Siang tadi saat shalat Jumat di masjid dekat markas blogger aku mendapati seorang khatib yang sangat bagus. Paparan khutbahnya cukup mendalam untuk para kaum intelektual. Runtut, jelas dan sangat enak di dengarkan. Tidak bikin mengantuk pokoknya. Materinya adalah refleksi Ramadhan sebagai bulan untuk membentuk kesadaran pribadi.

Namun sayang, peserta shalat jumat kebanyakan adalah para pekerja dan anak-anak muda daerah itu yang selain waktu jumat mereka tak pernah datang di masjid itu. Bahasa-bahasa yang dipakai sang khatib sangat indah dengan kombinasi bahasa Arab dan Inggris. Bagi kami yang telah mengenyam pendidikan tinggi tentu paparan itu bukan menjadi sebuah masalah. Tapi bagaimana dengan para pekerja dan pemuda yang mereka mungkin baru memilik taraf kesadaran untuk datang ke masjid sepekan sekali ?

Di lain kesempatan, salah satu kawan blogger ada yang cerita ada khatib yang justru tidak banyak mengingatkan tentang iman dan takwa, tetapi justru membahas masalah pemilu dan melarang kaum muslimin ikut pemilu dengan berbagai dalil di tengah kondisi masyarakat yang secara dasar pemahaman tidak jelas seperti hari ini. Ah, prioritas khutbahnya malah tidak jelas. Atau bahkan pernah juga seorang tokoh yang diakui oleh bangsa ini pun pernah berkhutbah di sebuah masjid kampus namun dia tidak memperhatikan rukun khutbah sehingga beberapa jamaah yang memperhatikan (tidak tidur) selama khutbah berkonsultasi dengan ustadz apakah shalat mereka sah atau tidak.

Lagi-lagi ini menyangkut prioritas materi dan titik tekan yang seharusnya dipikirkan para khatib ketika memberikan khutbah jumat. Jika di masa lalu Rasulullah mengajarkan khutbah itu penuh semangat dengan nada yang garang untuk menggugah para jamaahnya, bagaimana dengan hari ini yang terkadang sudah khutbahnya lama suaranya mendayu-dayu sehingga banyak jamaah yang menikmati tidur mereka dalam duduk. Efektivitas materi adalah kunci kesuksesan ibadah Jumat di mana khutbahnya relatif singkat dari pada shalat jumatnya.

Ternyata PR umat ini makin terlihat banyak saja. Jika dulu hanya diwacanakan saat aku masih belum mengerti tentang hal-hal seperti itu, kini rasanya itulah titik masalah yang sebenarnya akan mencapai ke akarnya yakni sudah seberapa seriuskan umat Islam memperhatikan pendidikannya dan sudah seberapa sungguh-sungguhkah umat Islam berdamai dengan berbagai perbedaan pada masalah perbedaan di cabang fikih dan yang serupa dengan itu.

Mungkin saja awetnya aliran-aliran pergerakan Islam yang sebenarnya akidahnya sama-sama ahlussunnah wal jamaah adalah bukti bagaimana egoism masih menghinggapi umat Islam hari ini untuk saling berebut pengaruh dan potensi umat yang sebenarnya bisa disatukan untuk kemaslahatan umat. Bisa jadi pula ini indicator seberapa dewasanya umat Islam hari ini menyikapi perbedaan dan membuat prioritas masalah, masalah mana yang harus didahulukan dan mana yang terkemudian. Apakah kita tidak khawatir jika Syiah semakin kuat merusak akidah kaum muslimin, belum lagi aliran-aliran sesat yang lain yang mengatasnamakan Islam terus menjamur dan merusak di negeri ini sehingga konflik di akar rumput akan terus terjadi.

Ternyata efektivitas khutbah sang khatib itu dapat menjadi indikator dinamika perbaikan umat Islam di negeri ini. Yuk optimis untuk terus mengejar prestasi kebaikan!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.