Salah satu hal yang menjadi pelajaran penting sejak aku mulai menghilang dari dunia keaktivisan kampus adalah menjadi bagian dari bayang-bayang. Yah, menjadi bayang-bayang. Mungkin juga aku orang yang suka kepo untuk melihat banyak realitas, untuk disimpan sendiri, atau diremiks menjadi kisah-kisah untuk dibagikan tanpa harus membongkar keberadaan yang bersangkutan. Naluri detektif yang mungkin tidak terlalu cerdas ini setidaknya membuatku semakin banyak belajar agar tidak menjadi bagian dari opini orang. Karena hakikatnya kita harus bertanggung jawab pada diri sendiri.

Beraktivitas bersama komunitas yang unik, kumpul dengan para blogger, sering berinteraksi dengan para difabel, secara tidak sengaja nguping diskusi masyarakat saat di angkringan atau melihat realita jalanan (dibanding dengan realita di negara maju dan angan-angan mimpi Indonesia damai dari pelajaran kewarganegaraan sejak SD) menimbulkan kegundahan luar biasa untuk terus menerus kucari obatnya.

Aku rasa jawaban itu telah tersedia dalam al Quran, yakni tak berprasangka buruk dan terus bertabayyun (mencari keterangan). Hampir-hampir hari ini setiap hari kita akan selalu diributkan dengan isu seputar politik, gosip masalah artis, dan berita-berita yang tidak penting tentang keunikan yang terkadang memang itu adalah representasi kekacauan masyarakat karena sudah bosan dengan kehidupan glamor yang ditawarkan saat ini. Krisis politik di berbagai negara (padahal negeri kita tak kalah hebat krisinya, beruntunglah orang Indonesia itu heterogen : ada yang pemaaf, ada yang cuek, ada yang rame-rame, ada yang hippies, ada yang ABS, ada yang macem-macem lah), membuat banyak kepala beradu argumentasi dan “memamerkan karya intelektualitas” mereka yang kalau salah terkadang menjadi bulan-bulanan media.

Aku iri pada mereka yang berhasil menjalani hidup ini dengan prasangka baik yang penuh, sejak awal hingga sempurnanya amal mereka. Di tengah sesuatu hal yang serba mencurigakan hari ini, orang-orang yang berhasil membangun pemikiran positif dan prasangka yang baik pada dirinya tentu menjadi orang yang paling beruntung. Yah, bahkan dia sanggup meleburkan banyak hati yang keras lantaran dirinya tidak terlalu ekstrim dalam sikap waspada. Atau bahkan mereka akan sangat damai ketika ternyata ada kawan yang berkhianat padanya yang selama ini baik dalam prasangkanya.

Di hari-hari yang berat penuh fitnah ini, pilihan terbaik mungkin memang berprasangka sebaik mungkin pada setiap orang yang belum dikenal. Jika ada kabar buruk, maka sebaiknya sibuk klarifikasi dan bukan beropini. Karena kalau pun kita celaka, setidaknya kita tidak membuat kedustaan pada diri kita atas prasangka buruk di kepala kita, karena kita akan dimudahkan untuk berkata, “inilah yang Allah tetapkan untuk saya”.

Berpikir positif, optimis, dan berprasangka baik, memang berat, aku pun merasakan betapa beratnya hal itu. Tapi pasti kita bisa melakukannya kawan! Ada banyak orang bijak yang selama ini tersembunyi, yang tak akan bercerita kecuali dia berkehendak, yang tidak akan terlihat kebijaksanaannya kecuali kita bertemu momentumnya. Di era yang semakin rumit algoritmanya ini, maka mari kita gunakan pendekatan FFT (bukan Fast Fourier Transform tetapi Fresh and Features Thinking) yang paling efisien saja

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.