Realita Kita

Langsung saja kita bedah lagunya Iwan Fals yang pertama, Jangan Bicara. Itu lagu yang menurutku sudah cukup menggambarkan bagaimana parahnya keadaan masyarakat kita. Dari beberapa bait syairnya sudah mengambarkan rusaknya sistem sosial kita karena ketidakadilan dan berbagai perbuatan yang menyimpang. Sampai-sampai dirinya melarang kita membicarakan lagi, tetapi segera saja diatasi. Sudah akut!

Untuk lebih menambah daya gebuknya, berikutnya mari kita lanjutkan dengan Mimpi yang Terbeli. Itu lagu yang lebih nendang sindirannya saat pasar-pasar modern mulai menjamah negeri kita. Kehadirannya bukan saja membunuhi pasar-pasar tradisional kita. Tetapi juga membuat sebagian masyarakat kita menjadi kapitalis-kapitalis di negeri sendiri. Mall merubah gaya hidup masyarakat kita menjadi hedonis, harus beli mobil, harus punya banyak uang, harus selalu shopping dan semua itu jelas tidak sehat untuk negara berkembang yang tengah membangun pondasi menuju sebuah negara maju.

Jika di Eropa banyak pasar modern, itu karena memang di sana tak ada lagi pasar tradisional. Jika masyarakat di sana hobi berbelanja setiap akhir pekan, itu karena sistem kehidupan mereka telah mapan dan teratur dengan kondisi seperti itu setelah berjuang hidup di abad-abad sebelumnya. Sedangkan kita, kita baru merdeka belum ada seratus tahun, kita baru membangun, kita juga kadang masih ribut soal ideologi. Padahal sejak kita merdeka kitalah pemiliki modal tak terbatas itu. Realitanya, kita masih tetap menjadi negara yang banyak berhutang. Ironis.

Bagiku, itulah sebuah praktek kapitalisme yang sesungguhnya merusak masyarakat kita. Gaya hidup yang timbul tersebut membuat kasta-kasta sosial di masyarakat yang membuat mereka yang kuat akan terus menindas yang lemah. Hal itu diperparah dengan berbagai kebijakan aneh pemerintah. Contohnya program mobil murah ramah lingkungan. Meskipun ramah lingkungan tapi jelas itu sebuah kebijakan paling aneh sedunia untuk sebagian besar masyarakat yang lagi menjerit karena bodoh dan miskin ini. Bodoh membuat masyarakat terus tertindas dalam ketidaktahuan. Miskin membuat masyarakat yang bodoh tak mampu keluar dari status terburuk mereka saat ini.

Praktek ini semakin kuat dengan sistem feodal yang kembali menguat. Jika dulu ada tuan tanah yang memiliki banyak pasukan, kini tuan tanah itu adalah para pejabat mulai dari orang-orang di pemerintahan pusat hingga daerah yang rakus dan gila sumber daya alam. Mereka orang-orang yang terobsesi dengan kursi kepemimpinan namun tidak punya visi membangun masyarakat selain memang akan merampok sumber-sumber kekayaan daerah. Siapa yang bisa melawan mereka? Satu dua orang jujur sudah pasti akan dilempar ke jurang oleh mereka. Haruskah ada People Power lagi. Ngeri sekali.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.