Sudah lama rasanya aku tidak lagi menikmati indahnya kota raja itu. Tanah dimana rajaku berkuasa, tak sekedar bertahta dalam singgahsana tapi tetap memangku atas wilayah kesultanan Yogyakarta. Tanah yang dimiliki untuk diberikan kepada rakyatnya. Tanah sejarah yang telah melahirkan berbagai macam pemimpin baik yang baik maupun yang parah. Tanah yang membuatku selalu berdecak kagum dengan peninggalan-peninggalannya yang masih asri. Entah itu jejak perjuangan Jihad Pangeran Diponegoro atau bahkan mungkin jejak-jejak Freemasonry yang masih dapat dijumpai.

Tentang Jogjaku, kini aku hampir kehilangan memori-memori indah tentang pergerakan dakwah di sana. Warna yang kurasakan dari kakak-kakak yang dulu membing kami dalam jaringan Rohis al-Farabi. Sebuah organisasi yang menempa kami untuk bertahan dalam sebuah komunitas yang jauh lebih heterogen dari tempatku hari ini. Tempat yang keras dalam berbagai perbedaan persepsi dan misi. Tapi itulah yang membuat kebanyakan kami tetap bertahan dalam jalan dakwah hingga hari ini, di manapun kami berada.

Dan sore tadi, aku menemukan prototipe sahabat yang dulu pernah kujumpai. Seorang adik tingkat yang sama-sama orang Jogja dan dibesarkan dari dakwah sekolah. Yah, jadilah obrolan kami panjang di sebuah warung yang ada di belakang kampus. Obrolan kami hidup mulai dari pembicaraan seputar kajian dan kabar para asatidz dakwah di sana. Aku rindu untuk bisa ketemu mereka lagi seperti dulu. Setiap kali reunian rohis, akhir-akhir ini tidak bisa datang. (Malu juga sih karena belum lulus)

Kesimpulan dari obrolan kecil ini, memanglah peribahasa dimana bumi dipijak di situ langit di junjung. Persepsi dan cara pandang memang berasal dari tempat awal kita di tempa. Tapi bukan berarti kita harus memaksakannya di manapun kita berada. Yang terpenting itu adalah setipa kiprah kita dan setiap dedikasi kita mampu memberi solusi dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Yah, menginspirasi. Karena gerakan itu terlahir dari sebuah inspirasi. Rasulullah, Hasan al-Banna, Soekarno, Muhammad Natsir, dikenang karena inspirasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.