Masih bertalian dengan buku yang baru kuresensi kemarin. Hari ini kita dihadapkan pada realita citra. Sebuah realita artifisial, yaitu memandang kenyataan yang semu. Sebuah hal yang meyakinkan untuk disaksikan dan dirasakan tetapi sesungguhnya itu adalah kumpulan omong kosong yang dihasilkan dengan teknologi tinggi. Siapa produsennya? Sulit dijelaskan, tapi kebanyakan orang jadi terarahkan setelah mereka bersahabat karib dengan media mainstream.
Hari ini pikiran dunia ini dikendalikan oleh media mainstream. Segelintir orang yang berada di ruang kendali media mainstream tentu adalah orang yang paling sukses menikmati hiburan paling tidak bermutu ini. Dan mayoritas rakyat yang dibelenggu kebodohan, termasuk orang pintar yang bodoh setelah mahir menjadi penjilat, atau memang para penjilat sejati adalah korban kebiadaban dari sebuah realita artifisial ini.
Apa solusinya? Aku mengajukan sebuah ungkapan. Bukan ungkapan baru sih, sudah lama, dan sudah sejak zaman baheula. Yakni antimainstream. Antimainsteram sebenarnya hanyalah istilah bahasa untuk kebiasaan yang menyalahi kebiasaan umum. Perubahan hanya akan terjadi ketika ada perilaku antimainstream yang dipertahankan dengan konsisten sehingga ia menjadi mainstream baru menggantikan mainstream yang lama. Mumet? Tanya yang paham.
Dalam dua pemikiran pun demikian. Katanya sekarang kita dijajah pola pikirnya oleh barat. Tapi kita masih jadi konsumen setia media barat dan teori-teori barat. Fakta yang ditemukan dilapangan, banyak aktivis kampus (terlebih aktivis dakwah), masih buta shirah nabawiyah dan berbagai tarikh kejayaan Islam. Meskipun disindir para pembicara di setiap daurah hingga disuruh murabbi berkali-kali disetiap lingkaran inspiratif ternyata belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Akibatnya? Mudah tersulut berita-berita media. Katanya itu lebih hot ketimbang berita-berita langit yang termaktub di al-Quran dan langit sejarah kejayaan Islam.
Jika kaum yang digelar intelektual saja bermasalah dalam pemikirannya. Masih mainstream dengan kebanyakan orang yang awam seperti hari ini, bagaimana perubahan akan berjalan. Meskipun setiap training diteriakkan agen perubahan-agen perubaham ya hasilnya tetap nihil, wong yang teriak-teriak saja terminologi perubahannya masih mainstream. Hari ini menjadi orang Islam yang hanif itu antimainstream, tapi bukan berarti ia kriminal dan radikal, bukan pula liberal dan semaunya sendiri.
Fenomena uniknya orang yang memahami Islam hari ini bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri. Di satu sisi kita lihat orang yang begitu mudah akhirnya membantai kawan-kawannya sesama muslim dengan berbagai gelar kurang baik dengan alasan karena tidak selevel dengan mereka atau ada titik perbedaan dalam beberapa pemahaman. Di sisi yang lain kita lihat orang yang seenaknya menerjemahkan Islam dan menyebarkan berbagai pemikiran yang nyeleneh. Menurut pendapatku, dua hal ini menjadi mainstream dalam kapasitasnya masing-masing.
Maka sudah saatnya kita membiasakan berpikir antimainstream. Ini sangat tidak populer, bahkan mungkin tidak akan banyak diketahui orang. Tetapi mereka yang bertahan dalam idealisme mereka akan mengerti bahwa pola pikir ini lebih selamat karena tidak berlebihan dan merujuk pada akar mendasar dari pemikiran itu. Apalagi jika hal itu menyangkut sikap beragama kita, tentu kita bisa lebih bijak untuk memutuskannya.





