Tahun baru kemarin aku tidak mengikuti raker tahunan Komunitas Pintu karena sedang di Jakarta, baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air setelah berpuas sebulan ke Eropa. Tahun baru ini Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk bersama bergembira dengan sahabat-sahabat Komunitas Pintu tersebut. Dengan mengajak satu adik yang katanya ingin jadi anggota komunias keren itu, aku berangkat sejak kemarin.

Tahun ini menjadi spesial. Selain aku melakukan kroscek dengan status yang kusandang setahun yang lalu sebagai sekjend komunitas, tentu saja ada visi baru bagi komunitas ini. Kabar gembiranya adalah tahun 2014 ini kami berencana akan membuat Yayasan Pintu Indonesia yang akan mewadahi seluruh aktivitas komunitas ini. Yayasan yang memiliki fokus bidang garap pada pendidikan, pengabdian sosial, dan seni budaya ini akan kami wujudkan di tahun ini.

Seperti biasanya, setiap kali komunitas ini mengadakan raker, selalu ada agenda lain bersama rekan-rekan yang menjadi jaringan komunitas ini. Hari ini pula hadir bersama kami adik-adik pengurus OSIS MA al-Islam Surakarta, adik-adik santriwati Griya Quran 6 bersama asatidznya. Tak lupa, mas Jefri dan pak Yudi juga jauh-jauh datang dari pinggiran kali Bengawan Solo, maksudnya mereka adalah keluarga Sekolah Alam Bengawan Solo yang rela berputar-putar mencari lokasi yang bernama Segorogunung.

Tahun ini memang spesial bagiku dan mungkin juga bagi banyak teman-temanku. Bagiku, tahun ini adalah masa pengukuhan diriku setelah di tahun 2013 lalu aku sempat diliputi kegalauan sebagai mahasiswa. Yah, aku galau dengan status mahasiswa yang harus segera kulepas tetapi tidak jelas juntrungannya ke depan. Hanya sekedar S-2? Lulus. Jadi dosen biasa? Ah itu mah bukan perjuangan namanya. Karena itu cukup mengalir saja sudah akan sampai.

Namun sejak bertemu dengan blogger senior di kampus, serta adik tingkat di mahad dahulu yang juga blogger, kemudian berinteraksi dengan para asatidz di Griya Quran saat awal tahun 2013, pemandanganku menjadi berubah. Pekerjaan adalah sesuatu yang memang harus diambil untuk menghidupi diri. Tetapi memilih pekerjaan yang membuat diri bebas dan merdeka adalah peristiwa penting dalam perjalanan seorang mahasiswa, terutama mahasiswa aktivis.

Jadilah pilihan sebagai blogger ini kuputuskan. Dengan status baru ini aku menikmati dunia dengan tantangan baru. Bisa tetap berinteraksi dengan adik-adik SMP. Bisa tetap menjalankan amanah di komunitas Pintu. Dan tentu saja aktivitas pengembangan diri bersama junior-juniorku tetap berjalan tanpa ada kerisauan soal pekerjaan.

Gimana risau? Aku tidak butuh kantor. Kantorku bisa di mana saja asal sinyalnya oke. Peralatan kantorku hanya laptop dan modem. Jika aku istiqomah dan belajar rajin, pendapatanku bisa 10 kali lipat PNS golongan 3a dengan jam kerja seperti sebagian mereka yang malas-malas itu. Jadi mengapa harus risau? Percaya bahwa rezeki itu pemberian Allah lewat sarana bekerja dan melakukan pengabdian.

Jika visi kita besar maka percaya saja bahwa Allah kelak akan menitipkan banyak kesempatan untuk belajar, banyak amanah untuk ditunaikan, dan banyak tanggungan untuk diselesaikan. Jika hanya mencari aman, Allah mungkin juga hanya akan memberikan tantangan minimal seperti keinginan hatinnya sejak awal. Dari komunitas ini, aku berharap Allah menitipkan banyak kejutan untuk kami. Visi besar 2020 nanti, kami ingin menjadi pemenang di segala medan pertempuran.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.