Malam ahad ini, persis seperti yang disepakati ketika Ramadhan, PRISMA Beji dan IM3 UGM bersepakat untuk melanjutkan diskusi tentang mimpi kami ke depan dalam mewujudkan Beji yang lebih baik. Hadir dimalam itu, para tetua IM3 dan ketuanya yang baru, kemudian tetuanya PRISMA dan Pengurus Inti-nya. Diskusi dipimpin oleh Presiden IM3 kawak, mas Sekti, kami diajak untuk belajar menata mimpi dan membuat langkah yang lebih tertata dan jelas.

Sambil mengedukasi adik-adik di desa kami melakukan pembahasan panjang tentang visi dan misi prisma. Agak panjang dan menjenuhkan sih, tapi itulah stimulus untuk membiasakan adik-adik di desa yang memangĀ  belum banyak mengenal dunia aktivis kampus. Sesekali aku menyela diskusi dengan menjelaskan kembali apa yang didiskusikan dengan bahasa yang lebih sederhana ketika teman-teman melontarkan kata-kata atau istilah tingkat dewa yang membuat adik-adik pengurus inti PRISMA terbengong-bengong.

Itulah kami, yang telah berhimpun sejak 2 tahun yang lalu. Saat itu mungkin kami bukan siapa-siapa, dan mungkin mimpi kami di waktu itu tak sekuat mimpi hari ini. Dan malam ini, mimpi yang semakin kuat itu coba kita himpun untuk menghasilkan langkah yang lebih baik demi menatap Beji yang lebih indah. saati itu kami masih merasa hanya sekedar pemuda biasa yang belum mengetahui bahwa banyak harta karun yang terpendam dalam hati dan jiwa para pemuda desa yang seandainya dapat digerakkan maka akan terbentuklah sesuatu kekuatan besar yang akan menjadi mesin perubahan desa Beji, 5 tahun hingga 20 tahun ke depan nantinya.

Kami tidak sedang berdiskusi kosong. Kami punya mimpi yang kuat untuk mewujudkannya, terkhusus aku dan adik-adik yang memang makhluk pribumi. Kami merasa bertanggung jawab untuk menjadikan desa ini lebih maju dan penduduknya sejahtera lahir batin, terdidik dan semakin peduli terhadap pendidikan. Kami rindu suatu saat Beji menjadi desa yang teduh dalam naungan Islam, yang keseharian masyarakatnya selalu dihiasi dengan akhlak Islam, karena memang mayoritas penduduknya adalah warga muslim. Kami rindu kehidupan yang damai sesama warga berdampingan satu dengan yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.