Pernahkah kalian mendengar kisah seorang pemimpin yang kedapatan selingkuh dengan sekian wanita, dan ketika istrinya ditanya pendapatnya oleh wartawan ada sebuah jawaban yang luar biasa?

Suatu ketika pernah terjadi kasus skandal yang membawa nama Presiden AS, Bell Clinton tercemar di mata masyarakat. Karena skandalnya ga tanggung-tanggung, yaitu berselingkuh dengan banyak wanita, dan sebagiannya terlihat ada buktinya. Hemm, gimana perasaan istrinya? Kira-kira kalo Anda menjadi istrinya gimana rasanya? Ups, suatu saat ketika Bell Clinton dan Istrinya menghadiri suatu pertemuan kenegaraan, ada wartawan yang bertanya kepada istrinya, Hillary Clinton tentang pendapatnya terhadap suaminya yang selingkuh. Apa jawabnya coba? Ada yang tahu?

Dan ternyata jawaban seorang Hillary Clinton menjawab dengan suatu jawaban yang menurutku luar biasa. “Bagaimana pun dia tetap suamiku, aku akan tetap mendampinginya selama dalam tugas kenegaraan”. Hah, orang yang dikhianati ternyata masih mampu menunjukkan sebuah integritas yang luar biasa sebagai ibu negara. Bagaimanapun sakitnya, bagaimanapun tidak enaknya jadi bahan pembicaraan seluruh negeri, Hillary mampu menempatkan posisinya sebagai ibu negara ketika kondisi begitu tidak bersahabat. Demikian apa yang tadi sore diurai oleh kakakku yang luar biasa, mas Krisna.

Plak!!!

Itu rasanya menjadi tamparan keras bagiku yang saat ini sedang menjalani dunia organisasi. Hemm, mungkin aku harus lebih sering membaca biografi orang-orang hebat dari pada berkutat pada teori, apalagi integral dan rumus matriks ruang vector. Ya, aku tiba-tiba merasa kerdil dan mempertanyakan kembali integritas yang kumiliki sampai hari ini.

Menurut mas Saras, sang pembicara dalam diskusi tadi siang beliau memberikan wawasan 3 poin agar integritas kita terpelihara, yaitu pahami arti kesuksesan dengan benar, lakukan pembiasaan, dan konsisten menjalankannya.

Pertama, apa sih yang dimaksud sukses. Kaya? Jadi pejabat? Punya harta melimpah? Punya kekuasaan? Hemm, jika demikian, pasti integritas kita akan hilang seiring dengan hilangnya faktor-faktor kesuksesan tadi. Kesuksesan yang benar adalah ketika kita mengambil kunci dari perkataan Rasulullah yaitu sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Jadi mau kaya, mau miskin, mau pinter, mau ga pinter, mau berkuasa, atau pun yang dikuasai, yang penting apakah dengan semua itu manfaat yang diberikan sebanding dengan kapasitas yang dimiliki? Kalo jadi pejabat justru pelit dan kebijakannya merusak itu bukan sukses namanya. Justru orang-orang menengah tetapi banyak berbuat untuk masyarakat, merekalah yang paling bermanfaat dan merekalah sebenarnya orang-orang yang sukse.

Kedua, pembiasaan. Integritas terbangun karena setiap hari dia berinteraksi dengan orang-orang yang penuh integritas dan dia melakukan hal-hal yang menuntut integritas. Gagasan besar seseorang itu tumbuh sebagai akumulasi dari interaksinya dengan realitas, pengalaman dan ilmu yang dia serap. Dan tentunya integritas itu juga terjadi karena dia menemukan komunikasi yang terbaik dengan orang-orang di sekitarnya sehingga dia dapat memahami sebuah tujuan yang lebih besar dari apa yang dijalaninya dan menghilangkan egonya.

Ketiga, konsistensi atau kesinambungan. Inilah hal tersulit dalam menjaga integritas. Keinginan untuk segera meraih puncak dengan cepat dan pragmatism berorganisasi akan menjadikan kita tidak konsisten. Terkadang kita ingin segera melompati proses-proses yang ada karena tergiur dengan berbagai hal yang manis di luar sana atau tidak tahan dengan sesuatu yang dianggap berat. Bertahanlah demi sebuah kebaikan yang diperjuangkan. Usahlah repot dan pusing dengan orang lain, atau mungkin kita tidak terkenal dan dikenal orang. Biarlah, yang penting kita lakukan apa yang sudah menjadi integritas kita. Lakukan dan bertahanlah.

Dan jika kita bicara pentingnya integritas ini, maka ia adalah harga mati sebuah perjuangan, yang akan menjadikan pemiliknya sebagai pejuang sejati dan negarawan yang mulia. Dan apakah aku sudah mempunyai itu? Mungkin sudah, tapi mesti diasah. Agar aku tidak menjadi pecundang di masa depan. Terima kasih untuk orang-orang yang selalu hadir dan memberi peringatan padaku. Kalianlah manusia terbaik yang Allah kirimkan untukku. Semoga makin hari, hidupku semakin baik. Dan semoga aku menjadi golongan orang yang beruntung.

2 Comments

  1. ernhy

    #1. yang pasti terlepas dari betapa memukau jawaban hillary, mewakili kaum wanita, tuh kalo ada jenis jenis si C…T..N, yang gak kapok kapok, udah jitak aja rame rame trus kalungin clurit,, hayo tobat gak.,,,hemmm edisi sadis mengancam

    #2, integritas terbentuk dari habit juga yang sering kita lakukan, We are we repeatly to do

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.