Kategori
Misi Perubahan

Paradigma Baru Dakwah Kampus, Masuknya Warna Ilmi

Dakwah kampus, sebuah terminologi yang menghasilkan imajinasi sosok-sosok pemuda yang alim nan sholeh atau wanita-wanita berjilbab besar yang menunduk malu-malu. Atau juga imajinasi tentang kelompok-kelompok pengajian yang begitu populer di tahun-tahun pasca reformasi. Ah benarkah hanya seperti itu? Yang biasanya terlihat itulah yang tertangkap dan yang terekam. Tetapi jika pelakukanya hanya berimajinasi sebatas itu, maka itu masalah besar.

Di era awal-awalnya, para penggerak dakwah kampus adalah orang-orang yang tidak menjadikan kuliah sebagai orientasinya. Bahkan seandainya mereka bisa kuliah tanpa batas waktu mereka akan tetap kuliah. Karena tujuan utamanya bukan mencari nilai, apalagi predikat Cumlaude, tetapi menebarkan inspirasi dan menyinarkan kembali cahaya Islam di dada-dada generasi muda Islam yang kehilangan cahaya hatinya.

Kini zaman semakin berganti, peraturan kampus semakin ketat sehingga mereka yang dahulu berjasa dalam dakwah kampus tidak dapat lagi diteladani dalam hal kuliah lamanya. Dan barangkali hari ini tak banyak lagi orang yang sudi berkorban untuk kuliah lama-lama di kampus. Mungkin juga karena militansi kita hari ini tak sehebat mereka lagi, karena kita sudah banyak diliputi kepentingan akibat pengaruh kapitalisme yang semakin kentara tanpa tedheng aling-aling ini.

Maka ada inisiatif untuk membangun sektor dakwah kampus di bidang keilmuan agar tidak ada lagi kisah aktivis yang jeblog IP-nya dan lulusnya lama. Lalu muncul generasi baru di kalangan aktivis dakwah kampus yang lulusnya cepat, IP-nya bagus, dan menyumbang segudang prestasi. Muncul pula lembaga-lembaga keilmuan sebagai ruang aktualisasi para aktivis berprestasi ini. Yang jadi masalah adalah ternyata hal ini tidak beresonansi kepada kebanyakan aktivis yang lain. Parahnya, mereka larut dalam ekstase pencapaiannya, sedangkan yang lainnya malah berkata, “berprestasi itu kan tugas mereka yang di lembaga-lembaga ilmi“.

Itulah sejatinya keprihatinan yang muncul. Sebuah tanda nyata bagaimana kalangan aktivis pun masih banyak yang enggan untuk membaca tanda-tanda zaman untuk berubah. Di saat sebagian lain telah pragmatis dengan kuantisasi nilai sebagai akibat pengaruh pragmatisme kapitalistik, yang ini masih larut dalam nostalgia masa lalu para pendahulu yang hebat itu. Lho, bukankah pilihan mereka di masa itu karena mereka memang menjadi perintis. Sekarang kan sudah beda zaman, masak masih tetap seperti mereka. Mari kita perbarui paradigma kita.

Jika hari ini jadi aktivis dakwah kampus hanya bercokol di Rohisnya kampus, perluas dong. Jangan di LDK semua. Masukin semua lembaga kampus. Kita ukir prestasi dan kontribusi yang nyata dengan ide, pemikiran dan solusi yang kita hadirkan. Kita tidak sedang menjadi penyusup, tapi kita bersungguh-sungguh menampilkan cahaya Islam kepada generasi Islam yang mengalamai oglangan itu. Kita dilihat dari konten yang ada dalam diri kita, bukan dari klaim, apalagi masa lalu yang digembar-gemborkan. Masa lalu kita sudah jelas kegemilangannya, pendahulu kita juga telah jelas kemuliaannya. Bagaimana dengan kabar kita hari ini?

Mari kita sedikit hadirkan rasa malu atas apa yang baru kita capai hari ini. Jangan sampai kita terjebak dalam kesombongan klaim untuk diri kita sendiri. Apalagi kita membuat klaim bahwa kita yang paling shalih dan paling benar, sedangkan yang lainnya salah. Atau membuat terminologi aneh bahwa dia ikhwan dan yang sampingnya cowok. Itu konyol dan menandakan kerendahan ilmu kita.

