran dalam kepemimpinan Indonesia yang telah lama dimonopoli oleh rezim Soeharto.

Beruntung aku sejak kecil hidup di lingkungan Muhammadiyah, sehingga nama beliau tidak terlalu asing bagiku. Kisah hidupnya yang sederhana pun telah lama terdengar di telinga ketika aku mulai tumbuh remaja dari lisan para guru dan aktivis muhammadiyah. Jadi buku ini menjadi bukti baru bahwa apa yang aku dengar memang apa adanya dan semua juga berpikir demikian. Kecuali mereka yang memang tidak sependapat dengan hal ini.

Amien Rais, seorang ayah yang memberi inspirasi besar bagi keluarganya. Kesibukannya sebagai mantan ketua PP Muhammadiyah dan berbagai kiprahnya di dunia akademis tak membuatnya lantas menelantarkan keluarganya. Buku yang awalnya kuprediksi berisi pujian luar biasa sang puteri kepada ayahandanya ternyata bagiku adalah sebuah cerita pujian yang tak sekedar memuji tapi memang realita terpuji yang pantas dicontoh oleh para politisi bangsa ini.

Amien Rais, seorang yang berani ketika banyak orang yang memilih bungkam karena melihat orang-orang berani bersuara telah dilenyapkan dari peredaran. Dia hanya berbicara tentang penyegaran kembali kepemimpinan Indonesia yang telah jenuh diperintah Soeharto selama 3 dekade. Dia kritis dan sangat berani, itulah karakternya, dan sangat wajar karena dia akademisi yang ahli di bidang politik. Banyak yang mencibir keberaniannya ini sebagai NATO (No Action Talk Only). Benarkah demikian? Jika tidak mengenal sosoknya dekat, diam itu lebih baik.

Amien Rais, sosok fenomenal yang pernah dimiliki negeri ini yang kini telah kembali ke dunianya. Sosok ketua MPR legendaris yang berhasil memimpin ratusan orang dengan selamat dalam mengamandemen UUD 1945 selama 4 kali sehingga benar-benar mengantarkan konstitusi NKRI ini menjadi negara yang berdemokrasi dengan sebenar-benarnya, tidak semu seperti yang telah dijalankan sebelum-sebelumnya. Orang yang blak-blakan ketika muncul pemberitaan tentang penerimaan suap dalam kampanye pilpres 2004 sehingga membuat calon-calon yang lain akhirnya ikut mengaku menerima uang tersebut.

Amien Rais, sosok yang mengajarkan sikap optimis di tengah kehancuran bangsa yang sangat mengerikan seperti saat ini. Sikap jiwa besarnya dalam menghadapi kekalahan dan bangkit kembali dengan cepat setelahnya adalah hal yang sangat mudah kita jumpai dalam paparan naratif sang puteri, Hanum. Kekuatan visinya mampu membuatku terbelalak lagi bahwa bangsa ini masih punya masa depan. Bangsa ini masih bisa bangkit menjadi raksasa dunia. Harapan itu masih ada.

bersambung …..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.