Kategori
Dakwah Islam

Wibawa Sang Khatib

Shalat Jumat, begitulah amalan yang ada dihari paling mulia di antara hari-hari yang dilalui umat Islam. Ibadah pekanan yang diwajibkan bagi kaum laki-laki ini saat ini sudah mengakar sebagai tradisi di kalangan bangsa Indonesia dan umat Islam di penjuru dunia. Saya katakana tradisi karena di banyak perjalanan yang pernah kulalui, di masjid-masjid yang kusinggahi, shalat Jumat tak lebih sebagai ritual pekanan, dengan jamaah yang ketiduran dan khatib yang jauh dari nuansa membangkitkan.

Jika menelisik pada kitab-kitab fiqih tentang shalat Jumat, seperti pada kitab-kita induk hadits, atau Bulughul Maram, atau yang terbaru ditulis oleh Syaikh Al-Albani, sang khattib memiliki peranan penting dalam membuat nuansa shalat Jumat sebagai pembangkit semangat umat Islam yang tengah dilanda gelombang ujian. Rasulullah sendiri mencontohkan bagaimana beliau berkhutbah dengan penuh semangat sehingga hampir bisa dipastikan tidak ada satu pun jamaah yang menikmati duduknya dengan tidur pulas atau bahkan bermimpi indah bertemu bidadari.

Ini adalah tentang sesuatu yang hilang saudaraku. Negeri ini memiliki ribuan masjid dan jutaan umat Islam. Tetapi masih banyak masjid yang ditelantarkan, masih banyak umat Islam yang tidak peduli dengan masjidnya. Dan realita shalat Jumat hanyalah salah satu problematika yang sudah umum kita jumpai di desa-desa, khatib-nya itu-itu saja, buku yang dibaca dari tahun ke tahun yang itu-itu saja dan cara penyampaiannya ya begitu-begitu saja.

Sudah saatnya generasi muda untuk belajar, melakukan pendekatan kepada generasi tua, saling berbagi pandangan. Yang muda berkomunikasi dengan bahasa yang hormat, yang tua juga menyadari bahwa hari ini tidak ada salahnya kebo nusu gudel. Demi kebangkitan umat Islam, demi terbangunnya semangat mereka untuk bangkit. Agar tidak bodoh dan malas. Agar tidak terus menjadi kaum konsumtif yang semakin kacau karena arus westernisasi yang kebablasan, bukan lagi melakukan adopsi tapi imitasi yang tak karuan.

Umat Islam tetaplah umat yang memiliki jatidiri sendiri. Jika setiap umat Islam paham, mereka bukanlah sosok yang beringas seperti yang sering tersiar melalui media tentang Afghanistan dan negeri-negeri timur tengah yang sedang perang. Atau tentang pembantaian berdarah yang kerap dihembuskan oleh orang-orang yang tidak senang dengan kemuliaan Islam. Jika Anda bukan seorang muslim atau masih merasa awam tentang Islam dan ingin serius belajar tentang Islam, cobalah untuk sedikit terbuka dan bertanya kepada orang-orang yang mengerti betul tentang Islam, yakni yang selalu berpegang pada Quran dan Sunnah dan berakhlak seperti para pendahulunya, bukan mereka yang liberal dan asal-asalan.

Tentang sang Khatib tadi, sudah saatnya ada perubahan kurikulum khutbah Jumat dan sudah saatnya pemuda bersiap untuk meneruskan khatib-khatib yang telah lama berjasa itu.

Kategori
Dakwah Islam

Efektivitas Khutbah Sang Khatib

Siang tadi saat shalat Jumat di masjid dekat markas blogger aku mendapati seorang khatib yang sangat bagus. Paparan khutbahnya cukup mendalam untuk para kaum intelektual. Runtut, jelas dan sangat enak di dengarkan. Tidak bikin mengantuk pokoknya. Materinya adalah refleksi Ramadhan sebagai bulan untuk membentuk kesadaran pribadi.

Namun sayang, peserta shalat jumat kebanyakan adalah para pekerja dan anak-anak muda daerah itu yang selain waktu jumat mereka tak pernah datang di masjid itu. Bahasa-bahasa yang dipakai sang khatib sangat indah dengan kombinasi bahasa Arab dan Inggris. Bagi kami yang telah mengenyam pendidikan tinggi tentu paparan itu bukan menjadi sebuah masalah. Tapi bagaimana dengan para pekerja dan pemuda yang mereka mungkin baru memilik taraf kesadaran untuk datang ke masjid sepekan sekali ?

Di lain kesempatan, salah satu kawan blogger ada yang cerita ada khatib yang justru tidak banyak mengingatkan tentang iman dan takwa, tetapi justru membahas masalah pemilu dan melarang kaum muslimin ikut pemilu dengan berbagai dalil di tengah kondisi masyarakat yang secara dasar pemahaman tidak jelas seperti hari ini. Ah, prioritas khutbahnya malah tidak jelas. Atau bahkan pernah juga seorang tokoh yang diakui oleh bangsa ini pun pernah berkhutbah di sebuah masjid kampus namun dia tidak memperhatikan rukun khutbah sehingga beberapa jamaah yang memperhatikan (tidak tidur) selama khutbah berkonsultasi dengan ustadz apakah shalat mereka sah atau tidak.

Lagi-lagi ini menyangkut prioritas materi dan titik tekan yang seharusnya dipikirkan para khatib ketika memberikan khutbah jumat. Jika di masa lalu Rasulullah mengajarkan khutbah itu penuh semangat dengan nada yang garang untuk menggugah para jamaahnya, bagaimana dengan hari ini yang terkadang sudah khutbahnya lama suaranya mendayu-dayu sehingga banyak jamaah yang menikmati tidur mereka dalam duduk. Efektivitas materi adalah kunci kesuksesan ibadah Jumat di mana khutbahnya relatif singkat dari pada shalat jumatnya.

Ternyata PR umat ini makin terlihat banyak saja. Jika dulu hanya diwacanakan saat aku masih belum mengerti tentang hal-hal seperti itu, kini rasanya itulah titik masalah yang sebenarnya akan mencapai ke akarnya yakni sudah seberapa seriuskan umat Islam memperhatikan pendidikannya dan sudah seberapa sungguh-sungguhkah umat Islam berdamai dengan berbagai perbedaan pada masalah perbedaan di cabang fikih dan yang serupa dengan itu.

Mungkin saja awetnya aliran-aliran pergerakan Islam yang sebenarnya akidahnya sama-sama ahlussunnah wal jamaah adalah bukti bagaimana egoism masih menghinggapi umat Islam hari ini untuk saling berebut pengaruh dan potensi umat yang sebenarnya bisa disatukan untuk kemaslahatan umat. Bisa jadi pula ini indicator seberapa dewasanya umat Islam hari ini menyikapi perbedaan dan membuat prioritas masalah, masalah mana yang harus didahulukan dan mana yang terkemudian. Apakah kita tidak khawatir jika Syiah semakin kuat merusak akidah kaum muslimin, belum lagi aliran-aliran sesat yang lain yang mengatasnamakan Islam terus menjamur dan merusak di negeri ini sehingga konflik di akar rumput akan terus terjadi.

Ternyata efektivitas khutbah sang khatib itu dapat menjadi indikator dinamika perbaikan umat Islam di negeri ini. Yuk optimis untuk terus mengejar prestasi kebaikan!