Jika para muassis dakwah ini sukses meletakkan landasannya, haruskan kita membiarkan dakwah ini runtuh hanya karena kita enggan bangkit dan berubah.

Hari ini, era keilmuan di dakwah kampus dimulai. Apakah Anda di politik, sosial, dan keagamaan, aktivis dakwah kampus haruslah membangun capaian yang baik ditunjukkan dengan karya nyata yang diakui oleh semua. Kita buktikan bahwa kaum muslimin adalah orang-orang unggul yang berprestasi.

Kategori
Dakwah Islam

Aktivis Dakwah Kampus Masa Kini

Bagi teman-teman yang aktif di lingkaran kerohanian Islam tentu tidak asing lagi dengan istilah dakwah sekolah maupun dakwah kampus. Hal itu bagaikan makanan sehari-hari yang begitu bangga disandang dengan segala kekhasan karakternya. Menjadi aktivis dakwah sekolah kemudian aktivis dakwah kampus memberikan nilai kebanggaan tersendiri.

Namun seringkali persepsi yang salah timbul di kemudian hari adalah adanya anggapan bahwa aktivis dakwah itu eksklusif. Tentu istilah ini harus dijelaskan secara gamblang agar tidak timbul multipersepsi di kalangan kita. Jika eksklusif dalam arti karena memiliki keunikan di mana pun berada selalu shalat tepat waktu, tilawah dan menghindari hal-hal yang tidak diperkenankan oleh syariat maka tentu itu sudah hal yang sewajarnya dan seharusnya. Tetapi jika eksklusif ini dimaksudkan untuk melabeli golongan tertentu atau karakter tertentu dari personal yang menyandang status aktivis dakwah tentu masalahnya terletak pada kepahaman personal terhadap dakwah itu sendiri.

Anggapan bahwa bergabung di lembaga dakwah cenderung kaku dan tidak dinamis maka itu adalah tantangan bagi setiap aktivis untuk selalu menghadirkan nuansa bersahabat bagi semua. Bahwa adanya dakwah kampus adalah untuk menghindarkan para pemuda-pemudi pacaran, maka solusi untuk bisa nikah cepat atau berkarya yang lain harus diupayakan. Bahwa adanya dakwah kampus adalah untuk menghidupkan lagi kesadaran politik mahasiswa untuk menjayakan Islam, maka solusi untuk menghadirkan sisi keadilan dan keindahan Islam harus hadir dari pribadi-pribadi yang telah berjanji mengusung dakwah kampus ini.

Platform dakwah kampus kita jelas, menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan kampus agar mahasiswa muslim mencintai agamanya dan beramal dengan benar, sadar akan realita politiknya dan bergerak untuk bersama-sama untuk mewujudkan kemenangan Islam. Maka tantangannya adalah seberapa cerdas dan bijak kita menghadirkan nuansa kenyamanan itu untuk sahabat-sahabat kita di kampus yang memiliki ribuan variasi pola pikir agar terpanggil untuk belajar dan memandang pada visi yang sama.

Lembaga, program kerja, dan segala hal yang kita upayakan sesungguhnya hanya instrumen. Tetapi kepahanan di kepala kita, dan kemantapan visi kita pada masa depan itulah yang sesungguhnya akan mendorong kita untuk giat belajar dan berkembang menjawab tantangan dakwah. Bukan hanya menunggu suapan senior atau menjadi pembangkang yang hanya suka protes dan minta dilayani dengan segala hal yang sesungguhnya merupakan kenyamanan semu. Yang namanya perjuangan pasti menuntut pengorbanan pikiran, harta, dan waktu. Termasuk di dalamnya terkandung makna keberanian untuk bersuara dan berstrategi.

Jika hari ini kita merasa jenuh dengan dakwah yang kita perjuangkan. Sesungguhnya kita telah berkhianat pada fitrah kita untuk belajar dan melakukan perubahan. Kita telah mematikan diri kita sendiri dari melihat masa depan Islam. Maka Islam akan jaya baik dengan ada atau tidaknya kita. Karena kejayaan Islam adalah janji Allah, dan janji Allah adalah benar.

Silahkan pilih? Mau ribut melulu. Saling ejek di media dan berbagai sarana yang dilihat orang banyak. Atau terus bergerak dan saling memberi surat cinta untuk mengingatkan sesama saudara serta melapangkan dada untuk memberikan kemaafan. Maka kupilih yang kedua. Karena itu lebih menentramkan. Bagaimana dengan kalian?