buku-blackwhitehack-01Apa yang terpikir di kepala Anda saat kata Hacker disebut? Sosok bertopeng yang misterius lagi mengerikan? Yang bawa komputer dan melalukan berbagai aksi sabotase seperti dalam film Die Hard 4? Bisa jadi bayangan Anda adalah sejauh apa yang Anda ketahui tentang sosok hacker itu sendiri.

Ceritanya aku beberapa hari lalu melihat beberapa koleksi buku yang kubeli saat ajang buku murah. Maklum, namanya Book Sale aku biasanya membeli tanpa mengamati terlebih dahulu secara detil tentang judul bukunya. Asal dijual 5 – 10 ribu dan ada kaitannya dengan minatku saat ini tentu langsung kugasak. Dan terjadilah beberapa buku koleksiku belum kubaca hingga beberapa waktu.

Buku yang baru kuselesaikan adalah Black Hacker vs White Hacker, Kisah Para Hacker Jenius-Gila dengan Reputasi Dunia dan Hacker Indonesia. Buku yang sudah masuk kamar lowakan iki ternyata menyajikan banyak informasi penting seputar dunia Hacker. Setidaknya persepsiku diluruskan bahwa Hacker itu adalah sebutan umum untuk orang yang membuat program komputer dan dia maniak terhadap hal itu. Perkara jadi Black atau White itu tergantung tujuan mereka membuat dan melakukan aksi atas kepandaian mereka.

Dengan definisi yang sederhana itu, maka kita akan segera mengenal Steve Jobs, Bill Gates, Linus Trovald, Mark Zuckerberg, Larry Page, Sergey Brin dkk yang menjadi jajaran para suhu hacker putih. Berkat jasa mereka perkembangan dunia internet saat ini bisa maju pesat. Banyak manfaat yang dapat didulang dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Sebaliknya kita juga akan mengenal legenda hacker hitam yang masih hidup di zaman ini, Kevin Mitnick. Dia bukan saja sebagai hacker yang berhasil membuat FBI kerepotan, bahkan BBM Presiden Obama berhasil dia sadap isinya. Dan hari ini dia sedang berjuang untuk kembali kepada jalan yang benar.

Hal terpenting yang kucatat dari buku ini adalah kekhasan para programmer yang telah memiliki reputasi mendunia baik sebagai hacker baik maupun hacker jahat. Tapi pada awalnya mereka adalah golongan antimainstream yang konsistem melakukan kerja-kerja produktif di tengah khalayak umum yang hanya membicarakan persoalan yang umum. Maka tidak heran jika pada waktu yang tepat mereka menjadi sosok yang terkenal kendati mereka sebenarnya tidak ingin terkenal.

Pilihan hidup seperti ini tentu berbeda sekali dengan para artis dan selebritis yang selalu memanfaatkan momentum untuk pencitraan. Bahkan hari ini jika ingin menjadi politisi konon juga harus menguasai ilmu artis, karena ketenaran mereka akan menjadi penentu tingkat keterpilihan dalam pemilu. Bagaimana dengan kerjanya? Simpulkan sendiri, masih banyak omong kosongnya bukan. Maka buku ini adalah pengingat bagi diriku yang pernah mengalami dunia aktivis mahasiswa untuk merenungkan kembali visi dan misi hidup ke depan sehingga doktrin sebagai agen perubahan itu benar-benar nyata dilakukan, bukan omong kosong yang didengung-dengungkan.

Ingin menjadi seperti apakah Anda? White Hacker atau BlackHacker? Terserah Anda.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.